Jakarta, Semangatnews.com – Presiden China, Xi Jinping, tiba di Pyongyang, Korea Utara, dalam kunjungan kenegaraan yang langsung menyita perhatian dunia internasional. Kedatangannya disambut secara langsung oleh pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, bersama istrinya, Ri Sol Ju, dalam sebuah seremoni megah yang menunjukkan eratnya hubungan kedua negara.
Kunjungan tersebut menjadi lawatan pertama Xi ke Korea Utara dalam hampir tujuh tahun terakhir. Momentum ini dinilai penting karena berlangsung di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks di kawasan Asia Timur dan meningkatnya persaingan antara kekuatan-kekuatan besar dunia.
Setibanya di bandara Pyongyang, Xi dan istrinya, Peng Liyuan, mendapat sambutan karpet merah serta penghormatan kenegaraan. Anak-anak menyerahkan bunga, sementara pasukan kehormatan berjajar menyambut kedatangan delegasi China.
Seremoni penyambutan berlanjut di Lapangan Kim Il Sung yang menjadi pusat berbagai acara kenegaraan Korea Utara. Ribuan warga terlihat memadati lokasi sambil mengibarkan bendera kedua negara dan meneriakkan slogan persahabatan antara Beijing dan Pyongyang.
Dalam berbagai pernyataan yang dipublikasikan menjelang kunjungan tersebut, Xi menegaskan komitmen China untuk terus memperkuat hubungan bilateral dengan Korea Utara. Ia menyebut hubungan kedua negara memasuki fase baru yang memiliki arti strategis bagi stabilitas kawasan.
Pertemuan antara Xi dan Kim Jong Un diperkirakan membahas berbagai isu penting, mulai dari kerja sama ekonomi, perdagangan, keamanan regional hingga perkembangan situasi internasional yang memengaruhi kepentingan kedua negara.
Banyak pengamat menilai kunjungan ini juga merupakan upaya Beijing untuk memperkuat kembali pengaruhnya terhadap Pyongyang. Dalam beberapa tahun terakhir, Korea Utara diketahui semakin aktif menjalin hubungan dengan Rusia, terutama dalam bidang ekonomi dan pertahanan.
China selama ini merupakan mitra ekonomi terbesar sekaligus sekutu paling penting bagi Korea Utara. Karena itu, setiap perkembangan hubungan kedua negara selalu mendapat perhatian serius dari komunitas internasional.
Di sisi lain, kunjungan Xi berlangsung ketika isu program nuklir Korea Utara kembali menjadi sorotan. Pemerintah Korea Utara sebelumnya menegaskan bahwa status negara nuklir mereka tidak dapat dinegosiasikan kembali.
Meski demikian, kedua negara sama-sama menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan perdamaian kawasan. Hubungan yang kuat antara Beijing dan Pyongyang diyakini akan berpengaruh terhadap berbagai dinamika politik dan keamanan di Asia Timur.
Kunjungan kenegaraan ini menjadi simbol bahwa hubungan China dan Korea Utara tetap memiliki posisi penting dalam peta geopolitik dunia. Dengan sambutan yang begitu meriah dari Kim Jong Un dan keluarganya, Xi Jinping mengirim pesan kuat bahwa kerja sama kedua negara masih menjadi prioritas strategis di tengah perubahan tatanan global.(*)

