Jakarta, Semangatnews.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dukungannya atas tindakan balasan militer yang dilakukan Israel setelah insiden kematian seorang anggota tentara mereka. Pernyataan tersebut muncul di tengah eskalasi besar di wilayah Palestina yang menyebabkan sedikitnya 104 warga sipil tewas termasuk banyak anak‑anak dan perempuan.
Trump menegaskan bahwa meskipun kampanye militer Israel sedang berlangsung, perjanjian gencatan senjata yang difasilitasi AS tetap berlaku. “Tidak ada yang akan membahayakan gencatan senjata itu,” katanya kepada wartawan.
Menurut laporan dari pihak Gaza, 46 anak dan 20 perempuan termasuk di antara korban tewas dalam serangan udara Israel itu. Israel mengklaim bahwa serangan tersebut adalah respons terhadap pembunuhan tentara mereka dan menargetkan posisi militer di utara Gaza, meskipun banyak korban sipil.
Serangan terjadi beberapa minggu setelah gencatan senjata yang dimediasi AS mulai berlaku, menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan tersebut.
Trump mengatakan bahwa Israel “seharusnya membalas” ketika pasukannya diserang, dan menegaskan bahwa dukungannya kepada Israel tidak mengurangi komitmen AS pada gencatan senjata.
Di sisi lain, pihak Palestina dan beberapa organisasi kemanusiaan internasional mengecam serangan ini sebagai pelanggaran terhadap hukum humaniter karena tingginya korban sipil. Mereka meminta penyelidikan independen atas penggunaan kekuatan yang dianggap tidak proporsional.
Sementara itu, diplomat dari negara-negara Arab yang turut memediasi gencatan senjata menyatakan keprihatinan bahwa insiden ini bisa memicu pecahnya kembali konflik terbuka.
AS sendiri berada dalam posisi yang kompleks: di satu sisi mendukung sekutu strategisnya Israel, di sisi lain bertanggung jawab menjaga perdamaian di kawasan yang sensitif.
Pemeran utama konflik ini, yaitu Hamas dan militer Israel, saling menuduh satu sama lain. Israel menuding Hamas memicu agresi dengan menyerang tentara mereka, sementara Hamas menuduh Israel mengabaikan keselamatan warga sipil.
Dampak kemanusiaan dari serangan ini sangat besar: infrastruktur rusak, layanan kesehatan tertekan, dan banyak warga sipil mengungsi kembali ke zona perang.
Ke depan, semua mata tertuju pada apakah gencatan senjata ini akan bertahan atau menjadi ujung dari periode damai sementara. Trump menyatakan optimisme bahwa kesepakatan bisa ditegakkan meskipun tantangan berat menghampiri.(*)
