PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Siapa sangka wanita cantik muda usia Shekar Hanum Pramesty (23 th) yang ditahun 2024 memperoleh predikat juara pertama Pemuda Pelopor Bidang Sosial dan Budaya kota Padang dan pemenang ketiga kategori yang sama tingkat provinsi Sumatera Barat ternyata memiliki kemampuan luar biasa menciptakan batik tulis bermuatan nilai nilai budaya bersumber dari motif ragam hias berbasis budaya lokal hingga batik tulis yang diciptakannya sejak lebih dua tahun hingga kini mulai dilirik publik.
Baca Juga : Wacana Museum Seni Rupa Telah Lama Bergulir, Kini Muncul Kembali untuk Pariaman
Kekhawatiran akan lenyapnya nilai nilai budaya melalui ragam hias Minangkabau di tengah-tengah perubahan dan perkembangan kemajuan zaman minimal dapat diminimalisir sebagai suatu kekuatan khas daerah di luar pulau Jawa yang selama ini lebih dikenal publik ketimbang batik yang ada di daerah kita secara perlahan mulai terbantahkan.

“Kalau bukan kita generasi muda saat ini turut mempertahankan nilai nilai budaya yang ada di tengah tengah masyarakatnya, kemudian disampaikan dan diteruskan melalui seni batik bermotif ragam hias Minangkabau untuk masyarakat luas, siapa lagi?”,” ujar Hanum panggilan akrabnya seraya memperlihatkan batik ciptaannya dikediaman orang tuanya Jalan Batu Ampa Pampangan Nan XX RT 003/ RW 011, Padang mengawali pembicaraannya dengan Semangatnews.com, Minggu Sore (13/07/25).
Sejak menempuh pendidikan di SLTP hingga berlanjut ke SLTA persisnya di SMKN 4 (SSRI/SMSR) Padang (2020) bahkan berlanjut ke perguruan tinggi seni rupa UNP Padang (2024), Hanum mengakui bertekad lebih memilih kompetensi batik bermuatan budaya lokal dengan menekuni banyak ragam hias di tanah air, apalagi ragam hias Minangkabau yang syarat makna dan nilai nilai filosofis yang dilaluinya melalui jalan panjang dan berliku, penuh sula dan duka,” ujar Hanum menceritakan pengalamannya.

Bagaimana pun seni batik sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia versi UNESCO tahun 2009 silam yang melambangkan kehidupan manusia mulai awal hingga akhir menjadi kekayaan tersendiri bagi Minangkabau yang harus ditumbuhkembangkan secara bersama sama tanpa henti hingga suatu saat menjadi kekuatan baru di daerah kita, ujar anak ketiga dari empat bersaudara buah perkawinan Masril asal lima koto, Sumbar (ayah) dan Fifi Yazmi dari pulau Jawa (ibu).
Dalam beberapa bulan terakhir sejumlah batik berbasis budaya lokal di kota Padang mulai dikerjakan Hanum dengan mengadopsi sejumlah obyek bersejarah melalui eksplorasi bentuk-bentuk ornamentik seperti obyek kota tua yang menggambarkan pelabuhan muara Padang di Sungai Batang Arau dan dibawahnya terdapat Jembatan Siti Nurbaya divisualkan dalam gambaran kapal dengan latar Jembatan Siti Nurbaya.

Motif arsitektur bangunan tua dari struktur bangunan Bank Indonesia lama di Kota Tua Padang, mengibaratkan akar yang menopang tumbuhan, begitu pula dengan keberadaan rupiah yang sebagaii penopang tumbuhnya perekonomian dan kestabilan hidup masyarakat Indonesia yang didalamnya terdapat setengah lingkaran berjumlah 4 (empat) bagian bermakna jumlah nominal pecahan uang logam Rupiah Rp. 100, Rp. 200, Rp. 500 hingga pecahan Rp 1000. Kemudian bentuk persegi panjang dengan jumlah 8 buah, melambangkan jumlah nominal pecahan uang kertas rupiah yakni, Rp. 1.000, Rp, 2.000, Rp. 5.000, Rp. 10.000, Rp 20.000, Rp 50.000, hingga pecahan Rp 100.000.
Untuk Garis Gelombang dideskripsikan sebagai lambang perekonomian masyarakat yang dapat mengalami pasang surut melalui rupiah dalam setiap tahap kehidupannya. Lihat Lekukan relung motif Minang berupa Kaluak paku menghadap ke atas dan bawah yang dihiasi dengan ornamen tumbuhan, melambangkan bahwa ; keberadaan rupiah mengayomi dan menjangkau seluruh kalangan masyarakat, baik masyarakat kalangan atas maupun bawah.

Diperkuat Relung sebagao simbol bangunan bank Indonesia dengan elemen motif lainnya mengibaratkan perlindungan Bank Indonesia terhadap keberadaan dan kestabilan nilai rupiah di tengah kehidupan masyarakat Indonesia.
Ada juga batik mengadopsi diberi nama Motif Nagari Nan XX yang mengangkat objek utama Kantor Camat Lubuk Begalung, sebagai Ikon Nagari. Karena arsitertur bangunannya cukup unik dibanding kantor camat lainnya di Kota Padang, terutama di bagian atap. Karena sebagian besar Kantor–kantor Camat di kota Padang memiliki bentuk atap gonjong segitiga seperti atap Rumah Gadang, pada arsitektur kantor Camat Lubuk Begalung terdapat relung–relung mengibaratkan putaran–putaran air.
Yang menariknya di samping kanan dan kiri arsitektur kantor camat dihiasi pula dengan rindangnya dedaunan bambu yang banyak di jumpai di sekitar Lubuk Begalung hingga menginspirasi saya untuk menuangkan dalam bentuk motif batik kota Padang, jelas Hanum yang mengaku saat ini belum memiliki studio refresentatif tempat ia bekerja menciptakan batik tulis karyanya alias masih menempati kediaman orang tuanya sementara.
Kemudian ada sejumlah eksplorasi motif batik diciptakannya bersumber seperti Kambang Nan Baradaik, Alunan Kehidupan, Kelembutan Wanita, Taraliah dan lainnya.
Untuk eksplorasi motif Taraliah dimaksudkan bersumber dari gambaran pergantian tradisi menyampaikan kabar bahagia seperti pernikahan, dimana dulunya masyarakat memberikan kabar bahagia pernikahan dengan membagikan siriah pada kerabat dan orang-orang yang diundang. Namun saat ini tradisi tersebut mulai tergantikan dengan permen atau rokok. Hal ini sebelumnya tidak tidak terdapat pada adat dan budaya Minang.
Melalui batik motif ini pula melalui kecendrungan dekoratif saya menyampaikan pesan tersirat, agar para generasi muda saat ini kembali mengingat sebuah tradisi masyarakat Minangkabau yang syarat nilai nilai sekaligus cerminan budaya gotong royong dan makna kebersamaan dalam menjalani hidup dan kehidupan ini yang harus dipertahankan kalau kita tidak ingin kehiangan sama sekali.
Sementara Motif Alunan Kehidupan, merupakan perpaduan motif ukir Rumah Gadang, Itiak Pulang Patang melalui kolaborasi motif modern bunga mawar menceritakan filosofi kehidupan tentang pertumbuhan (bunga) yang penuh rintangan, tetapi ia harus dijalani secara terarah (seperti iringan itiak pulang petang) sesuai alur kehidupan, tanpa harus mendahului takdir atau mengacaukan langkah yang telah dimulai di depan.
Gambaran lain dari motif yang dikerjakan Hanum yakni kolaborasi batik tulis yang saya ambil dari persoalan Kelembutan Wanita berbasis perpaduan motif Minang Limpapeh Rumah Nan Gadang melalui sentuhan desain modern bunga kembang sepatu.
Limpapeh Rumah Nan Gadang dalam Minangkabau dikenal sebagai Bundo Kanduang, dimana seorang ibu memiliki kelembutan dan kehangatan yang berbanding lurus dengan bunga kembang sepatu yang memiliki makna kecantikan, keindahan, keelokan sejalan sifat dimiliki seorang ibu dengan kelembutannya,” ujar Hanum memberi ilustrasi motif motif batik tulis yang dikerjakannya dalam beberapa bulan terakhir dan dilirik banyak pengagum dan kolektor seni batik tulis.
Dalam catatan kita, melestarikan warisan budaya merupakan salah satu bentuk benteng pertahanan budaya terhadap pengaruh budaya negatif dari luar yang demikian cepat datang dan pengaruhnya pada generasi muda akibat dampak arus komunikasi yang kini kian mengglobal melanda dunia ini.
Karena itu salah satu bentuk warisan budaya yang kita berupa bermacam “Ragam Hias Ukiran Tradisional Minangkabau” sebagai cerminan nilai leluhur suatu bangsa, maka seyogyanya ia harus dijaga dan dilestarikan hingga benar benar menjadi kekuatan baru sekaligus marwah peradaban daerah berisi seperangkat nilai nilai di dalamnya. (muharyadi)
