Tragedi di Udara: Pramugari Kelelahan, Maskapai Tetap Minta Surat Cuti

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Dunia penerbangan dikejutkan oleh kabar seorang pramugari bernama Sun (34) dari maskapai EVA Air yang meninggal dunia setelah menjalani jadwal penerbangan panjang. Tragedi ini menjadi sorotan tajam karena muncul fakta bahwa pihak maskapai malah meminta surat cuti dari almarhumah — padahal ia sudah wafat.

Kejadian bermula ketika Sun menjalankan tugas penerbangan rute Milan – Taipei dengan durasi lebih dari 12 jam, lalu melaporkan kondisi fisik yang menurun. Namun, berdasarkan keterangan rekan kerja dan serikat awak kabin, ia tetap diminta untuk bertugas dan manajer kabin diduga menolak menghubungi layanan medis dalam penerbangan.

Setelah mendarat, kondisi Sun sempat memburuk dan ia akhirnya dirawat di rumah sakit di Taichung. Meski demikian, beberapa hari setelah kepergiannya, pihak maskapai menghubungi keluarganya dengan pesan yang mengejutkan: meminta bukti cuti atau dokumen pengajuan izin kerja — langkah yang dinilai banyak pihak sebagai “keliru secara etika dan prosedur”.

Serikat awak kabin Taiwan mendesak agar kasus ini diselidiki sebagai dugaan kelelahan kerja ekstrem dan potensi pelanggaran terhadap regulasi jam kerja awak kabin. Mereka menyebut bahwa alat pengukur kelelahan (fatigue risk management) belum berjalan optimal di beberapa bagian maskapai, termasuk dalam penugasan rute panjang tersebut.

Pihak EVA Air kemudian mengeluarkan pernyataan permintaan maaf dan menyebut bahwa komunikasi internal yang meminta surat cuti adalah “kesalahan karyawan” yang sedang diselidiki. Namun kritikus menilai pernyataan itu belum cukup, karena persoalan sistemik tampak lebih besar: beban kerja, pengaturan istirahat, dan hak cuti yang seharusnya tidak dapat ditunda hanya demi operasional.

Analisis industri menyebut bahwa kejadian ini bisa menjadi “alarm” bagi maskapai dan regulator penerbangan. Pekerjaan awak kabin dengan durasi penerbangan sangat panjang—termasuk perbedaan zona waktu, tekanan pelayanan, dan waktu istirahat yang minim—semuanya merupakan kombinasi yang berisiko tinggi jika tidak dikelola dengan baik.

Bagi keluarga Sun, duka mereka bertambah dengan administrasi yang tak manusiawi. Ketika sangat seharusnya menerima dukungan penuh, mereka justru dimintai dokumen cuti dan bahkan harus mengirim sertifikat kematian sebagai pengganti izin kerja. Pengalaman ini memicu keprihatinan luas di kalangan pekerja awak kabin internasional.

Regulator penerbangan Taiwan kini dikabarkan memanggil pihak EVA Air untuk memberikan keterangan lengkap serta meninjau ulang regulasi terkait hak cuti, jam kerja maksimal, dan mekanisme pengaduan bagi awak kabin. Sementara itu, publik dan serikat pekerja menuntut transparansi penuh dan tindakan nyata agar tragedi serupa tak terulang.

Kematian Sun dan prosedur yang mengecewakan setelahnya bukan hanya soal satu individu, tetapi narasi besar tentang bagaimana pekerja layanan publik seperti awak kabin sering berada dalam tekanan luar biasa — dan bagaimana sistem dapat gagal melindungi mereka. Kasus ini kini menjadi bahan pembicaraan global di sektor penerbangan tentang etika kerja, hak pekerja, dan keselamatan manusia.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.