Warga Ramai Keluhkan Batuk & Pilek, Profesor UI Jelaskan Penyebab dan Cara Mengatasinya

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Gelombang keluhan batuk, pilek, dan tenggorokan gatal tengah merebak di berbagai wilayah Indonesia — banyak warganet mengunggah status dan foto kondisi mereka sembari bertanya apa yang sebenarnya terjadi, dan seorang profesor dari Universitas Indonesia (UI) akhirnya memberi penjelasan ilmiah untuk meredam kepanikan.

Dalam unggahan kampus UI, profesor itu menyebut bahwa saat musim pancaroba, perubahan suhu dan kelembapan signifikan menyebabkan saluran pernapasan lebih rentan terhadap iritan — debu, polusi, atau udara dingin — sehingga gejala seperti batuk dan pilek menjadi “alarm tubuh” agar sistem kekebalan bereaksi.

Namun, profesor juga mengingatkan bahwa meskipun batuk dan pilek sering dianggap ringan, jika disertai demam tinggi, sesak napas, atau durasi lebih dari 7 hari, perlu diwaspadai kemungkinan infeksi virus yang lebih berat seperti influenza atau COVID-19.

Gejala pilek umum, seperti bersin, hidung meler, dan nyeri tenggorokan ringan, perlu dibedakan dari gejala flu atau infeksi pernapasan bawah yang bisa menyertakan demam, nyeri otot, dan kelelahan hebat — sebagaimana dijelaskan dalam pedoman medis.

Profesor tersebut mendorong agar masyarakat tidak langsung panik atau membludak ke rumah sakit tanpa pertimbangan — cukup melakukan tindakan pencegahan ringan di rumah dan mengamati perkembangan gejala secara seksama.

Tindakan awal yang direkomendasikan antara lain istirahat cukup, konsumsi air hangat, menjaga kelembapan ruangan, serta mengonsumsi makanan bergizi agar tubuh memiliki bekal imun mempercepat pemulihan.

Bagi yang mengalami iritasi tenggorokan, gargle dengan air garam hangat secara rutin bisa bantu meredakan peradangan ringan dan membantu menyingkirkan kuman dari permukaan selaput lendir.

Profesor juga mengingatkan pentingnya penggunaan masker saat berada di ruangan tertutup atau ramai, serta mencuci tangan berkala dengan sabun agar partikel virus atau bakteri tidak mudah masuk ke sistem pernapasan.

Untuk masyarakat dengan riwayat penyakit paru, asma, atau penderita imun rendah, ia menyarankan agar segera berkonsultasi ke dokter bila gejala bertambah buruk karena risiko komplikasi lebih tinggi.

Media sosial dan komunitas daring telah ramai berbagi pengalaman batuk pilek ini — banyak yang mengeluhkan bahwa tidur terganggu karena batuk terus-menerus, atau bahwa suara menjadi serak di pagi hari.

Banyak netizen menyebut bahwa fenomena ini seperti “batuk musiman” yang setiap tahun muncul, namun dengan intensitas berbeda tergantung kondisi lingkungan dan pola hidup — dan penjelasan profesor UI membantu memberi rasa aman bahwa sebagian besar kasus ringan.

Meski begitu, masyarakat tetap diminta waspada dan proaktif: jika kondisi tidak membaik atau muncul gejala berat, segera ke fasilitas kesehatan agar diagnosis cepat dan penanganan tepat dapat diberikan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.