Oleh : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Ali Umar (58 th) seniman asal Sunua Padang Pariaman yang selama ini bermukim dan berkarya di Yogyakarta, saat mengikuti pameran 95 tahun Arby Samah di Taman Budaya, Sumatera Barat –19 sd 23 Juni 2025—mengapungkan wacana pentingnya museum seni rupa dihadapan jajaran Dinas Kebudayaan Sumbar dihadiri Budayawan, Seniman dan Akademisi dengan mengadopsi nama museum maestro “Nashar dan Zaini” di Pariaman, Selasa lalu (24/06/25) patut kita apresiasi bersama,
Wacana ini langsung direspon Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Jefrinal Arifin dan jajarannya dengan menghubungi langsung Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman. Dua hari kemudian Ali Umar yang ditemani Yulhendri bergerak cepat menuju Pariaman.

OPD terkait di Pariaman menyambut positif usulan perlunya mendirikan museum seni rupa di kota Pariaman yang difasilitasi Dinas Kebudayaan Sumbar dengan memanfaatkan gedung/bangunan rumah tabuik Subarang milik pemerintah berlokasi bersebelahan dengan kantor wali kota Pariaman.
Pentingnya museum di Pariaman/di Padang Pariaman sendiri, mengingat jasa kedua tokoh “Zaini dan Nashar” dalam peta seni rupa ini dinilai sangat layak dan pantas untuk itu. Nama museum ini baru sebatas usulan.
Kedua tokoh, yang lahir pra kemerdekaan RI, pernah mengikuti pendidikan di INS Kayu Tanam, di bawah bimbingan Maestro Wakidi dan M. Syafei, kemudian bertualang ke pulau Jawa memperdalan ilmu dengan Basuki Abdullah, S. Soedjojono dan Affandi hingga membuat namanya dikenal bukan hanya di Indonesia, bahkan di dunia internasional.
Bukan hanya itu, di kota Pariaman atau kabupaten Padang Pariaman terdapat juga sejumlah nama dan tokoh tokoh penting seni rupa di Indonesia diantaranya ; Muslim Saleh, Osmania. Dari angkatan muda ada Ali Umar, Syahrizal Koto, Kamal Guci, Bodi Dharma, dan beberapa nama lain.
Yang namanya museum seni rupa berlabel nasional tentulah tidak akan membatasi diri diperuntukkan untuk karya karya seniman hanya berasal dari Kota Pariaman dan kabupaten Padang Pariaman semata. Ia bisa saja menampilkan karya karya terbaik seniman asal Sumbar, baik karya seniman yang bermukim di daerah maupun di luar daerah melalui skenario riset atau penelitian kurator museum.
***
Sebagai pusat kajian, pelestarian seni rupa sebagai bagian budaya yang ada sekaligus sarana tujuan kunjungan wisata seni dan budaya sebenarnya wacana mendirikan museum Seni Rupa di Sumbar telah lama mengapung. Persisnya hampir tiga dekade silam. Tetapi usulan tersebut redup dan tenggelam begitu saja. Karena museum mungkin dianggap belum penting oleh pengambil kebijakan daerah yang tidak berwawasan kesenian dan kebudayaan untuk itu.
Bahkan usulan perlunya museum seni sebagai pusat kebudayaan berisikan nilai nilai di akhir tahun 2024 lalu juga pernah muncul dengan memanfaatkan bangunan lama Kantor Wali Kota Padang yang diapungkan sejumlah seniman kepada Pemko Padang dilihat dari aspek sejarah, ilmu pengetahuan dan nilai nilai budaya. Ternyata juga redup di tengah jalan tanpa ada solusi dari pihak yang berkepentingan.
Kekeliruan asumsi seperti ini membuat niat baik akan pentingnya museum seni tidak memiliki titik temu yang signifikan. Karena pikiran kita sering mendua ; disuatu sisi kehadiran seni sangat dibutuhkan sebagai bagian budaya yang ada. Disisi lain kehidupan senimannya dibiarkan redup tanpa ada solusi. Lihat berapa banyak seniman yang semula kreatif dan produktif, tiba-tiba tenggelam begitu saja.
Dalam catatan kita, Sumbar pernah dicatat menjadi salah satu wilayah terpenting etalase seni rupa Indonesia, karena banyak melahirkan pahlawan nasional, alim ulama, pemikir, sastrawan, budayawan bahkan senirupawan sejak pra kemerdekaan, pasca kemerdekaan bahkan hingga kini.
Diantaranya Muhammad Hatta wakil Presiden RI pertama namanya tidak bisa dipisahkan dari Presiden RI Soekarno. Juga ada Tuanku Imam Bonjol, Agus Salim, M Natsir, Sutan Syahrir, M. Yamin, Bagindo Aziz Chan, Tan Malaka, Buya Hamka, Rasuna Said, Adinegoro dan lainnya. Sikap, perjuangan dan potensinya semata-mata untuk bangsa dan negara.
Selain mengharumkan Indonesia, para tokoh ini juga menjadi pemimpin di medan perang, pemikir di kancah diplomasi dan kreator pemerintahan yang mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
Dikaitkan tokoh-tokoh seni rupa, sejarah juga turut membuktikan, tradisi berseni rupa telah berlangsung lama dan berkelanjutan, baik di daerah maupun di perantauan. Ditandai kehadiran Wakidi sejalan munculnya pendidikan bercorak Barat di Bukittinggi, yaitu Sekolah Raja (1856) dalam bahasa Belanda disebut Hollands-di Inlandsche School (HIS). Kemudian berubah nama menjadi Kweekschool (1873).
Setamat Kweekschool Bukittinggi, Wakidi memperoleh tawaran menjadi guru menggambar mengasuh anak-anak pribumi. Diantara muridnya tercatat, Bung Hatta dan AH Nasution.
Bukan hanya di Kweekschool, beberapa tahun kemudian Wakidi juga ditawari menjadi guru di Indonesian National School (INS) Kayu Tanam, yang didirikan Engku M. Syafei (1926). Di INS ia disukai puluhan bahkan ratusan murid-muridnya. Sejak kemerdekaan tahun 1949 beliaupun mengajar di beberapa sekolah menengah di Bukit Tinggi.
Ada nama Baharuddin MS, Oesman Effendi, Huriah Adam, Syamsul Bahar, Mara Karma, Hasan Basri DT. Tumbijo, Montingo Busye, Zaini, Nashar, Ipe Mak’ruf, Itji Tarmizi, Alimin Tamin, Nuzurlis Koto, Osmania, Arby Samah, Mukhtar Apin, A.A. Navis, Wisran Hadi, Muslim Saleh, Nurdin BS, Mukhtar Jaos hingga ke tokoh-tokoh muda, baik di daerah maupun di perantauan.
Tinggal sekarang bagaimana pemko Padang Pariaman dapat berkolaborasi dengan Pemkab Padang Pariaman dan pemprov Sumbar untuk bekerja sama dengan berbagai pihak berkepentingan guna mengeksplorasi kekayaan seni rupa yang pernah lahir di tangan para seniman dengan beragam jenisnya sejak pra kemerdekaan hingga kini.
Mengingat museum merupakan salah satu tempat yang layak dikunjungi bagi pecinta seni dan budaya, wisatawan yang menawarkan pengalaman menakjubkan dalam mengeksplorasi kekayaan seni dan budaya.
Secara profesional pada museum terdapat berbagai karya seni seni, mulai seni lukis, seni patung, dan cabang seni lainnya yang memberikan wawasan tentang perkembangan seni bukan hanya di Sumbar, Indonesia bahkan mancanegara.
Kita menunggu penanganan dan pengelolaan serta regulasi Pemko Pariaman berkolabirasi dengan Pemkab Padang Pariaman diperkuat Pemprov Sumbar perihal hadirnya museum seni rupa berisikan perjalanan dari masa ke masa belajar dari banyak museum yang ada di Indonesia bahkan di belahan dunia sebagai suatu kekuatan kesenian dan kebudayaannya.
Sebagai wadah penjagaan warisan budaya, museum bukan hanya tempat menyimpan artefak dan karya seni, tetapi juga merupakan gambaran perjalanan menuju pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang dunia di sekitar kita.
Mengingat, mengunjungi museum bukan sekadar kunjungan biasa tetapi juga merupakan pintu gerbang menuju pengalaman penuh inspirasi, kaya nilai nilai budaya, memuat sejarah masa lalu, kini dan masa datang. (***)
Muharyadi, penggiat seni, kurator dan jurnalis
