Jakarta, Semangatnews.com – Yasser Abu Shabab, pemimpin milisi anti‑Hamas di Gaza, tewas pada 4 Desember 2025, menandai babak baru dalam konflik internal Palestina serta menunjukkan rapuhnya eksistensi kelompok pro‑Israel yang dibentuk sebagai lawan Hamas.
Popular Forces dibentuk sejak Mei 2024 dan semula berangkat dari apa yang disebut “unit kontra-terorisme lokal.” Namun dalam perkembangannya, kelompok ini menjadi milisi bersenjata yang dikatakan menerima dukungan dari Israel — senjata, logistik, dan dukungan finansial.
Keberadaan mereka mulai menarik perhatian global setelah klaim bahwa milisi ini sering terlibat dalam penjarahan bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza, serta menguasai area-area tertentu di selatan Gaza, terutama Rafah, yang berada di zona kendali Israel.
Abu Shabab, yang berasal dari suku Bedouin di Rafah, sebelumnya dikenal memiliki catatan kriminal — termasuk kasus narkoba. Ia muncul ke permukaan sebagai figur militer ketika perang Gaza merebak, dan kemudian menobatkan diri sebagai alternatif kekuatan terhadap Hamas dengan popularitas yang berkembang cepat.
Di bawah pimpinan Abu Shabab, Popular Forces diperkirakan beranggotakan puluhan hingga ratusan militan bersenjata. Beberapa cabangnya — seperti Popular Army – Northern Forces — aktif di bagian utara Gaza, memberi indikasi bahwa upaya kontra‑Hamas bersifat menyeluruh, bukan kawasan tunggal.
Namun meskipun mendapat dukungan eksternal, Popular Forces jarang mendapat simpati luas dari warga Gaza. Banyak warga memandang mereka sebagai antek asing dan bukan representasi perjuangan Palestina; tuduhan kriminalitas dan penjarahan terhadap warga atau bantuan kemanusiaan makin membuat citra mereka ditolak.
Kematian Abu Shabab terjadi akibat insiden bersenjata dengan klan lokal lain di Rafah — situasi yang diperparah oleh struktur milisi internal yang rapuh, klaim saling pengkhianatan, dan persaingan kekuasaan antar klan serta milisi.
Beberapa sumber menyebut bahwa ketika ia ditembak, Abu Shabab sempat dievakuasi ke rumah sakit di Israel selatan — bukti betapa eratnya keterlibatan negara Israel terhadap milisi ini. Namun upaya itu gagal menyelamatkan nyawanya.
Kematian pemimpin milisi pro‑Israel ini dipandang sebagai pukulan besar terhadap strategi Israel dalam menciptakan kekuatan proksi di Gaza untuk melemahkan Hamas. Kini keberlangsungan Popular Forces menjadi sangat dipertanyakan, karena tanpa figur sentral, milisi ini berisiko pecah atau dikuasai klan‑klan lain.
Bagi banyak pihak, peristiwa ini menunjukkan kompleksitas konflik Gaza: bukan hanya perang antara Israel dan Hamas, tetapi juga perang internal — klan, milisi, loyalitas, dan identitas — yang semakin mengaburkan garis antara perjuangan politik dan kriminalitas.
Kematian dan keruntuhan Popular Forces membuka ruang pertanyaan baru: apakah masih ada aktor lokal pro‑Israel yang bisa diandalkan, atau justru akan muncul kekosongan kekuasaan yang memicu konflik antarklan?(*)
