Ruang Garasi Jakarta Selatan Menggelar Pameran Tunggal Indarto Agung Sukmono Menampilkan Ruh Kota Kudus Jawa Tengah

by -
Ruang Garasi Jakarta Selatan Menggelar Pameran Tunggal Indarto Agung Sukmono Menampilkan Ruh Kota Kudus Jawa Tengah
Kana Fudhi Prakoso

JAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Kembali Ruang Garasi di Jalan Gandaria IV/2 Keramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menggelar pameran seni rupa. Kali ini menampilkan pameran tunggal Indarto Agung Sukmono (54 th) yang digelar sejak 20 September sd 02 Oktober 2024 mmendatang dengan menyuguhkan puluhan gambar hitam putih berformat kecil dan sedang yang dikerjakan sejak lebih satu dekade silam hingga 2020 an.

Baca Juga : Sisi Gelap Seni Rupa

Pameran ini menarik disaksikan karena bermuatan narasi kota Kudus Jawa Tengah berjulukan kota santri dan kota kretek yang memiliki kebudayaan berusia ratusan tahun dengan seperangkat nilai-nilai histori dan kultural. Tak salah kiranya jika Kudus memiliki identitasnya sendiri sejak lama dengan ciri yang dapat membedakannya dengan daerah lain di tanah air baik secara sosial dan identitas kolektif yang cukup indah dan menawan.

Gadis dan Mesin # Kudus, 21,0 x 29,7 cm, Ballpoint di atas kertas, 2013
Gadis dan Mesin # Kudus, 21,0 x 29,7 cm, Ballpoint di atas kertas, 2013

Hal ini pulalah yang ditelusuri dan disiasati melalui kerja kreatif seniman Indarto Agung Sukmono, lelaki kelahiran Sragen, Jawa Tengah 24 Nopember 1969 yang juga alumni ISI Yogyakarta, Jurusan Seni rupa dan Desain minat Seni Lukis 1994, sebagaimana disampaikan Direktur Ruang Garasi yang juga salah seorang pelukis wanita terkemuka Indonesia Kana Fudhi Prakoso, kepada semangatnews.com, Selasa pagi (17/09/24).

Menurut Kana demikian panggilannya, nama Kudus memiliki keunikan secara linguistik. Karena Kudus merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang diambil dari bahasa Arab, yaitu kata “Al-Quds” yang kemudian berubah menjadi Qudus, yang secara pelafalan lebih dikenal sebagai Kudus yang memiliki makna suci dan bersih dimana secara historis, daerah ini merupakan daerah peninggalan Sunan Kudus semasa penyebaran agama Islam pada abad ke 15 M dan menyimpan berbagai peristiwa bersejarah di dalamnya.

Jalan Ke Menara # Kudus, 21,0x29,7 cm, ballpoint di atas Kertas, 2011
Jalan Ke Menara # Kudus, 21,0×29,7 cm, ballpoint di atas Kertas, 2011

Sebagai catatan, ujar Kana memberi penjelasan, penyebaran agama Islam di abad 15 masehi itu, salah satu peninggalan terpentingnya adalah Masjid Al-Aqsa atau biasa dikenal sebutan masjid Menara Kudus yang di desain dengan gaya arsitektur Hindu bermenara menyerupai candi. Kemudian terdapat juga masjid Sunan Muria, di ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut sebagai jejak peninggalan Walisongo yang masih bertahan hingga abad ini.

Merekam Suasana Keseharian

Menyimak satu diantara sejumlah karya Indarto panggilan akrab Indarto Agung Sukmono berjudul “Jalan Menuju Menara #Kudus”, merupakan upaya Indarto merekam Suasana keseharian di Masjid Al-Aqsa lengkap dengan Menara Kudusnya. Bangunan ini merupakan saksi penyebaran Agama Islam di pulau Jawa yang setiap harinya tak pernah sepi dari wisatawan maupun masyarakat yang melakukan ibadah disana,” ujar Kana Fudhi Prakoso.

Rumah Kembar# Kudus, 21,0 x 29,7 cm, ballpoint di atas kertas, 2012
Rumah Kembar# Kudus, 21,0 x 29,7 cm, ballpoint di atas kertas, 2012

Indarto menyimpan keterpukauan pada citra perkotaan yang khas dan lemah lembut dari kota Kudus dengan segala macam kehidupannya melalui gambar-gambar yang penuh ilham dan menghadirkan perasaan dirinya dalam hubungannya dengan kota Kudus yang ia hadirkan dalam pameran tunggal ini bertajuk Roh Kudus.

Yang menarik lagi kecintaan terhadap kota Kudus yang mengalir melalui gambar dan lukisan yang meski kelihatan sederhana, namun berhasil menguasai “jiwa” dan “ruh” kota Kudus. Melalui seni gambar dan lukisan, perupa Indarto memiliki cara menjabarkan strategi berwawasan identitas, salah satunya dilihat dari aspek yang kerap dilupakan orang banyak seperti konservasi bangunan kuno bersejarah serta merekam budaya dan tradisi kehidupannya.

Tirai Portal, Tinta, Charcoal dan woodstein di kanvas 135 x 150 cm, 2020
Tirai Portal, Tinta, Charcoal dan woodstein di kanvas 135 x 150 cm, 2020

Sebagaimana direfresentasikan perupa ini melalui karyanya berjudul “Jalan Menuju Menara #Kudus”, bersuasana keseharian di Masjid Al-Aqsa dengan Menara Kudusnya. Bangunan saksi penyebaran agama Islam di Jawa ini, setiap hari tak pernah sepi dari wisatawan maupun masyarakat yang akan melakukan ibadah.

Sebagai ilustrasi ringan akan hal itu, bahwa kemampuan teknik drawing yang mumpuni, detail dan realistik, dapat dilihat pada karya Indarto berjudul “Rumah Kembar #Kudus”, perupa ini tampak berupaya menyimpan memori masyarakat Kota Kudus.

Bukan sekadar membuat dokumentasi visual melalui goresan-goresan pena di atas kertas, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai disetiap karyanya. Bukan tidak mungkin, kelak bangunan-bangunan yang dilukis Indarto ini akan hilang di tangan generasi berikutnya. Jejak garis dalam karya Indarto telah membekas di semua lini kehidupan, dimana ia mempunyai kesadaran untuk mencatat kembali kehidupan seni budaya dan bentuk-bentuk arsitektur kota kelahirannya.

Lihat saja karya Indarto lainnya berjudul “Jalan Menuju Menara #Kudus”, merupakan upaya Indarto merekam suasana keseharian di Masjid Al-Aqsa, lengkap dengan Menara Kudusnya. Bangunan tersebut merupakan saksi penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Mesjid ini setiap hari tak pernah sepi dari wisatawan maupun masyarakat melakukan ibadah. Kemampuan teknik drawing, detail, rinci dan realistik, dapat dilihat pada karya lain berjudul “Rumah Kembar #Kudus” yang tampil memukau dan menghipnotis mata.

Ketika Indarto melukiskan kota tempat tinggalnya dari kehidupan yang ada, semua beban berat tentang kebutuhan materiil ditinggalkannya. Ada kekuatan ekstra yang mampu membawa Indarto mengekspresikan emosi identitasnya, yang kemudian ia ingin menghadirkan “Ruh” yang berakar dari warisan dan tradisi akan kearifan lokal yang telah mengasuh, mendidik dan membesarkannya.

Salah satunya ia menghadirkan karya berjudul “Barongan Anak # Kudus”. Dalam karya ini Indarto meletakkan harapan tentang budaya di Kudus, yang entah sampai kapan anak-anak akan terus melestarikan kemudian mencintai seni budayanya sendiri ? Hanya ruang dan waktu yang bisa menjawabnya. (muharyadi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.