Catatan : Andi Muhammad Alief
YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Malam itu, Selasa, 26 Mei 2026, jarum jam baru saja menunjukkan pukul 19.30 PM ketika di Jalan D.I. Panjaitan di Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta, berubah menjadi panggung kebudayaan yang megah sekaligus menjadi ruang spiritual yang syahdu.
Ribuan warga berdesakan, larut dalam riuhnya tabuhan marching band dan gema takbir yang bersahutan menyambut Idul Adha 1447 Hijriah.

Di bawah temaram lampu kota, acara bertajuk “Gema Takbir Idul Adha 1447 H” ini resmi dibuka oleh Wakil Walikota Yogyakarta, Wawan Harmawan, S.E., M.M. Lebih dari sekadar perayaan tahunan, apa yang tersaji di depan Kantor Kemantren Mantrijeron, merupakan salah satu bentuk nyata bagaimana agama, budaya, dan ekonomi bisa berjalan beriringan tanpa harus saling menegasikan.
Tema yang diusung sangat visioner: Harmoni Alam dan Iman. Di tengah tantangan zaman di mana isu lingkungan sering kali terlupakan, para peserta yang mencapai hingga 19 kelompok, mampu menerjemahkan tema tersebut ke dalam kreativitas yang memukau.

Salah satu daya tarik utama yang mencuri perhatian warga di sepanjang jalan adalah kehadiran deretan mobil hias dari masing-masing peserta. Mobil-mobil ini dikreasikan sedemikian rupa menjadi replika tempat ibadah, simbol-simbol alam, hingga mahakarya visual yang memukau, lengkap dengan tata lampu yang estetik.
Kehadiran mobil hias ini berpadu serasi dengan kostum Nusantara x Islami yang dikenakan peserta Lomba Satu Kemantren tersebut. Ini salah satu bentuk pernyataan sikap. Bahwa menjadi religius tidak berarti harus menanggalkan identitas keindonesiaan kita.
Ketika jubah dan beskap, jilbab dan kain batik melebur dalam satu koreografi takbir keliling, Yogyakarta sedang menunjukkan jati dirinya yang asli : inklusif, kreatif, dan tetap membumi. Setiap kelompok dari berbagai perwakilan masjid membawa interpretasi temanya masing-masing, melahirkan keberagaman di dalam satu barisan takbir yang sama. Keberagaman inilah yang magnetnya begitu kuat, hingga mampu menarik lautan manusia untuk memadati Simpang Tiga Mantrijeron.
Warga rela berdesakan, saling berbagi ruang demi menyaksikan anak-anak, generasi muda dengan semangat membara memukul perkusi dan mengumandangkan takbir/pujian kepada Sang Pencipta.
Namun, indahnya malam takbiran tidak berhenti pada decak kagum penonton saja. Di sudut pinggir jalan, ada denyut nadi lain yang tidak kalah penting yakni geliat ekonomi akar rumput. Puluhan pedagang kaki lima (PKL) panen rezeki malam itu. Mulai dari penjual bakso, mainan anak-anak, pedagang wedang ronde, hingga camilan ringan, semuanya sibuk melayani pembeli.
Di sinilah esensi sejati dari perayaan keagamaan di ruang publik. Event budaya berbasis religi seperti gema takbir ini terbukti menjadi stimulus instan bagi ekonomi lokal. Ketika masyarakat berkumpul, ruang ekonomi tercipta, dan kesejahteraan terbagi secara organik. Malam takbiran tidak hanya menghidupkan iman di dalam dada, tetapi juga menyalakan dapur para pedagang kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi kota.
Apa yang terjadi di Mantrijeron malam ini adalah sebuah refleksi penting bagi kita semua. Bahwa merawat iman bisa dilakukan dengan cara-cara yang indah, dengan menjaga harmoni alam, merayakan kekayaan budaya Nusantara, sekaligus memberi ruang bagi sesama untuk mengais rezeki. Tidak hanya sedang bertakbir, ia sedang mencontohkan bagaimana merawat kehidupan dengan penuh cinta, keimanan dan niat tulus untuk berbagi rezeki saat ada keramaian. (*)
Catatan Redaksi :
Andi Muhammad Alief : Komposer, Mahasiswa, Praktisi dan Peneliti, saat ini menempuh studi Pascasarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta program Penciptaan Seni Musik dan Memiliki ketertarikan pada sarana edukasi, eksperimen musik, kajian seni pertunjukan dan tekun menelusuri rekam jejak kebudayaan yang tersebar luas di Indonesia.

