Jakarta, Semangatnews.com – Harga emas dunia kembali menunjukkan penguatan setelah sempat mengalami tekanan selama tiga hari berturut-turut. Pada perdagangan Kamis, 17 September 2026, harga logam mulia tersebut melonjak hampir 2 persen dan bangkit dari posisi terendah dalam beberapa pekan terakhir.
Harga emas spot tercatat naik sekitar 1,92 persen menjadi US$4.345,5 per troy ounce. Penguatan tersebut sekaligus mengakhiri tren pelemahan yang berlangsung selama tiga hari sebelumnya.
Sebelum mengalami rebound, emas menghadapi tekanan dari sejumlah faktor global. Harga sempat turun setelah pasar merespons perkembangan inflasi Amerika Serikat dan arah kebijakan suku bunga bank sentral negara tersebut.
Pada perdagangan sebelumnya, emas bahkan berada di level terendah dalam hampir enam pekan. Kondisi itu kemudian mendorong munculnya aksi beli ketika sebagian pelaku pasar melihat harga emas telah mengalami koreksi cukup dalam.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor penting yang sebelumnya memberikan tekanan terhadap emas. Ketika dolar menguat, emas yang diperdagangkan dalam dolar cenderung menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Namun, dolar kemudian melemah dari level tertinggi dalam tujuh pekan. Perubahan tersebut memberikan ruang bagi harga emas untuk kembali naik dalam perdagangan terakhir.
Selain dolar, pergerakan imbal hasil surat utang pemerintah AS juga menjadi perhatian pasar. Yield Treasury AS tenor 10 tahun dilaporkan turun, sehingga sebagian tekanan terhadap aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas ikut berkurang.
Harga minyak yang melemah turut memberikan sentimen tambahan bagi pasar emas. Penurunan harga energi dapat mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi, sehingga membantu memperbaiki sentimen terhadap logam mulia.
Meski demikian, prospek emas masih menghadapi sejumlah tantangan. Kebijakan suku bunga The Fed dan sinyal mengenai kemungkinan perubahan suku bunga berikutnya menjadi faktor yang akan terus diperhatikan investor.
Perak juga mencuri perhatian karena pergerakannya dinilai lebih agresif dibandingkan emas. Penguatan komoditas tersebut membuat pasar logam mulia kembali menjadi sorotan setelah sebelumnya mengalami tekanan.
Dengan perubahan harga yang berlangsung cepat, pelaku pasar kini menunggu data ekonomi Amerika Serikat dan perkembangan kebijakan The Fed berikutnya. Pergerakan dolar, yield obligasi, harga energi, serta ekspektasi suku bunga akan menjadi sejumlah faktor penting yang dapat memengaruhi arah emas dan perak dalam perdagangan selanjutnya.(*)

