Jakarta, Semangatnews.com – Presiden Prabowo Subianto mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi ancaman perlambatan ekonomi global dengan mempelajari pengalaman penanganan krisis ekonomi pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Pemerintah menilai pengalaman Indonesia melewati tekanan ekonomi pada 2005 dan 2008 menjadi pelajaran penting untuk menghadapi situasi global saat ini.
Dalam sejumlah pertemuan di Istana, Prabowo disebut mengundang beberapa tokoh ekonomi era SBY untuk berdiskusi mengenai strategi menjaga stabilitas ekonomi nasional. Fokus pembahasan diarahkan pada pengendalian inflasi, stabilitas rupiah, serta menjaga daya beli masyarakat.
Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia akibat tensi geopolitik dan tekanan pasar global. Nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan terakhir mengalami tekanan cukup besar seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi internasional.
Prabowo disebut ingin memastikan Indonesia tidak mengalami guncangan besar seperti yang pernah terjadi pada masa krisis ekonomi sebelumnya. Pemerintah menilai pengalaman menghadapi lonjakan inflasi dan kenaikan harga energi di masa lalu dapat menjadi referensi penting dalam menyusun kebijakan saat ini.
Pada era pemerintahan SBY, Indonesia pernah menghadapi tekanan inflasi tinggi akibat lonjakan harga minyak dunia. Saat itu pemerintah harus mengambil sejumlah kebijakan sulit untuk menjaga APBN tetap stabil dan mencegah dampak krisis semakin meluas.
Kini pemerintah Prabowo berupaya mengombinasikan kebijakan fiskal dan moneter agar ekonomi tetap bergerak stabil. Koordinasi antara Bank Indonesia dan kementerian ekonomi menjadi salah satu fokus utama dalam menghadapi gejolak global.
Selain itu, pemerintah juga mulai memperkuat kontrol terhadap sumber daya alam dan devisa hasil ekspor. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional sekaligus memperkuat cadangan devisa negara.
Prabowo menilai Indonesia harus memiliki strategi ekonomi yang lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung pada tekanan pasar luar negeri. Kebijakan hilirisasi, penguatan industri nasional, dan pengawasan ekspor menjadi bagian dari arah baru ekonomi pemerintahannya.
Sejumlah pengamat menilai langkah Prabowo belajar dari pengalaman era SBY menunjukkan pemerintah tidak ingin meremehkan ancaman krisis global. Pengalaman historis dianggap penting agar pemerintah memiliki skenario penanganan yang lebih matang.
Di sisi lain, pemerintah juga berupaya menjaga kepercayaan investor dengan memastikan disiplin fiskal tetap berjalan. Target defisit anggaran dan penguatan investasi menjadi bagian penting dalam strategi ekonomi nasional.
Langkah antisipatif yang dilakukan pemerintah diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Dengan belajar dari pengalaman masa lalu, pemerintah ingin memastikan Indonesia tetap mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan ekonomi dunia.(*)

