Oleh : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Menarik interaksi sejumlah peserta pameran Next Motion #10 di Bale Banjar Sangkring Yogyakarta 18 Juni sd 6 September 2025 lalu perihal karya pelukis Melodia menyangkut gaya/ciri khas atau karakteristik yang membedakan satu karya seni dengan karya seni lainnya. Bahkan sejumlah teman teman seniman merasa kaget saat menyaksikan karya Melodia. Pasalnya mereka tidak lagi menemukan obyek sepeda atau becak yang yang selama ini selalu hadir.
Membicarakan gaya/ciri khas atau aliran dalam seni lukis, kita dapat menelusuri sejarah panjang peradaban manusia dimulai dari goresan-goresan di dinding gua hingga karya-karya kontemporer yang senantiasa menantang batas imajinasi, seni lukis selalu merefleksikan akan perubahan dinamika pada persoalan masalah sosial, politik, budaya dan ekonomi. Karena goresan kuas menceritakan kisah, setiap warna mengungkap emosi, dan setiap aliran menawarkan pandangan unik tentang dunia.

Dari sini pula, dalam perjalanannya membawa kita untuk menjelajahi berbagai aliran/gaya atau karakteristik seni lukis terkemuka dengan ciri-ciri khasnya beserta tokoh-tokoh di balik karya yang ada, dan pengaruhnya secara luas terhadap seni rupa bahkan budaya global yang terjadi setiap ruang dan waktu. Selain itu berbagai eksplorasi tersebut mengajak kita untuk memahami evolusi seni lukis dari zaman klasik hingga modern. Kita akan menemukan bagaimana faktor-faktor eksternal membentuk gaya dan tema dalam seni lukis.
Dalam catatan sejarah, sejak Renaisans telah muncul keindahan secara proporsional hingga ekspresionisme dengan kegelisahan emosional. Kita menyaksikan transformasi yang mengagumkan bahkan menghipnotis mata. Mengingat perjalanan ini bukan hanya tentang apresiasi estetika, melainkan juga memahami konteks sejarah dan budaya yang membentuk seni lukis sebagai bentuk ekspresi manusia.

Karena itulah mengamati dan memperhatikan karya-karya Melodia sejak namanya mencuat di tengah tengah piblik seni lukis, maka peralihan gaya/style lukisan-lukisannya sebagaimana yang kita ketahui bahkan dikemukakan sendiri oleh Melodia telah dimulainya sejak era tahun 2000. Pada beberapa percakapan dengan teman dekat Melodia, yang menantang Melodia membuat karya yang berbeda dari biasanya.
Era foto-realisme yang ditekuni selama ini dianggap telah selesai, karena bisa menyebabkan stagnasi yang membuat Melodia bisa terjebak di ‘zona nyaman’ sebagaimana dikemukakan pelukis asal Sumani, kabupaten Solok, Sumatera Barat ini dalam interaksinya dengan sejumlah seniman.

Dari peralihan lukisan era 2000 an hingga sekarang, lebih terlihat dominan pada obyek obyek yang direfersentasikan kepermukaan. Bukan pada style/gaya karya atau soal soal teknis yang melingkarinya. Perbedaan tersebut lihat diantaranya melalui lukisan berjudul “Perpustakaan Nasional, Jakarta, 2019” dan Banjar Sangkring , Yogyakarta, 2024.
Iklim berkesenian seperti seni rupa di Yogyakarta sendiri sudah sangat cair bahkan terbuka.. Karena suatu diskusi yang berujung sebagai masukan atau kritik secara sehat telah lazim dilontarkan dan tidak ada yang tabu untuk itu. Bagi yang tidak sensitif tentulah menjadi hal lain yakni “anti kritik” sebaliknya bila kritik dianggap membangun maka akan ada perluasan kedinamisan bentuk karya kedepan, semua itu tergantung dari cara para perupa untuk menyikapi. Meski diakui keputusan terakhir berada di tangan seniman itu sendiri.

Setelah melakukan perenungan maka lahirlah karya www.becakindotrans (Becak Dalam Dunia Nyata, 2000). Setelah itu banyak karya serupa dihasilkan Melodia pada beberapa tahun tahun-tahun kemudian bahkan hingga kini. Ada gairah baru dalam mengeksplorasi narasi. Tidak selalu memang, karena diantaranya Melodia tetap membuat karya dengan karya sebelumnya sampai hari ini terutama menyangkut style/gaya dan teknis berkarya yang melingkari masih saja tetap sama seperti periode periode sebelumnya. Isi obyek memang kita lihat ada yang berubah, meskipun isu yang diangkat “tetap bertumpu pada kesenjangan sosial” yang terus menginspirasi Melodia di karya karyanya.
Menurut Melodia sebagai seniman, seharusnyalah selalu menajamkan kepekaan akan keadaan sosial dan menggali pengalaman batinnya, menguasai bahasa yang dipakainya dan mencapai kebenaran-kejujuran pada nurani. Karena ketika kebenaran telah terpenuhi ia sekaligus berhasil mencapai keindahan. Melodia tetap saja setia melihat persoalan “kesenjangan sosial” dengan seperangkat masalah yang diusung kepermukaan sebagai bahasa utama karya.

Dalam catatan kita beberapa waktu lalu, tiga karyanya yang berjudul “Berkibarlah Benderaku”, 65 x 90 cm, cat minyak, 2022, pameran kedua Polisi Mbudaya “Wiwitan Pasa” Indonesia Indah #2, 75 x 100 cm, cat minyak, 2018 dan pameran ketiga di Museum Sonobudoyo Yogyakarta 18 Maret sd 18 April 2023menampilkan karya Indonesia Indah #1 75 x 100 cm, cat minyak, 2018 memperlihatkan semangat dan eksistensinya yang kuat untuk merespon dinamika kesenjangan sosial di tengah-tengah pesatnya laju pembangunan di negeri ini. Rohnya ada disitu untuk diangkat kepermukaan.
Semuanya tentu bermuara pada persoalan perkembangan dan perubahan pada suatu kota tempat berkumpul dan bermukimnya banyak manusia dengan segala strata sosialnya. Tetapi dari banyak penghuni kota tersebut tak sedikit pula orang menjadi asing di negerinya sendiri. Misalnya ada pembangunan disana sini tidak dirasakan sebagai tempat perbaikan nasib, bahkan pembangunan yang dilakukan tersebut membuat merka menjadi tersisih.
Narasi ketiga karya bagian menarik Daerah Istimewa Yogyakarta yang dijuluki kota budaya memiliki daya tarik tersendiri sebagai kota wisata. Bukan saja di era digital dengan media sosial seperti sekarang, ternyata Yogya memiliki kelengkapan sebagai kota yang menarik untuk di kunjungi. Yang menggelitik di ketiga karya keindahannya bukan semata disebabkan karena peninggalan budayanya, tetapi juga kehidupan keseharian masyarakatnya masih menyisakan banyak persoalan, diantaranya soal kemiskinan dan kesenjangan sosial.
Artinya di tengah gencarnya pembangunan di tanah air dalam keindahan pemandangan sehari-hari yang kita saksikan ada kegetiran, pahit manisnya hidup di tengah-tengah maraknya pembangunan walau telah puluhan tahun negarai ini merdeka, ternyata kesehjahteraan rakyat belum merata. Lihat ketiga karya yang dibuat detail dan rinci menyuarakan kesenjangan sosial yang kian menganga lebar.
Sebagai perumpamaan seperti Yogyakarta, yang banyak menyimpan kegelisahan dari kota tradisional dalam menghadapi perubahan menuju pembentukan sebuah masyarakat moderen. Karena itu dalam kehidupan, justru perubahan merupakan suatu keniscayaan suatu kota dengan masyarakatnya yang sangat menarik perhatian Melodia untuk memvisualkannya untuk dieksplorasi menjadi lukisan dengan seperangkat nilai-nilai.
Menurut Melodia, pada sejumlah peristiwa mereka hanya menjadi penonton perubahan kota yang sangat cepat, bahkan cepat sekali ditunjang kemajuan teknologi dan informasi. Kemudian gempuran media melalui iklan mempengaruhi pola pikir dan hidup serba konsumtif dengan gaya hedonisme hingga mereka tercerabut dari akar budayanya.
Hal yang menarik mengamati jauh diantara banyak karya-karya Melodia, pelukis ini lebih melihat dinamika perubahan masyarakat dengan situasi dan kondisi kotanya yang merupakan rekaman peristiwa atau setidaknya dapat dikatakan potret perubahan zaman yang terus terjadi setiap ruang dan waktu sebagai sebuah realitas dihadapan kita semua.
Menurut Melodia, karya-karyanya senantiasa konsisten pada perkembangan dan perubahan suatu kota tempat berkumpul dan bermukimnya banyak manusia dengan segala strata sosialnya. Tetapi dari banyak penghuni kota tersebut tak sedikit pula orang menjadi asing di negerinya sendiri. Ada pembangunan disana sini tidak dirasakan sebagai tempat perbaikan nasib, bahkan pembangunan yang dilakukan tersebut membuat mereka tersisih.
Jika kita amati lebih dan lebih dan lebih dalam, Melodia lebih kental melakukan kritik sosial di kanvasnya dalam bentuk ekspresi visual dari berbagai aspek kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya di tengah tengah masyarakat yang menyoroti sebagai isu-isu penting, ketidakadilan, atau masalah yang selama ini terabaikan bahkan bisa saja disembunyikan.
Melodia dengan khas di karya-karyanya melalui style realis memanfaatkan teknik melukis yang sejak lama ia kuasai, misalnya melalui simbol simbol becak, sepeda, kemacetan dimana mana, kendaraan umum, pedagang kecil melalui visualistik kematangan mengolah garis dan tarikan kuas pada figur atau obyek secara anatomis yang sempurna tetap saja bermuara sebagai pesan kritik sosial yang turut menggugah emosi publik.
Karya-karya Melodia yang amati, tetap saja berbau kritik sosial cukup tajam sebagai ruang dialog tentang isu-isu penting dalam masyarakat yang nyaris luput dari perhatian yang begitu liris untuk dibayangkan secara visual dan menyentuh hati nurani kita di tengah-tengah kesenjangan sosial yang ada di mana mana. (***)
Catatan Redaksi
Muharyadi, Penggiat Seni Rupa, Kurator dan Jurnalis
