Jakarta, Semangatnews.com – Sebuah kecelakaan fatal menimpa angkatan udara Rusia setelah pesawat angkut militer Antonov An-22 jatuh di wilayah Ivanovo Oblast, tidak jauh dari ibu kota Moskow. Otoritas setempat mengonfirmasi bahwa seluruh kru di dalam pesawat telah tewas.
Insiden terjadi Selasa (9/12/2025) saat An‑22 itu menjalani penerbangan uji coba usai menjalani perbaikan. Pesawat — yang dikenal sebagai pesawat angkut berat dengan kapasitas besar — awalnya dijadwalkan untuk terbang rutin, namun penerbangan tersebut berakhir tragis.
Menurut laporan beberapa media Rusia, puing‑puing pesawat ditemukan di sekitar lokasi jatuh — termasuk bagian‑bagian besar badan pesawat yang mengambang di perairan Reservoir Uvod serta serpihan di daratan dekat desa Ivankovo.
Sampai saat ini otoritas belum mengumumkan secara resmi jumlah pasti awak yang berada di dalam pesawat — meskipun laporan awal menyebut ada tujuh kru yang berangkat dalam penerbangan tersebut.
Pihak penyelidik dari Angkatan Udara Rusia dan lembaga terkait telah dikerahkan ke lokasi untuk melakukan investigasi. Mereka berupaya mencari bukti dan mengumpulkan data guna mengungkap penyebab jatuhnya An‑22.
Beberapa saksi mata dilaporkan sempat melihat pesawat mengalami kerusakan — dengan bagian sayap atau badan pesawat seperti pecah sebelum jatuh ke tanah atau perairan. Namun, belum ada konfirmasi resmi tentang apakah pesawat mengalami kerusakan struktural atau ada faktor eksternal lain.
Pesawat An‑22 sendiri merupakan transport militer berat era Soviet yang telah dioperasikan sejak dekade 1960-an. Di banyak angkatan udara dunia, termasuk Rusia, An‑22 dianggap sebagai armada tua — sehingga insiden ini kembali menyoroti isu terkait pemeliharaan dan umur pakai pesawat militer lama.
Kejadian ini menambah catatan kelam sejumlah kecelakaan pesawat militer Rusia dalam beberapa tahun terakhir, menimbulkan pertanyaan publik dan internasional terkait keselamatan, perawatan, serta keputusan operasional terhadap armada tua.
Pemerintah Rusia telah menyatakan akan menyelidiki secara tuntas. Hasil penyelidikan nantinya akan menjadi dasar apakah kecelakaan ini akibat kelalaian pemeliharaan, kesalahan teknis, atau faktor lain — termasuk kondisi cuaca atau beban angkut.
Sementara itu, keluarga awak dan rekan satuan militer telah menerima kabar duka. Berbagai lembaga militer dan sipil menyampaikan belasungkawa. Namun karena kurangnya data resmi — termasuk manifest kru — identitas para korban belum dipublikasikan.
Kecelakaan ini sekaligus menjadi peringatan bagi seluruh dunia bahwa operasi dengan pesawat militer berat, apalagi buatan lama, memerlukan standar pemeliharaan dan evaluasi keamanan yang tinggi. Rusaknya satu bagian kecil saja dapat berakibat fatal.
Publik internasional kini menunggu laporan resmi lengkap dari pihak Rusia. Bagaimana pun, tragedi ini menegaskan kembali bahwa profesi penerbangan — militer atau sipil — tetap membawa risiko besar, dan keselamatan harus menjadi prioritas utama.(*)
