Saudaraku di Daerah Khusus Ibukota Jakarta;
Izinkan Saya menulis surat terbuka ini, walaupun saya tahu tidak akan dibaca banyak orang. Namun setidaknya saya telah berbuat sesuai kemampuan yang saya miliki.
Saudaraku, walapun kita bukan satu RT, bukan satu RW bahkan bukan satu wilayah, namun itu bukanlah sesuatu yang menghalangi kita tidak bersaudara. Dasar kita bersaudara adalah; keyakinan kita sama, agama kita sama. Kiblat kita sama yaitu Makkah Al Mukaramah. Karena kita sama sama ummat islam maka itulah membuat kita bersaudara.
Sesama bersaudara, tentu saja kita boleh berkoresponden satu sama lainnya. Tidak ada yang kita langgar di dalam kita berkomunikasi apa lagi saling mengingatkan tentang sesuatu yang perlu diingatkan. Sebab penganut agama lain juga akan berbuat demikian.
Saudaraku, tak lama lagi, tepatnya 19 April 2017 anda sebagai warga akan menentukan pilihan tentang siapa yang akan menjadi nakhoda DKI. Pilihan itu hanya tinggal dua yakni Anies-Sandi atau Basuki-Djarot.
Sebelumnya pada putaran pertama ada 3 pilihan, namun pasangan Agus-Silvy tersingkir karena perolehan suaranya jauh di bawah target. Hanya berkisar 17 persen . Agus dengan kesatria mengakui keunggulan dua lawannya.
Saudaraku, saya kembali pada pokok persoalan dimana saudara akan menentukan pilihan.Sebelum besok pagi menyingsing, Rabu 19 April, lakukan sholat sunat mohon petunjuk dalam menetukan pilihan.Agama kita sangat menganjurkan apabila kita sulit menentukan pilihan.
Saudaraku, sebenarnya, bila kita sejenak menggunakan logika, tak sulit amat menjatuhkan pilihan. Sebab dari dua pasang yang dipilih sudah terang benderang mana yang kita percaya dan yakini. Apalagi dikaitkan dengan keyakinan mayoritas warga DKI yang tidak diragukan lagi.
Saudaraku, jangan terpedaya atau terpengaruh dengan permainan akrobat elit politik. Mereka, elit politik itu hanya memikirkan sesaat tentang sesuatu yang mereka tuju. Dalam politik tak ada kawan atau lawan yang abadi.
Semua diukur dan dilihat dari sudut kepentingan.Politik juga alat untuk mencapai tujuan tertentu. Begitu tujuannya telah tercapai maka alat tadi bisa saja dikesampingkan lagi.
Lihat contoh wakil rakyat, begitu usai pemilu legislatif, segala komunikas harus diputus. Memekiklah ke langit, mereka tidak akan mendengarkan. Itulah politik.
Saudara ku, pilkada DKI bukan sekedar helat demokrasi, bukan sekedar dukung mendukung seperti yang dilakukan sejumlah partai. Tetapi ini adalah pertaruhan keyakinan. Bila keyakinan kita lemah, maka ujungnya keimanan kita lemah. Bila keimanan lemah, maka kita tidak peduli siapa lagi pemimpin kita.Bila aqidah sudah terjual, maka saya sangat prihatin dengan nasib saudaraku di DKI.
Gelombang pilkada DKI adalah juga beriak ke seantero nusantara. Sedikit banyak pasti berdampak kepada daerah lain di Indonesia.Bukankah DKI itu barometernya Indonesia.Jika iya, maka segala sesuatunya daerah lain pasti menjadikan DKI sebagai rujukan.Aman pilkada DKI dapat dipastikan aman pula pemilu 2019.
Olehkarena itu, saudaraku yang di DKI, anda juga bertanggungjawab akan keamanan wilayah Indonesia lainnya.
Saya menyarankan pilihlah sesuai dengan keyakinan dan hati nurani. Jangan terpengaruh dengan iming iming yang hanya membuat anda menyesal berkepanjangan. Selamat memilih Saudaraku. Jayalah DKI dengan pemimpin pilihan warganya.
Wassalam
Zulnadi

Iya, saya sangat setuju dengan isi surat bang zul, semoga banyak warga jakarta yang membaca surat ini dan tergugah hatinya, tersadar dari kekhilafannya selama ini karena kodrat manusia itu memang kadang khilaf dan salah.