Jakarta, Semangatnews.com – Vatikan secara resmi menyatakan tidak akan bergabung dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace yang digagas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Keputusan ini menegaskan posisi Takhta Suci yang memilih tetap berpegang pada mekanisme multilateral yang sudah mapan dalam penyelesaian konflik global.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Negara Vatikan, Pietro Parolin. Ia menegaskan bahwa Vatikan memiliki peran dan karakter khusus dalam diplomasi internasional yang berbeda dari negara-negara lain.
Menurut Parolin, meski menghargai setiap upaya perdamaian, Vatikan menilai keterlibatan dalam Dewan Perdamaian yang diprakarsai Trump bukanlah jalur yang tepat. Takhta Suci menilai forum global yang sudah memiliki legitimasi luas tetap menjadi wadah utama penyelesaian konflik.
Vatikan secara konsisten menyatakan dukungannya terhadap peran Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai institusi internasional utama dalam menangani krisis kemanusiaan dan konflik bersenjata. Organisasi tersebut dinilai memiliki mandat dan pengalaman panjang dalam diplomasi global.
Dewan Perdamaian yang diusulkan Trump disebut bertujuan menangani berbagai konflik, termasuk krisis di Gaza. Namun, struktur dan mekanisme kerja dewan tersebut dinilai masih memerlukan kejelasan lebih lanjut.
Parolin menyebut ada sejumlah aspek yang masih menjadi pertimbangan serius bagi Vatikan, termasuk bagaimana posisi dan kewenangan dewan itu dibandingkan dengan lembaga internasional yang sudah ada. Vatikan tidak ingin keterlibatan tersebut menimbulkan tumpang tindih atau kesalahpahaman diplomatik.
Sikap ini juga mencerminkan pendekatan khas Vatikan yang lebih mengutamakan dialog lintas negara dan kerja sama kolektif. Sebagai entitas spiritual sekaligus diplomatik, Vatikan menjaga jarak dari inisiatif yang dinilai berpotensi memicu persepsi politis tertentu.
Sejumlah pengamat menilai keputusan Vatikan dapat memengaruhi persepsi global terhadap Dewan Perdamaian tersebut. Dukungan atau penolakan dari aktor moral seperti Vatikan sering kali memiliki dampak simbolis dalam diplomasi internasional.
Di sisi lain, pemerintahan Trump tetap mendorong pembentukan dewan tersebut sebagai langkah alternatif untuk mempercepat upaya perdamaian di wilayah konflik. Washington menyebut inisiatif itu sebagai bentuk komitmen terhadap stabilitas global.
Hubungan antara Vatikan dan Amerika Serikat sendiri tetap berjalan dalam kerangka diplomatik yang baik. Perbedaan pandangan terkait Dewan Perdamaian ini tidak serta-merta mencerminkan ketegangan bilateral.
Keputusan Vatikan menunjukkan pentingnya konsistensi dalam prinsip diplomasi multilateral. Takhta Suci menegaskan bahwa penyelesaian konflik sebaiknya dilakukan melalui jalur yang memiliki legitimasi internasional yang luas.
Dengan sikap tegas ini, Vatikan kembali menegaskan posisinya sebagai pendukung utama kerja sama global berbasis dialog dan hukum internasional. Dunia kini menanti bagaimana inisiatif Dewan Perdamaian tersebut akan berkembang tanpa keterlibatan Takhta Suci.(*)
