Catatan : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Sedikitnya 20 (dua puluh) lagu lagu minang berbasis budaya lokal terbaru berhasil diciptakan musisi dan pecipta lagu Dr. Ir. Agusli Taher, MS sejak tahun 2024 hingga kini. Lagu lagu tersebut umumnya dibawakan muka muka baru yang suaranya enak di dengar dan merdu di telinga publik bila dihayati sejak awal hingga selesai.
Bahkan nama nama pembawa tembang ciptaan Agusli Taher tersebut, ada yang baru saja menamatkan pendidikan salah satu SMK Negeri di Sijunjung bernama Venissa yang kini baru lulus di salah satu perguruan tinggi negeri di Sumatera Barat dan sejumlah nama lain yang cocok dengan suara dan liriknya.

Menurut Agusli Taher yang lebih akrab dipanggil Agus Taher kepada Semangatnews.com, beberapa hari lalu di kediamannya, Komplek BPTP Sumbar Blok A 4 RT.01/RW 01, Rimbo Datar, Lubuk Kilangan Bandar Buat, Padang. Dan selama 5 tahun sebelumnya ia mengaku vakum menciptakan lagu lagu minang, apalagi setelah ditinggal pergi isteri tercinta untuk selama lamanya, Hj. Yunimisnun, tahun 2023 silam, kenang Agus Taher.
“Saya tak boleh larut dalam kedukaan. Maka di sela sela waktunya sejak setahun lalu hingga kini ia banyak menghabiskan waktu menciptakan lagu lagu Minang agar dapat dinikmati publik baik di daerah sendiri, nasional bahkan disejumlah negara yang dapat menikmati karya karya ciptaannya,” ujar Agus Taher yang pernah viral dengan sejumlah tembang- tembang terbaiknya era 80, 90 an bahkan hingga kini.

Saat ditanya berbasis budaya lokal tersebut maksudnya Bagaimana?. Menurut Agus Taher ia lebih menekankan gaya baru pada notasi lagu sebagai aspek penting dalam seni musik dengan tidak mengabaikan aspek budaya lokal yang terus digali sebagai kekuatan yang di dalamnya memuat persoalan tradisi dan nilai nilai ungkapan yang menyentuh telinga publik.
Sebagai ilustrasi di Padang Pariaman ada Indang, di Padang ada Salinok, Pesisir ada Rabab di darek ada Saluang dan lain sebagainya, semua itu menjadi rujukan seperti tembang yang mengangkat tema nasib, percintaan atau tembang lawak/lucu yang terus digali dan dicari hingga ia menjadi sesuatu yang enak di dengar untuk semua kalangan.

Bagaimana pun tembang Minang, dengan melodinya yang khas dan lirik mendalam pada dasarnya teah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Karena itu lagu lagu Minang bukan sekadar hiburan semata, tetapi juga banyak menyimpan kekayaan tradisi, nilai-nilai kehidupan, hingga cerita-cerita yang menyentuh hati hingga kehadirannya tak lakang dek paneh dan tak lapuak dek hujan, ia terus mengalun diberbagai kalangan.
Apalagi lirik lagu dapat menggugah emosi dan membawa perasaan yang dalam kepada pendengar melalui kata-kata yang dipilih sekaligus membantu memori pendengar dan penikmat hingga memberikan manfaat bagi kesehatan otak kita dan membantu dalam meningkatkan daya ingat kita.
Bagi Agus Taher, notasi lagu merupakan aspek penting dalam musik. Notasi menjadi penunjuk tinggi rendahnya nada serta ketukan dari sebuah lagu untuk kemudian dibawakan penyanyi. Keunikan lagu Minang terletak pada perpaduan harmoni antara melodi yang indah dan syair. Melodi lagu seringkali menggunakan alat musik tradisional seperti saluang, bansi, dan talempong, bernuansa etnik yang khas. Iramanya yang mendayu-dayu mampu membangkitkan emosi dan membawa pendengar hanyut dalam suasana yang diciptakan.
Syair lagu Minang umumnya menggunakan bahasa Minangkabau yang kaya akan kiasan dan perumpamaan. Lirik-liriknya seringkali bertemakan cinta, kehidupan, adat istiadat, dan nasihat-nasihat bijak. Tak jarang, lagu Minang juga mengangkat isu-isu sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
Lagu lagu terbaru sejak 2024 silam yang diciptakan Agus Taher diantaranya dinyanyikan diantaranya muka baru, Venissa berjudul ; Isak Di Pantai Mandeh, Cameh Ditinggakan, Dalam Diam Menyayangimu, Rindu Usah Bisiakan, Den Pajauah Palarian, Merengkuh Memory, Rindu Usah Bisiakan, sementara penyanyi Sri Fayola membawakan lagu berjudul ; Pandai Bana Uda Mambuai, Gali gali Galinjang dan Arinda – Aku Kehilanganmu, Cinto Acok Manyakiti dan lainnya.
Lomba Cipta Lagu Minang Berkelanjutan Sangat Penting Dalam Menggali Budaya Lokal
Untuk keberlanjutan hadirnya lagu lagu Minang sesuai era dan waktunya di tengah publik daerah sendiri, di perantauan maupun secara nasional sebagai salah satu bentuk industri kreatif, maka kegiatan penciptaan lagu lagu Minang perlu ditingkatkan di Sumatera Barat melalui Dinas Kebudayaan Sumatera Barat berbasis budaya lokal dengan keragamannya bermuatan sastra lisan dalam syair yang diciptakan. Karena lagu yang hadir dengan sastra lisan dapat berfungsi sebagai sarana untuk mengkomunikasikan nilai-nilai moral, adat istiadat, sejarah, serta budaya lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Agus Taher yang telah banyak mengorbitkan penyanyi legend Minang sejak tahun 1981 hingga era tahun 2000 an, Ia kini banyak menghabiskan waktunya di ruang kerjanya untuk menikmati dan mengevaluasi tembang ciptaannya melalui youtube, tiktok dan dibawakan banyak penyanyi baru.
Karena itulah, saat ini saya tetap berkomitmen untuk terus mengolah lagu-lagu berbahasa Minang bahkan ada dengan lirik bahasa Indonesia yang Insya Allah secara estafet saya rilis ke publik, ujar Agusli Taher menjanjikan.
Yang terpenting lagi di tengah-tengah perkembangan industri rekaman lagu-lagu Minang era digital saat ini saya tetap komit untuk terus menggali warna khas berbasis budaya lokal dari musik Minang moderen yang kian berkembang sebagaimana lirik syair dalam bentuk puisi. Apalagi saya pengagum lirik lagu lagu Ebiet G Ade yang syairnya puitis sekali tanpa mengabaikan budaya lokal, ujar Agus Taher.
Menelusuri perjalanan karier Agusli Taher dari dua sisi profesinya selama ini, ia mungkin sedikit dari teknorat ahli pertanian di Sumatera Barat yang dalam perjalanan kariernya menekuni dunia musik dengan mencipta lagu lagu Minang hingga karya laryanya mengantar sejumlah artis Minang menjadi penyanyi legend dari lebih 400-an lagu yang telah diciptakannya. Ia bahkan juga menerbitkan buku (2016) berjudul biografi Perjalanan Panjang Musik Minang. Kariernya sebagai pencipta lagu Minang kian menanjak ketika lagunya dibawakan oleh dua penyanyi legendaris, Tiar Ramon, Zalmon dan lainnya.
Tiar Ramon membawakan empat lagu ciptaan Agus, yakni Diseso Bayang, Rinai Pambasuah Luko, Paruntuangan, dan Langang di Nan Rami, Diseso Bayang meledak di pasaran. Saat itu omzet penjualannya mencapai di atas 100 ribu keeping kaset. Bahkan lagu ini menjelma menjadi lagu wajib dalam hampir setiap ajang festival lagu Minang yang pernah ada.
Tembang Nan Tido Manahan Hati hingga mengantarkan Zalmon dan Agusli Taher, sebagai penyanyi dan pencipta lagu, meraih Anugerah HDX di Jakarta. Kemudian ada tembang hits dan fenomenal berjudul “Kasiak Tujuah Muaro” dengan mengantarkan tiga nama beken yakni Zalmon sebagai penyanyi, Agusli Taher pencipta lagu dan Ferry Zein sebagai pemusik.
Sebanyak 20 tembang hitsnya juga pernah dinyanyikan selain Tiar Ramon juga pernah dinyanyikan penyanyi Indonesia Harvey Malaiholo berjudul Mandeh, kemudian kado terbaik untuk Agusli Taher dipersembahkan pula oleh Harvey Malaiholo melalui tembang “Pitunang Saluang Nan Hilang” disusul Betharia Sonata dengan tembang “Minangkabau Dalam Lagu”.
Sederetan penyanyi Minang yang pernah membawakan tembang Agusi Taher diantaranya Tiar Ramon, Anroys, Kardi Tanjung, Nedi Gampo, Ferry Zein, Febian, Rosnida, Dessy Shantia, Gamawan Fauzi”, Odi Malik dan penyanyi cilik Ima Gempita yang kesemuanya pernah hits.
Hal yang menarik pula keluarga Agusli Taher sebenarnya bukanlah berasal dari keluarga seniman, ia anak seorang petani. Sejak berusia belasan tahun ia telah memiliki kegemaran mendengarkan musik dan lagu-lagu. Bahkan di usia 10 tahun, ia mengaku telah memainkan alat musik gitar. Pengalaman pertamanya saat masih berusia 15 tahun, ikut bergabung dengan orkes gamad Ikatan Budi saat itu ia merupakan anggota grup sebagai pemain gitar.
Di sela kesibukannya sebagai peneliti, ia mengaku tak pernah berhenti menciptakan lagu. Bahkan, saya sering kerja serabutan ; sebagai pencipta, produser rekaman, juga sekaligus mencari penyanyi yang pas dengan lirik yang diciptakannya.
Sejumlah penghargaan pernah dikantongi Agusli Taher diantaranya meraih penghargaan Gubenur Sumbar, yakni Citra Musik (1998), Anugerah Musik (2004), dan Anugerah Tuah Sakato (2008). Di tingkat nasional, ia memperoleh Nugraha Bhakti Musik Indonesia tahun 2005 silam dan anugerah lagu Minang beberapa tahun silam.
Catatan Redaksi
Muharyadi, Penyuka Musik Minang, Kurator Seni Rupa dan Jurnalis
