Yunizah, Seniman dan Perajinan Batik Besurek Bengkulu Asal “Urang Awak” Karya-karyanya Makin Dilirik Publik

by -
Seniman dan perajinan Batik Besurek Bengkulu Yunizah asal urang awak telah 30 tahun berkiprah membatik di Bumi Raflesia
Seniman dan perajinan Batik Besurek Bengkulu Yunizah asal urang awak telah 30 tahun berkiprah membatik di Bumi Raflesia

BENGKULU, SEMANGATNEWS.COM – Kolaborasi desain motif batik besurek Bengkulu dengan motif Minang sebagai suatu kekuatan dunia batik ternyata mampu menempatkan seni batik di provinsi Bengkulu menjadi kekuatan baru Industri batik di Indonesia.

Betapa tidak, di luar Jawa, ternyata batik sebagai salah satu warisan dunia versi UNESCO yang cuma ada di Indonesia ternyata juga berkembang di propinsi Bengkulu dengan warna-warnanya yang cukup beragam, seperti merah, kuning, biru, maupun hitam.

Baca Juga: Pelatihan Batik Cap Industri Kecil dan Menengah Mendapat Antusias Tinggi Dikalangan Wanita Muda di Sanggar Batik Canting Buana Padang Panjang

Warna-warna tersebut berpadu dalam selembar kain dengan beragam motif tanpa meninggalkan motif kaligrafi sebagai motif dasar, sebagaimana dikemukakan seniman dan perajin batik asal “urang awak” Yunizah (60 th) yang telah menekuni batik sejak lebih 3 (tiga) dekade lalu di propinsi Bengkulu ketika ditemui semangatnews.com, di sanggarnya Galeri Sutra, Jalan Danau Nomor 23 Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu, Senin (1/7/24).

Batik Besurek karya Yunizah yang tetap memasukan bunga raflesia dalam motif batik besurek karyanya
Batik Besurek karya Yunizah yang tetap memasukan bunga raflesia dalam motif batik
besurek karyanya

Menurut Yunizah, beda dengan batik di Minangkabau yang kini kehadirannya mulai digandrungi publik dengan motif-motifnya yang bersumber dari ragam hias Minang, di propinsi Bengkulu batik besurek memiliki ciri khas tulisan kaligrafi yang dalam catatan sejarah yang ada masuk ke Bengkulu pada abad XVI bersamaan dengan Islam.

Batik Besurek karya Yunizah dengan motif motifnya dengan kelembutan warnanya yang terlihat indah
Batik Besurek karya Yunizah dengan motif motifnya dengan kelembutan warnanya yang terlihat indah

Sebelum Islam masuk, Bengkulu sebenernya telah memilki kain tenun berupa tenun Delamak, dengam motif pucuk rebung, garis pantai, perahu, siku keluang, dan manusia dan lainnya. Tenun Delamak inilah kemudian memperoleh sentuhan batik besurek yang kini tumbuh dan berkembang di bumi raflesia ini, ujar Yunizah.

Ada tambahan motif saat tenun Delamak dan batik besurek bersatu, yaitu kaligrafi yang dipadu dengan motif pucuk rebung, garis pantai, dan lainnya. Sehingga, motif kain semakin kaya.

Batik Besurek Bengkulu karya Yunizah tetap menempatkan bunga raflesia sebagai icon karyanya
Batik Besurek Bengkulu karya Yunizah tetap menempatkan bunga raflesia sebagai icon karyanya

Mengamati secara teliti, dalam batik besurek seringkali muncul ciri batik Jawa. Belum diketahui secara pasti mengenai kemunculan motif batik Jawa yang kadang terdapat dalam batik Besurek. Namun karena ia berdarah Minang dan semasa bersekolah dulu juga belajar ragam hias daerah sebagai kolaborasi yang hasilnya lumayan menarik, kata Yunizah lagi.

Pengaruh Batik Jawa dan Jadi Cendramata

Dalam catatan yang ada, batik besurek Bengkulu, beberapa pengrajin batik Jawa yang hidup dan merantau ke propinsi Bengkulu ternyata turut memperkaya motif batik besurek. Meski bukan hasil penelitian, tetapi ada dugaan bahwa saat Panglima Pengeran Diponegoro Sentot Ali Basya, diasingkan di Bengkulu pada tahun 1833 silam sudah mulai terasa pengaruh tersebut, ujar Yunizah menyampaikan sejarah batik besurek.

Pada awalnya, batik besurek hanya digunakan untuk upacara adat, seperti pakaian pengantin pria pada saat nikahan, acara siraman calon pengantin putri, ziarah kubur sebagai rangkaian upacara penikahan, dan lain sebagainya.

Pada perkembangannya, batik besurek juga digunakan untuk berbagai kepentingan, seperti pakaian dinas, pakaian pesta, busana muslim, maupun busana harian. Kemudian batik besurek juga digunakan untuk produk cinderamata, seperti dompet, tempat tisu, tas, kopiah, dan berbagai aksesoris lainnya.

Kini berkat keterampilan Yunizah, batik besurek Bengkulu juga ia perkaya dengan beragam eksplorasi ragam hias batik Minang hingga mampu memperkaya desain dan motif batik yang ia kerjakan di sanggarnya. Uniknya sebagian besar karya batik yang dihasilkan wanita asli kuranji kota Padang memakai kain sutera berpemukaan halus dan lembur dengan peralatan sama seperti batik pada umumnya.

Setia Melayani Publik dan Juga Pelatihan Membatik

Agar dunia seni batik besurek tetap eksis di provinsi Bengkulu, sanggar batik Galeri Sutra milik perempuan asal urang awak ini siap dikunjungi publik setiap hari jam kerja bahkan tidak menutup kemungkinan, baik kalangan pelajar, mahasiswa bahkan kaum ibu-ibu untuk belajar membatik, agar batik besurek makin dikenal masyarakat luas hingga ke mancanegara.

Yunizah mantan guru SMKN 5 Bengkulu karena telah purna bakti sejak dua tahun lalu yang desain karya batiknya pernah meraih peringkat pertama tingkat nasional tahun 2009 silam itu, bersama putri semata wayangnya “Sutra” lulusan fakultas kedokteran salah satu perguruan tinggi di Bengkulu tetap berkomitmen untuk terus mengembangkan batik besurek dengan beragam eksplorasinya, karena hampir seluruh daerah di tanah air kini telah memiliki batik dengan motif khas masing-masing daerah, tinggal sekarang kita tetap berkompetisi menghasilkan batik-batik terbaik dengan motif budaya lokalnya, ujar Yunizah memberi penjelasan. (mh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.