Jakarta, Semangatnews.com – Pemerintah terus memperkuat agenda transisi energi dengan menyiapkan serangkaian kebijakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak. Setelah menargetkan penghentian impor solar, pemerintah kini mulai mengarahkan perhatian pada pengurangan impor bensin melalui pengembangan bioetanol E20.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan keberhasilan program biodiesel B50 menjadi landasan penting untuk melanjutkan transformasi energi nasional menuju penggunaan bahan bakar yang lebih banyak berasal dari sumber daya domestik.
Menurut Bahlil, konsumsi bensin nasional saat ini mencapai sekitar 40 juta kiloliter per tahun, sedangkan produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 juta kiloliter. Akibatnya, separuh kebutuhan bensin masih dipenuhi melalui impor.
Melalui penerapan campuran bioetanol sebesar 20 persen atau E20, pemerintah memperkirakan volume impor bensin dapat ditekan secara bertahap. Kebijakan tersebut ditargetkan mulai diterapkan hingga 2028 sebagai bagian dari strategi jangka menengah sektor energi.
Selain menghemat devisa negara, penggunaan bioetanol juga diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian yang menjadi bahan baku produksi etanol di dalam negeri.
Pemerintah menilai sejumlah negara seperti Brasil dan Amerika Serikat telah membuktikan bahwa pemanfaatan bioetanol mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Di samping program biofuel, Kementerian ESDM juga terus mendorong peningkatan produksi minyak melalui optimalisasi sumur-sumur eksisting, percepatan pengembangan lapangan migas, serta eksplorasi wilayah kerja baru.
Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan lifting minyak nasional sehingga pasokan energi domestik semakin kuat dan kebutuhan impor terus menurun dari tahun ke tahun.
Pemerintah juga menegaskan bahwa transformasi sektor energi tidak hanya berorientasi pada pengurangan impor, tetapi juga pada pembangunan industri energi yang lebih berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dengan berbagai program yang tengah dijalankan, pemerintah optimistis Indonesia mampu memperkuat kemandirian energi melalui peningkatan produksi dalam negeri, pemanfaatan energi terbarukan, dan pengurangan ketergantungan terhadap impor BBM.(*)

