Taliban Tangkap Empat Pemuda Herat Gara‑gara Dandan Ala Peaky Blinders — Konflik Antara Ekspresi dan Aturan Moral

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Empat pria muda di kota Herat diciduk oleh aparat moralitas di bawah pemerintahan Taliban karena “bergaya ala Peaky Blinders” — serial televisi asal Inggris yang terkenal dengan estetika gangster tahun 1920-an. Keempat pria itu mengenakan jas panjang, topi datar, dan setelan ala karakter dalam serial tersebut, yang dianggap oleh Taliban sebagai bentuk “promosi budaya asing” dan pelanggaran terhadap nilai agama serta tradisi lokal.

Kejadian ini terjadi setelah sejumlah foto dan video mereka beredar luas di media sosial Afghanistan. Dalam konten itu, mereka berjalan bersama di jalanan kota Jebrael, Herat, dengan penampilan mencolok dan seragam, sehingga menarik perhatian banyak warga dan warganet. Mereka bahkan sempat dijuluki “Jebrael Shelbys” sebagai plesetan dari nama keluarga fiktif di serial tersebut.

Menurut juru bicara Kementerian untuk Penyiaran Kebajikan dan Pencegahan Kemaksiatan—institusi yang menjadi penegak moral Taliban—aksi para pemuda itu dianggap melanggar “nilai Islam dan budaya Afghanistan”. Pakaian ala Barat seperti yang dipakai disebut tidak memiliki identitas tradisional dan dianggap negatif.

Taliban mengklaim bahwa empat pemuda tersebut sempat dipanggil untuk “bimbingan moral” dan kemudian dilepaskan setelah menjalani program rehabilitasi. Meski demikian, rumor di kalangan warga menyebut bahwa penangkapan dan interogasi sempat berlangsung dengan tekanan; salah satu dari mereka dalam video yang dilepas Taliban pun terlihat mengucapkan permintaan maaf.

Salah satu dari mereka mengaku bahwa gaya berpakaian itu hanyalah bentuk apresiasi terhadap mode dan estetika serial — bukan upaya menantang otoritas atau nilai agama. Ia bahkan menyebut bahwa komentar dari warga lokal pada awalnya banyak mendukung dan menganggap gaya tersebut unik serta menarik.

Namun pihak berwenang menyatakan bahwa pengaruh budaya asing — apalagi yang dianggap “barbar” atau “melanggar syariat” — harus ditekan demi menjaga identitas nasional dan moral masyarakat. Bagi Taliban, kebebasan berekspresi dibatasi oleh interpretasi agama serta norma sosial yang ketat.

Kasus ini memantik pro dan kontra, terutama di kalangan warganet dan komunitas internasional. Banyak yang mengecam tindakan Taliban sebagai bentuk represi terhadap kebebasan berekspresi dan upaya pengekangan identitas generasi muda. Sejumlah komentar menyebut bahwa larangan semacam ini bisa mematikan kreativitas dan membatasi hak asasi manusia.

Di sisi lain, Taliban mempertahankan argumennya bahwa sebagai negara dengan identitas religius dan tradisional, mereka berkewajiban menjaga norma serta melindungi masyarakat dari “degradasi moral”. Pakaian, gaya hidup, dan hiburan dianggap bagian dari “pertarungan budaya” antara dunia modern/global dengan nilai lokal.

Insiden “Peaky Blinders” ini bukan yang pertama. Sejak kembali berkuasa di Afghanistan, Taliban sudah beberapa kali menegakkan aturan ketat terhadap gaya berpakaian, musik, hiburan, serta aspek budaya lain — seringkali menimbulkan kritik kuat dari komunitas internasional dan hak asasi manusia.

Bagi banyak pemuda di Afghanistan, tindakan ini menjadi pengingat bahwa kebebasan ekspresi kini berada di bawah pengawasan ketat. Penonton serial dan pecinta budaya global harus menimbang ulang cara mereka menyalurkan kreativitas — bahkan sekadar lewat mode, bisa berisiko mendapat sanksi.

Dengan demikian, kasus ini memperlihatkan ketegangan mendalam antara aspirasi generasi muda yang ingin mengeksplorasi dunia global dan kehati‑hatian rezim untuk mempertahankan identitas lokal berdasarkan nilai agama. Publik global kini menyimak dengan cemas — apakah ini akan membuka diskusi lebih luas tentang kebebasan berekspresi, atau justru memperkuat kontrol sosial lewat norma ketat.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.