Zulmi Aryani : Batik Tulis Minang Harus Menjadi Kekuatan Baru di Sumatera Barat

by -
Zulmi Aryani (Foto Muharyadi)

SEMANGATNEWS.COM, MUARO LABUAH – Mulai menggeliatnya batik tulis di Sumatera Barat yang kian populer di tengah-tengah masyarakatnya, karena selama ini hanya berkembang di pulau Jawa membuat Azyanu Batik dibawah pimpinannya Zulmi Aryani (49 th) yang telah puluhan tahun bermukim dan berkarya di Semarang (Jawa Tengah) memilih hengkang dan mengembangkan sayapnya di Muara Labuah, Solok Selatan, Sumatera Barat.

Kepindahan dari Semarang ke Muara Labuah tempat kelahiran Zulmi Aryani, tentu punya alasan tersendiri. Selain ingin dekat dengan orang tua dan keluarga juga ingin mengembangkan batik tulis yang telah dirintisnya sejak beberapa tahun terakhir yang di hasilkan Azyanu Batik.

Menurut Zulmi Aryani yang juga staf pengajar di PGSD STKIP Widyaswara Indonesia Muara Labuah saat ditemui di sanggarnya Lundang No. 81, Nagari Pasir Talang Barat, Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solpk Selatan menyebutkan, sejak ia pindah dari Semarang ke Muaro Labuah ia mengaku banyak menghabiskan waktu untuk melahirkan batik tulis dengan icon 1000 rumah gadang. Alhamdulillah batik tulis tersebut mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat Muaro Labuah bahkan dari berbagai daerah di Sumbar dan luar Sumbar.

Motif Rangkiang di Tangah Rimbo, batik tulis katun premium (Foto Muharyadi)

Kemampuan membatik Zulmi Aryani yang akrab dipanggil upik ini, merupakan kombinasi dari skilnya berbekal dari sarjana seni rupa Yogyakarta yang sebelumnya mengenyam pendidikan di SMSR (sekarang SMKN 4) Padang hingga turut memperkaya batik-batik yang dihasilkan mulai dari mendisain, memindahkan desain ke dasar kain, mencanting, mencelup hingga jadi batik bermuatan nilai-nilai lokal,” tutur upik menjelaskan.

Motif-motif batik “1000 rumah gadang” yang diciptakannya dimaksudkan untuk memperkaya batik-batik Minang yang ada di Sumatera Barat. Bagaimanapun sebagai salah satu warisan dunia versi Unesco dan cuma ada di Indonesia, maka kehadiran batik di ranah Minang diharapkan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Menurut Upik dari kediamannya persisnya dari lantai atas rumah kediamannya Simpang Jolok Lundang Pasir Talang, terbentang pemandangan yang sangat indah dan menawan apalagi disekeliling rumah gadang yang menjulang tinggi dikelilingi hamparan bukit  yang kerap berselimut kabut tipis menutupi gunung dan pepohonan kelapa.

Semarak Nagari 1000 Rumah Gadang, batik tulis, katun premium (Foto : Muharyadi)

Bila tak berkabut dari kejauhan terlihat mampu mengilhaminya membuat motif nagari rumah gadang dilingkari pemandangannya yang mempesona bahkan menghipnotis mata yang semuanya terekam indah di memori dalam memori visual hingga akhirnya dituangkan dalam beragam desain hingga menjadi karya batik nagari 1000 rumah gadang, sebagaimana kini banyak tertuang dalam desain-desain batik ciptaamnya,” ujar Upik menjelaskan.

Terobosan ini dimaksudkan agar batik 1000 rumah gadang lebih populer di negeri sendiri di  tengah-tengah perkembangan batik nasional yang telah mendunia sebagai salah satu kekayaan budaya minang dengan nagari 1000 Rumah Gadang.

Sederetan Batik Tulis karya Zulmi Aryani (Foto Muharyadi)

Saat ditanya mengapa harus mengangkat motif 1000 rumah gadang”?/ Menurut Upik ada dasar pertimbangan tersendiri. Pertama, rumah gadang terlihat kaya dan sarat makna secara menyeluruh pada arsutekturnya, kedua rumah gadang dapat dijadikan icon suatu kaum di Minangkabau, ketiga rumah gadang dapat menjadi kekuatan luar biasa sebagai hasil kebudayaan dan lainnya. Lihat misalnya rumah gadang sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah, tempat helat perkawinan anak kemenakan dan banyak lagi yang dapat diwujudkan sebagai lambang pemersatu adat budaya Minangkabau semua itu salah satunya dapat dilihat dan disaksikan di Muara Labuah.

Tinggal sekarang bagaimana Pemkab Solok Selatan bahkan pemprov Sumbar saling bahu membahu mendorong dan menumbuhkembangkan sanggar-sanggar batik yang ada tersebut menjadi kekuatan baru sektor pembangunan kebudayaan, industri kreatif, pariwisata, perindustrian dan perdagangan agar benar-benar mampu menjadi kekuatan baru dengan tidak mengabaikan budaya lokal yang kini menjadi primadona di mata nasional bahkan internasional,” ujar Upik lagi. (Muharyadi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.