Jakarta, Semangatnews.com — Operasi evakuasi di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, memasuki hari keempat setelah musala tiga lantai di pesantren tersebut ambruk mendadak ketika para santri tengah melaksanakan salat. Tim SAR gabungan terus bekerja penuh kehati-hatian demi menyelamatkan mereka yang tertimbun reruntuhan.
Sejak pagi buta, petugas gabungan—termasuk Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, dan tim medis—terus merayap di sela-sela puing beton. Struktur reruntuhan yang tak stabil memaksa mereka membuat galian sempit selebar sekitar 60 sentimeter dan kedalaman 80 sentimeter. Petugas harus merangkak tengkurap selama jam demi jam demi menjangkau titik-titik korban.
Metode evakuasi ini sangat berat dan berisiko karena getaran sedikit saja bisa memicu runtuhan lanjutan. Meski kondisi medan begitu sulit, sampai Rabu malam tim berhasil mengevakuasi total 18 orang dari balik puing, terdiri dari korban selamat dan yang tidak tertolong.
Dari 18 korban tersebut, sebagian dalam kondisi selamat dan mendapat perawatan medis di RSUD Notopuro dan RSI Siti Hajar. Namun, tidak sedikit pula yang harus meninggal dunia sebelum atau sesaat setelah evakuasi. Tim forensik dan DVI Polda Jawa Timur secara intensif melakukan identifikasi jenazah.
Proses identifikasi sudah membuahkan hasil: empat jenazah korban telah berhasil dikenali melalui data medis serta properti milik korban, sementara satu jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi.
Di tengah kesibukan evakuasi, para orang tua santri terus berdatangan ke posko dan lokasi kejadian, menunggu kabar anak-anak mereka dengan tangis dan doa. Wali santri meminta proses evakuasi dipercepat, terutama karena baunya sudah mulai menyengat — sinyal bahwa waktu emas (golden time) semakin menipis.
Kepala Basarnas Surabaya menyatakan bahwa jika dalam upaya manual tak ditemukan tanda kehidupan, opsi penggunaan alat berat akan segera dibahas. Namun, penggunaan alat berat bukan perkara sederhana—risiko merusak struktur puing atau melukai korban makin besar.
Basarnas juga menyebutkan bahwa hingga saat ini telah ditemukan 15 titik korban di bawah reruntuhan yang berpotensi dapat diakses. Dari titik-titik tersebut, tujuh di antaranya berada di zona terparah dan sulit dijangkau secara langsung.
Satu dugaan penyebab runtuhnya bangunan adalah kegagalan pondasi lama yang tidak mampu menahan tambahan konstruksi pada lantai atas, sehingga beban bangunan melebihi kapasitas struktural. Meski beban psikologis begitu berat terhadap tim penyelamat, mereka terus bergerak dengan satu misi: agar santri yang masih tertimbun bisa tertolong. Waktu terus berjalan, dan harapan masih menggantung di antara tumpukan bata dan beton.(*)
