Jakarta, Semangatnews.com – Dugaan penipuan yang dialami penyanyi Tantri Syalindri meninggalkan luka yang lebih dalam daripada sekadar kerugian materi. Vokalis band Kotak itu mengaku masih berusaha memulihkan kondisi psikologisnya setelah mengetahui orang yang selama ini dipercaya diduga terlibat dalam kasus tersebut.
Tantri mengungkapkan bahwa dirinya sempat sulit menerima kenyataan tersebut. Baginya, rasa percaya yang telah dibangun selama bertahun-tahun justru menjadi celah yang diduga dimanfaatkan oleh pelaku.
Kasus itu disebut melibatkan sejumlah korban lain dengan nilai kerugian keseluruhan mencapai sekitar Rp10 miliar. Kondisi tersebut membuat Tantri merasa perlu menyampaikan persoalan ini kepada publik agar masyarakat lebih waspada.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama membuka kasus tersebut bukan untuk mencari sensasi, melainkan mencegah munculnya korban-korban baru yang mungkin mengalami modus serupa.
Di tengah situasi yang sulit, Tantri memperoleh dukungan penuh dari keluarga, terutama sang suami. Kehadiran keluarga dinilai menjadi faktor penting yang membantunya tetap kuat menghadapi tekanan emosional akibat peristiwa tersebut.
Selain kehilangan dana yang telah dipersiapkan untuk masa depan anak-anaknya, Tantri mengaku mengalami penurunan kondisi mental. Rasa kecewa dan tidak percaya masih dirasakannya hingga kini.
Bersama korban lainnya, Tantri kini tengah mengoordinasikan langkah hukum untuk melaporkan dugaan penipuan tersebut kepada aparat penegak hukum. Ia berharap seluruh proses dapat berjalan secara transparan dan memberikan keadilan bagi semua korban.
Menurut Tantri, penyelesaian melalui jalur hukum menjadi bentuk tanggung jawab agar persoalan tersebut tidak berhenti hanya sebagai cerita di media sosial. Ia ingin kasus tersebut memperoleh penanganan sesuai aturan yang berlaku.
Kasus yang dialami Tantri juga menjadi pelajaran penting mengenai perlunya kehati-hatian dalam mengelola investasi maupun kerja sama keuangan. Hubungan pertemanan yang dekat tidak selalu dapat dijadikan satu-satunya dasar kepercayaan.
Berbagai pihak memberikan dukungan moral kepada Tantri agar dapat segera pulih dari dampak psikologis yang dialaminya. Banyak pula yang berharap proses hukum dapat mengungkap fakta secara menyeluruh sehingga memberikan kepastian bagi para korban.
Tantri berharap pengalaman pahit yang dialaminya dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk selalu melakukan pengecekan secara menyeluruh sebelum menempatkan dana dalam bentuk investasi atau kerja sama apa pun, sekalipun ditawarkan oleh orang yang telah lama dikenal.(*)

