YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Di tengah tengah pertumbuhan dan perkembangan seni rupa Indonesia saat ini sering muncul pertanyaan di kalangan masyarakat, berupa ; apa itu arsip seni, terutama berkaitan dengan karya seni rupa. Pertanyaan terkesan ringan, tapi tak boleh asal dijawab, karena dapat menimbulkan salah persepsi. Apalagi di era digital yang kian tumbuh subur seiring perubahanan dan perkembangan zaman.
Hal ini pulalah yang menjadi topik kuliah publik yang digelar Program Studi S1 Tata Kelola Seni FSRD dan prodi Magister Tata Kelola Pascasarjana ISI Yogyakarta bersama prodi seni rupa murni Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Surabaya dan Prodi seni rupa Telkom Universitas Bandung dalam suatu diskusi Kuliah Publik dengan nara sumber Dr. Mikke Susanto, jumat, 22 Agustus 2025, pukul 19.30 sd 21.00 Wib di Yogyakarta.
Menurut panitia diskusi, Dina, kalau menyebut arsip sering terkesan sesuatu yang ada di masa lalu. Rasanya pernyataan itu sudah kadaluwarsa. Jadi apa dan gimana “arsip seni” di masa kini? Apalagi di era digital. Sungguh banyak yang terjadi diantara kita dan arsip seni saat ini di tanah air.
Tetapi apakah benar demikian jawabannya?, tentulah kuliah publik yang digelar Dicti Art Laboratory, bekerjasama dengan para mitranya akan menjawab dari apa yang dibahas dan disimpulkan nara sumber, Dr, Mikke Susanto, M.A. melalui kuliah publik yang diprediksi menjadi topik hangat saat ini perihal arsip seni rupa Indonesia di era diigital saat yang bagi peserta untuk mengikutinya dapat menghubungi agar tidak ketinggalan unformasi lengkap dapat menghungi 081315573454 (Dina) atau Via Google Meet : https : //meet.google.com/jmd-avur-hgk sebelum kegiatan dimulai,” ujar Dina.
Dalam catatan semangatnews.com. narasumber Dr. Mikke Susanto, MA saat ini menjadi staf pengajar di Jurusan Tata Kelola Seni – Fakultas Seni Rupa ISI (Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Selain berkarya seni rupa juga merupakan pendiri Dicti Art Laboratory Yogyakarta yang sejak tahun 2000-an telah melakukan kerja kuratorial 140 lebih pameran seni rupa dan menulis sedikitnya 50 an judul buku. Kemudian menjalani profesi sebagai dinamisator kerja kreatif lain dan buku seni rupa yang telah banyak disitasi, diantaranya berjudul “Diksi Rupa” dan “Menimbang Ruang Menata Rupa” serta konsultan kuratorial koleksi Istana Kepresidenan RI sejak 2009.
Aktivitas internasional Mikke Susanto, sejak 2020 lalu menjadi anggota Dewan Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta juga memberi pertimbangan bidang kebudayaan untuk Gubernur dan anggota Dewan Akuisisi Koleksi National Gallery Singapore sejak 2017 hingga kini termasuk mengisi kegiatan simposium internasional di Stedelijk Museum Amsterdam dan National Gallery Singapura. (mh).
