BPS Alami Inflasi Selama Bulan Mei 2021, Ini Faktanya!

by -
foto : cermati

SEMANGANTNEWS.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) disebut alami Inflasi selama bulan Mei 2021, sebesar 0,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Inflasi merupakan suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus, kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas pada barang lainnya.

Inflasi berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain: konsumsi masyarakat yang meningkat.

Berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.

Selain itu, ketidakstabilan ekonomi dan tingkat penjualan juga menimbulkan inflasi. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto, mengatakan 78 kota dari 90 kota yang dipantau BPS mengalami inflasi pada Mei 2021.

Sedangkan 12 kota lainnya mengalami deflasi atau secara keseluruhan mengalami inflasi sebesar 0,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara jika dibandingkan inflasi tahun ke tahun atau Mei 2021 terhadap Mei 2020 sebesar 1,68 persen.

“Jadi kenaikan di bulan Mei akibat adanya puasa maupun Hari Raya tidak terasa meningkatkan harga-harga di bulan Mei,” jelas Setianto dalam konferensi pers daring, Rabu (2/6/2021).

Setianto menambahkan inflasi tertinggi terjadi di Manokwari, Papua Barat sebesar 1,82 persen dan terendah terjadi di Tembilahan, Riau sebesar 0,01 persen.

Sementara deflasi tertinggi terjadi di Timika, Papua sebesar 0,83 persen dan terendah terjadi di Palembang sebesar 0,02 persen.

Inflasi terjadi karena ada kenaikan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,32 persen. Disusul kelompok pakaian dan alas kaki, serta kelompok perumahan seperti air dan listrik.

“Untuk transportasi kalau kita lihat secara rinci andil terbesar adalah jasa angkutan penumpang dengan andil 0,07 persen,” tambahnya.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rusli Abdullah menilai tren kenaikan inflasi tersebut sebagai sinyal yang positif.

Sebab, hal tersebut menunjukkan permintaan masyarakat atau daya beli masyarakat mengalami peningkatan saat puasa atau Lebaran.

“Ini adalah sinyal yang baik bahwa ada permintaan yang terstimulus terutama transportasi, pakaian dan alas kaki karena Lebaran kemarin,” jelas Rusli kepada VOA, Rabu (02/06/21).

Indef memperkirakan tren inflasi dalam beberapa bulan ke depan akan mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat.

Menurutnya, tren ini juga selaras dengan nilai ekspor Indonesia.

Dalam catatan BPS, nilai ekspor Indonesia pada April 2021 mencapai USD 18,48 miliar atau naik tipis 0,69 persen dibanding ekspor Maret 2021.

Namun nilai ekspor naik cukup signifikan sebesar 51,94 persen jika dibandingkan April 2020.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-April 2021 mencapai USD 67,38 miliar atau naik 24,96 persen dibanding periode yang sama tahun 2020.

Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi.

Merupakan indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi.

Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadang kala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga.

 Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.

(sumber : voaindonesia & wikipedia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.