Tragedi di Sudan — Drone Hantam TK & RS, 79 Warga Tewas Termasuk Puluhan Anak‑Anak

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Dunia kembali dikejutkan oleh laporan tragis dari Sudan. Sebuah serangan drone menghantam sebuah taman kanak‑kanak dan rumah sakit di kota Kalogi, wilayah Kordofan Selatan, menewaskan sedikitnya 79 orang. Korban termasuk puluhan anak‑anak serta tenaga medis.

Menurut otoritas setempat, serangan terjadi dalam tiga gelombang: pertama menghantam TK saat kegiatan belajar‑mengajar berlangsung, berikutnya menyerang rumah sakit yang menjadi satu‑satunya fasilitas kesehatan aktif di kawasan itu, dan terakhir saat warga berusaha mengevakuasi korban, terutama anak‑anak, dari lokasi.

Sebagian besar korban diperkirakan berada di dalam gedung saat serangan — sebagian anak-anak sedang belajar, sementara tenaga medis dan pasien berada di rumah sakit. Banyak korban tewas dan luka‑luka, termasuk anak-anak kecil.

Insiden ini terjadi pada Jumat, 5 Desember 2025 waktu setempat, tetapi laporan resmi baru dirilis pada Senin, 8 Desember 2025 oleh lembaga medis dan pejabat lokal. Dalam pernyataan mereka, serangan dianggap sebagai salah satu yang paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir di tengah konflik berkepanjangan di Sudan.

Kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) dituding sebagai pelaku serangan. Pejabat administratif Kalogi menyebut serangan itu bagian dari kampanye keras terhadap warga sipil di wilayah yang dikuasai pemerintah — sebuah tuduhan keras yang memicu kecaman dari komunitas internasional.

Belum ada klaim resmi dari RSF ataupun tanggapan terbuka terhadap tuduhan tersebut. Akses ke Kalogi dan wilayah sekitarnya sulit karena kondisi keamanan dan gangguan komunikasi — hal ini membuat verifikasi independen atas jumlah korban dan kronologi kejadian menjadi sulit.

Situasi di Sudan, terutama di kawasan Kordofan, memang telah memburuk sejak konflik antara militer Sudan dan RSF pecah pada April 2023. Serangkaian serangan udara dan drone terhadap pemukiman sipil, sekolah, dan fasilitas kesehatan telah berkali‑kali dikabarkan, tetapi insiden di Kalogi dianggap sebagai salah satu yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk korban selamat, kondisi di lapangan sangat sulit. Banyak warga terluka dan kehilangan anggota keluarga. Infrastruktur kesehatan yang tersisa kewalahan menampung luka‑luka, sementara akses jalur darat dan komunikasi terputus — menyulitkan evakuasi dan bantuan kemanusiaan.

Organisasi internasional, termasuk UNICEF, sudah mengutuk keras serangan ini. Mereka menyebut penargetan terhadap anak‑anak dan fasilitas sipil seperti sekolah dan rumah sakit sebagai pelanggaran HAM serius dan menyerukan agar semua pihak menghormati hukum humaniter internasional.

Permintaan bantuan kemanusiaan darurat pun meluas. Warga sipil yang selamat meminta akses air bersih, makanan, obat‑obatan, dan perawatan trauma. Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal, sementara rumah sakit satu‑satunya rusak berat — meninggalkan krisis kesehatan yang semakin parah.

Situasi ini sekaligus mempertinggi perhatian global terhadap konflik di Sudan. Para pengamat dan lembaga kemanusiaan mendesak komunitas internasional untuk mendesak gencatan senjata, melindungi warga sipil, serta membuka akses bantuan ke wilayah yang terdampak.

Kejadian tragis di Kalogi menjadi pengingat keras bahwa konflik bersenjata tidak hanya menghantam kekuatan militer, tapi juga membawa musibah besar bagi masyarakat sipil — terutama anak‑anak dan kelompok rentan. Dunia mendesak keadilan segera ditegakkan dan korban mendapatkan bantuan yang layak.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.