Jakarta, Semangatnews.com – Dolar Amerika Serikat kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan valuta asing Asia. Sejumlah mata uang regional memanfaatkan pelemahan greenback untuk menguat, termasuk rupiah Indonesia dan yen Jepang.
Pergerakan tersebut menjadi perhatian pasar karena yen Jepang menunjukkan penguatan yang cukup tajam. Mata uang Negeri Sakura itu bahkan berhasil mencapai level terkuat dalam tujuh bulan terhadap dolar AS.
Pasangan dolar AS terhadap yen atau USD/JPY turun sekitar 1,1 persen ke level 154,4. Penurunan pasangan tersebut mencerminkan penguatan yen yang cukup signifikan dalam perdagangan.
Penguatan yen salah satunya didorong meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of Japan dapat mengambil langkah lebih ketat dalam kebijakan moneternya. Perubahan ekspektasi tersebut membuat investor kembali memperhitungkan prospek mata uang Jepang.
Faktor lain yang ikut mendukung yen adalah repatriasi dana serta unwinding carry trade. Strategi carry trade yang memanfaatkan mata uang berbunga rendah seperti yen mulai dikurangi ketika pelaku pasar melakukan penyesuaian posisi.
Di tengah penguatan yen, rupiah juga menunjukkan daya tahan terhadap dolar AS. Pada penutupan perdagangan Senin, rupiah menguat tipis 2 poin atau 0,03 persen ke level Rp17.640 per dolar AS.
Pergerakan rupiah tersebut berlangsung ketika indeks dolar AS berada dalam tekanan. DXY tercatat turun 0,33 persen ke level 98,8 pada Senin sore, memberikan sentimen positif bagi sejumlah mata uang di kawasan Asia.
Namun, tidak seluruh mata uang Asia bergerak dengan arah yang sama. Ringgit Malaysia menjadi salah satu mata uang yang pergerakannya lebih lemah dibandingkan yen dan sejumlah mata uang regional lainnya.
Penguatan rupiah juga perlu dilihat dalam konteks kondisi eksternal yang masih penuh ketidakpastian. Ketegangan geopolitik dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral global dapat memengaruhi arus modal serta permintaan terhadap dolar AS.
Harga minyak turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan pasar. Kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik dapat memberikan tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi, termasuk melalui peningkatan kebutuhan valuta asing untuk membayar impor.
Ke depan, investor akan terus mencermati arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat dan Jepang serta perkembangan ekonomi global. Jika tekanan terhadap dolar AS berlanjut, peluang penguatan mata uang Asia masih terbuka, tetapi volatilitas tetap perlu diwaspadai karena pasar valuta asing sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global.(*)

