SEMANGATNEWS.COM – Dunia seni rupa dan kerajinan sejak lama hingga kini di Tanah Air tak pernah kering dari penemuan dan ide-ide baru serta menarik untuk diangkat kepermukaan menjadi sesuatu yang bernilai, baik dari aspek estetik maupun tujuan dan fungsinya di tengah-tengah masyarakat pengguna/pemakai produk tersebut.
Jika selama ini kap lampu hias, pembatas ruang atau bahkan kursi ruang tamu terbuat dari kayu, rotan atau bambu merupakan sesuatu yang lumrah dan sudah umum kita saksikan dimana pun tempat dan lokasinya di tanah air. Tetapi membuat kap lampu, pembatas ruang atau bahkan kursi dengan memanfaatkan ransam pakis (paku-istilah Minang-red) baru pertama kali dibuat di Sumatera Barat bahkan di Indonesia.
Hal itulah yang dilakukan Jarot (59 th) penduduk Parak Laweh, Lubuk Begalung Padang di “Studio Seni Ransam Pakis”, Jalan Raya Parak Laweh No. 9 Padang, Jumat (11/2).
Menurut Jarot kegiatan memanfaatkan limbah pakis yang sudah berumur tua untuk dimanfaatkan itu dirintis baru seumur jagung persisnya belum mencapai setahun lamanya, karena sebelumnya Jarot menekuni usaha budidaya jamur di Parak Laweh, Gang Kuburan, Lubuk Begalung, Padang. Budidaya jamur ini tetap jalan tapi agak sedikit melambat karena kondisi covid.19 sehingga konsumen berkurang.

Mengisi kekosongan waktunya, Jarot tidak kehilangan akal, kemauan keras melihat peluang “ransam pakis” yang selama ini hanya sebagai limbah tak berarti saya coba mengeksplorasi menjadi sesuatu yang menarik, enak dipandang mata dan fungsinya. Apalagi ia berdiskusi dengan sejumlah teman-temannya dengan basic seni termasuk keponakannya Hendry Lesmana (49 th) yang juga berdarah seni rupa.
“Pakis, ternyata luar biasa dengan sentuhan seni menarikdiolah menjadi kap lampu hias, dimana bahan tambahan selain ransam pakis juga memanfaatkan kertas keras bekas gulungan kain ball dan kulit rotan untuk memperkuat/memperkokoh bentuk kap lampu, pembatas ruang maupun kursi agar kokoh dan tahan dengan berbagai cuaca, bahkan apa yang saya buat ini baru pertama kali ada di Sumatera Barat bahkan di Indonesia, karena selama ini orang melihat limbah ransam pakis sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat,” ujar Jarot.
Bermodal seadanya serta kemauan dan kerja keras, saya mencoba terus menjalin kerjasama dengan sejumlah masyarakat untuk terus mengumpulkan limbah ransam pakis kering yang banyak ditemui di hutan Pesisir Selatan bahkan di kota Padang sendiri dan mungkin juga dibanyak hutan di Sumatera Barat.
“Selain itu juga untuk mengatur bentuknya agar lebih indah sya mempergunakan bekas gulungan kain bal dan kulit rotan,’ ujar Jarot.
Khusus kap lampu hias baik berukuran besar, sedang maupun kecil saya hanya mengatur tempat listrik, kabel dan colokan ke dinding dimana ia di pasang, ujar Jarot lagi.
Bahkan saat mencoba duduk di kursi berbahan potongan ball kain yang banyak terbuang di tempat-tempat penjual kain meteran terlihat sangat kokoh dengan tali ikatan kulit rotan melingkari potongan ball sesuai kebutuhan kursi.
Saat ditanya kemana saja ia pasarkan kap lampu, pembatas ruang dan kursi antik berbahan limbah itu, Jarot menyebutkan saat ini sudah ada pemesan individu dan pihak Bank pemerintah yang memesan terutama jenis kamp lampu, karena produksi saat ini masih terbatas, jelasnya lagi.
Berapa harganya pancing untuk kap lampu besar senilai 300 ribu rupiah, kap lampu dinding 150 ribu rupiah dan lampu sudut 450 ribu rupiah harga tersebut sudah termasuk kabel, bola lampu dan colokan ke listrik, ujar Jarot memberi penjelasan. (IM/ZL)
