Zelensky Terima Draft Perdamaian Trump, Tapi Tetap Waspadai Risiko

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Ukraina menyambut draft rencana perdamaian yang disetujui oleh Donald Trump, namun Presiden Volodymyr Zelensky tampak berhati-hati dalam menanggapi usulan itu. Ia menyatakan kesiapan untuk berdialog, tetapi menegaskan bahwa perdamaian tidak boleh berarti menyerahkan harga kedaulatan.

Di pernyataan resminya, Zelensky menyebut bahwa tim Ukraina bersama AS akan segera mengerjakan poin-poin rencana demi mengakhiri perang. Ia menekankan bahwa proses tersebut perlu dilakukan secara cepat, jujur, dan terbuka.

Meskipun menyebut rencana Trump “baik”, ia juga menekankan bahwa warga Ukraina perlu diyakinkan bahwa keamanan jangka panjang akan terjamin. Ia menyoroti perlunya jaminan nyata agar kesepakatan tak menjadi beban di masa depan.

Sumber AS mengungkapkan bahwa draf tersebut mencakup jaminan keamanan bagi Kyiv yang bisa melibatkan AS dan sekutu Eropa, tapi bagian paling sensitif adalah soal wilayah. Ada desas-desus bahwa Ukraina diwajibkan mengakui beberapa wilayah yang kini diklaim Moskow.

Sikap skeptis Zelensky juga muncul karena riwayat perundingan sebelumnya. Ia pernah menolak ide pertukaran wilayah dengan Rusia dalam rencana damai versi lain, menyebut bahwa wilayah Ukraina adalah bagian tak terpisahkan dari konstitusi negaranya.

Menurut Zelensky, jika ada solusi damai, maka harus disertai tekanan kuat pada Rusia agar benar-benar menunjukkan komitmen. “Kami tidak mempercayai Rusia begitu saja,” ujarnya dalam sejumlah kesempatan publik.

Ia juga meminta agar ide tersebut dijelaskan secara terbuka. Menurut Zelensky, Trump harus menyampaikan formula perdamaiannya secara publik agar rakyat Ukraina dan dunia bisa menilai mana yang realistis dan mana yang berisiko.

Meski berbagai pihak Eropa menyatakan keprihatinan, Zelensky memainkan kartu diplomasi dengan hati-hati. Ia tetap ingin menjajaki jalan damai, tapi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar kedaulatan dan integritas wilayah.

Sementara itu, muncul laporan bahwa Moskow belum memberikan respons resmi terhadap draf rencana tersebut. Rusia tampak menahan diri, mungkin menunggu tekanan diplomatik lebih lanjut atau melihat reaksi penuh dari Ukraina dan AS.

Langkah ini menandai babak baru dalam diplomasi peperangan. Zelensky tampak ingin menjaga keseimbangan: membuka pintu dialog, namun tetap menegakkan garis merah yang tidak bisa ditawar dalam konflik yang telah berlarut-larut.

Pidato dan pernyataan ini menegaskan bahwa Ukraina berkomitmen untuk perdamaian, namun setiap kesepakatan harus melalui evaluasi ketat agar tidak mengorbankan kepentingan nasional.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.