Yulhendri, Pematung Nasional Peserta Pameran 95 Tahun Arby Samah, Menginsprirasi Handicraft Berbasis Budaya Lokal Untuk Indonesia

by -
Yulhendri, Pematung Nasional Peserta Pameran 95 Tahun Arby Samah, Menginsprirasi Handicraft Berbasis Budaya Lokal Untuk Indonesia
Yulhendri seniman patung Nasional dan Pekerja seni (kanan) diskusi dengan Doni Saputra Sekretaris Dinas Perisdustrian dan Tenaga Kerja Payakumbuh di Taman Budaya Sumbar

PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Indonesia dengan banyak provinsi di tanah air saat ini sebenarnya memiliki potensi luar biasa untuk mengembangkan handicraft berupa souvenir, kerajinan tangan, cendera mata berbasis budaya lokal untuk dijadikan salah satu kekuatan ekonomi baru saat ini, sepanjang dikelola secara akuntable, profesional dan berkelanjutan.

Baca Juga: Peserta Pameran Internasional 95 Tahun Arby Samah Kecewa Atas Ketidakhadiran Walikota Padang Pada Agenda Gala Dinner Yang Telah Dijanjikan

Kita memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang memadai berupa bahan baku dan tenaga kerja yang cukup di bidang masing masing, lembaga pengelola dan lain sebagainya.

Diantara Handicraf karya Yulhendri
Diantara Handicraf karya Yulhendri

“Persoalan sekarang bagaimana kita mampu memanfaatkan semua itu menjadi salah satu kekuatan ekonomi baru yang pada gilirannya akan mendongkrak perekonomian nasional,” ujar Yulhendri seniman dan pekerja seni “urang awak” di galeri Taman Budaya, Jalan Dipenogero 31 Padang, Minggu malam (22/06/25).

Menurut Yulhendri yang juga pimpinan Zola Galery Studio di Desa Wisata Kasongan Yogyakarta menyebutkan, di era digital saat ini Handicraft menjadi semakin populer. Meski teknologi telah mengambil alih hampir setiap aspek kehidupan, namun dari aspek hasil kerja sebenarnya ada pesona tak tergantikan dari produk yang dihasilkan melalui tangan sendiri.

Prototype handicraft karya Yulhendri dengan obyek sosok pejuang
Prototype handicraft karya Yulhendri dengan obyek sosok pejuang

Karena terdapat kepuasan tersendiri dalam membuat sesuatu dengan pikiran, jiwa, dan tentu saja, tangan kita sendiri sesuai skill performance orang menciptakannya.

Banyak perajin mungkin memilih menggunakan bahan alami berupa kayu, kulit, bambu, atau tanah liat atau limbah yang dapat dijadikan handycraf. Sementara yang lain memilih menggunakan bahan buatan manusia seperti kertas, kain, atau plastik.

Burung Hantu prototype Handicraf karya Yulhendri
Burung Hantu prototype Handicraf karya Yulhendri

Tak peduli bahan apa yang mereka gunakan, para perajin mampu menciptakan keajaiban dengan sentuhan ajaib dari tangan mereka sesuai kerangka desain yang telah diciptakan untuk itu,” ujar Yulhendri

Soal teknik handicraft juga beragam dari banyak daerah ini suatu keniscayaan. Mungkin saja ada yang menggunakan teknik tradisional turun-temurun yang telah diajarkan dari generasi ke generasi, sementara yang lain memadukan teknik kuno dengan ide-ide baru yang segar.

Ada juga yang bereksperimen dengan teknik modern atau menciptakan teknik mereka sendiri. Intinya, handicraft penggabungan imajinasi dengan keterampilan tangan untuk menciptakan keindahan yang semakin langka pada zaman digital ini, ujar Yulhendri yang produk produk Zola Galery Studio mampu menembus pasar Eropa, Amerika, Asia dan dalam negeri dari beragam produk ciptaannya sejak 1998 lalu.
Regulasi dan Perlindungan Hak Cipta

Untuk mengantisipasi perlindungan hak cipta bagi pencipta dan pembuat desain handicraft berbasis budaya lokal yang diperlukan saat ini tentulah adanya regulasi dan perlindungan hak cipta yang kuat melalui kolaborasi Kementerian Kebudayaan, Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, kementrian Usaha Mikro Kecil dan Menengah, Kementerian Pariwisata dan lainnya hingga produk yang dihasilkan benar benar terjamin sebagai salah produk unggulan dan tidak merugikan pengelola maupun asosiasi yang telah memproduksi handicraf dibanyak provinsi, kota, kabupaten di tanah air dengan memberi kemudahan birokrasi yang tidak,” ujar Yulhendri seniman lulusan ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta memberi ilustrasi.

Disebutkan, handicraft bukan hanya berfungsi sebagai dekorasi semata, tetapi juga memiliki makna sosial dan budaya bagi suatu daerah. Selama ini banyak handicraft menggambarkan cerita-cerita tradisional, kepercayaan spiritual, atau adat istiadat masyarakat tertentu. Karena melalui handicraft, sekaligus kita mempelajari dan menghormati warisan budaya bangsa.

Karena itu tidaklah mengherankan jika handicraft menjadi bahan pilihan bagi penikmat seni dan kolektor barang unik. Dan, handicraft juga menjadi suvenir populer berbasis budaya lokal bagi wisatawan mancanegara dan domestik yang mencari kenang-kenangan autentik dari suatu tempat ketika ia berkunjung.

Bahkan bagi Kepala Negara, Kementrian dan Kepala daerah (Gubernur, Wali Kota dan Bupati) di seluruh daerah di Indonesia dapat menjadikan produk handicraft sebagai cendera mata bernilai estetis tinggi berbasis budaya lokal sebagai kekuatan Indonesia dengan keragaman budayanya, baik di negeri sendiri maupun di banyak negara,” ujar Yulhendri. (mh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.