Jakarta, Semangatnews.com – Pemerintah Suriah mengungkap bahwa dua rencana pembunuhan terhadap Presiden Ahmed al‑Sharaa berhasil digagalkan dalam beberapa bulan terakhir. Sumber keamanan tinggi mengonfirmasi bahwa kelompok Islamic State memang menyasar al‑Sharaa, menandakan bahwa ancaman terhadap pemimpin Suriah masih nyata dan personal.
Salah satu plot yang digagalkan menargetkan al‑Sharaa saat menjalani kegiatan resmi yang sebelumnya diumumkan publik. Meskipun detailnya minim, sumber menyebut bahwa pengamanan ketat yang diterapkan telah mencegah langkah tersebut berjalan.
Kementerian Informasi Suriah enggan memberikan rincian tentang plot tersebut, namun menegaskan bahwa Islamic State tetap menjadi “ancaman nyata” bagi Suriah dan wilayah sekitarnya. Mereka menyebut bahwa dalam 10 bulan terakhir pihak berwenang telah membongkar sejumlah rencana serangan terhadap lokasi‐lokasi strategis.
Keterkaitan rencana pembunuhan ini dengan agenda al‑Sharaa sangat signifikan. Presiden Suriah saat ini tengah menjajaki bergabung dengan koalisi global melawan Islamic State, termasuk melihat kembali hubungan dengan Amerika Serikat, setelah bertahun‐tahun konflik internal yang berkepanjangan.
Al‐Sharaa sendiri naik ke tampuk kepemimpinan setelah rezim lama runtuh, dan sejak itu ia mencoba membentuk pemerintahan yang baru serta mendapatkan pengakuan internasional. Posisi barunya menjadikannya target kuat bagi kelompok ekstremis yang menolak perubahan dan pemerintahan yang stabil.
Menurut para analis, kegagalan dua plot pembunuhan ini mencerminkan betapa dalamnya penetrasi jaringan Islamic State di dalam Suriah—bahkan hingga kemampuan mencuri akses ke agenda resmi presiden. Hal ini menjadi alarm bagi keamanan nasional.
Sektor keamanan Suriah telah dipaksa untuk naik kelas dalam beberapa bulan belakangan. Operasi besar‐besaran untuk menumpas sel Islamic State dilaporkan telah digelar, dengan ratusan tersangka ditangkap dan sejumlah besar senjata disita dari wilayah konflik.
Meski demikian, ancaman tetap ada. Para pengamat menyebut bahwa meskipun efektifitas keamanan meningkat, kondisi Suriah yang masih rapuh akibat perang panjang menyediakan ruang bagi extremis untuk menyembunyikan diri atau merencanakan serangan.
Momen ini juga berdampak pada hubungan luar negeri Suriah. Dengan al‐Sharaa sebagai figur yang coba mendekati Barat melalui visi melawan Islamic State, upaya pembunuhan terhadapnya bisa mengganggu stabilitas dalam dan menghambat proses rehabilitasi negara.
Situasi ini memaksa al‐Sharaa untuk tidak hanya menjadi pemimpin politik, tetapi juga menjadi simbol keamanan dan rekonsiliasi nasional. Ia harus menghadapi tantangan eksternal sekaligus internal—antaranya efek perang, konflik sektarian, dan tekanan dari ekstremis yang belum sepenuhnya tereliminasi.
Akhirnya, langkah pembongkaran dua plot ini bisa menjadi momentum penting bagi Suriah untuk memperkuat sistem keamanan dan memperbarui dukungan internasional. Namun begitu, jalan ke pemulihan masih panjang dan penuh risiko.(*)
