Oleh : Rizal Tanjung
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Ada kalanya sebuah bangsa tidak diukur dari setinggi apa gedung-gedungnya menjulang, bukan pula dari seberapa deras jalan-jalan rayanya dipenuhi kendaraan. Sebuah bangsa justru diukur dari kesetiaannya menjaga suara-suara yang nyaris tenggelam. Sebab, ketika sebuah peradaban kehilangan bunyi yang diwariskan leluhurnya, sesungguhnya ia sedang kehilangan sebagian jiwanya sendiri.
Demikian pula Kota Padang. Kota yang sejak dahulu dibesarkan oleh ombak Samudra Hindia itu tidak hanya mewarisi pelabuhan, pasar, rumah gadang, atau bangunan-bangunan tua peninggalan sejarah. Kota ini juga mewarisi sesuatu yang jauh lebih halus, namun lebih abadi : musik gamad.
Gamad bukan sekadar kumpulan nada. Ia adalah riwayat panjang perjumpaan budaya. Ia adalah suara ombak yang berteman dengan biola, denting akordeon yang menyapa tabuhan gendang, serta nyanyian Melayu yang tumbuh bersama bahasa Minangkabau. Ia lahir dari pelukan berbagai bangsa yang pernah singgah di pesisir Padang, lalu menjelma menjadi identitas yang tidak dimiliki kota lain.

Musik ini telah melewati zaman kolonial, kemerdekaan, pergantian generasi, bahkan gempuran budaya populer yang datang silih berganti. Namun seperti pohon tua yang terus diterpa badai, gamad tetap berdiri. Kadang daunnya gugur, kadang batangnya retak, tetapi akarnya tetap memeluk tanah sejarah.
Yang sering menjadi persoalan bukanlah apakah gamad masih hidup. Persoalannya adalah: adakah tangan-tangan yang bersedia terus menyiram akar itu?
Di tengah pertanyaan tersebut, hadir sebuah ikhtiar yang layak diapresiasi. Seorang anggota DPRD Kota Padang dari PKS, Arnedi Yarmen, memilih menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari pengabdiannya kepada masyarakat. Di saat politik sering dipersepsikan hanya sibuk dengan angka-angka pembangunan fisik, ia menunjukkan bahwa pembangunan peradaban juga membutuhkan perhatian.
Melalui dana Pokok-Pokok Pikiran (Pokir), ia memberikan dukungan bagi penyelenggaraan Festival Gamad se-Kota Padang yang berlangsung pada 25–26 Juni 2026 di Taman Budaya Sumatera Barat. Festival itu bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang bertemunya para seniman, budayawan, musisi, generasi muda, dan masyarakat yang masih mencintai denyut tradisi.
Dua hari, Taman Budaya Sumatera Barat berubah menjadi halaman besar tempat kenangan berkumpul. Biola kembali berbicara dengan bahasa yang telah berusia ratusan tahun. Akordeon mengalunkan melodi yang seolah memanggil para leluhur untuk ikut duduk di antara para penonton. Gendang berdetak seperti jantung kota yang kembali mengingat asal-usulnya.
Para pecinta musik dari berbagai penjuru Kota Padang berdatangan. Mereka tidak hanya datang untuk menyaksikan sebuah pertunjukan, tetapi untuk merasakan bahwa identitas budaya masih memiliki tempat yang layak di tengah kehidupan modern.
Di sana tampak anak-anak muda memainkan lagu-lagu gamad dengan semangat baru. Jemari mereka mungkin lebih akrab dengan layar telepon pintar, tetapi malam itu mereka memilih menyentuh senar biola, menekan tuts akordeon, dan memukul gendang. Sebuah pemandangan yang mengandung harapan: bahwa tradisi tidak harus menjadi museum; ia dapat hidup di tangan generasi baru.
Inilah makna terdalam dari pewarisan budaya. Warisan bukanlah benda yang dipajang di balik kaca. Warisan adalah nilai yang dipraktikkan, dipelajari, dicintai, lalu diteruskan. Sebuah tradisi hanya akan bertahan apabila ada ruang untuk bertemu, belajar, dan tampil.
Karena itu, dukungan terhadap festival seperti ini bukan sekadar bantuan anggaran. Ia adalah investasi peradaban.
Dana mungkin habis ketika kegiatan usai. Panggung akan dibongkar. Lampu-lampu akan dipadamkan. Kursi-kursi akan kembali disusun rapi. Namun semangat yang tumbuh di hati para peserta dan penonton dapat hidup jauh lebih lama daripada angka-angka dalam laporan keuangan.
Politik pada hakikatnya bukan hanya soal mengelola kekuasaan, melainkan mengelola masa depan. Dan masa depan sebuah kota tidak hanya dibangun dengan beton, tetapi juga dengan kebudayaan.
Tidak sedikit kota di dunia yang kehilangan identitas karena terlalu sibuk mengejar modernitas. Gedung-gedung bertambah, tetapi lagu-lagu tradisional menghilang. Jalan semakin lebar, tetapi bahasa ibu perlahan dilupakan. Kota menjadi maju secara fisik, namun miskin secara batin.
Padang tidak boleh berjalan ke arah itu. Gamad harus tetap hidup sebagai suara yang mengingatkan bahwa kota ini pernah dibangun oleh keberagaman, keramahan pesisir, dan kekayaan budaya yang saling menyapa.
Dalam konteks inilah kepedulian Arnedi Yarmen menemukan maknanya. Bukan karena besar atau kecilnya nilai Pokir yang dikucurkan, melainkan karena arah kebijakan yang dipilihnya. Ia memperlihatkan bahwa kebudayaan pantas menjadi prioritas pembangunan.
Kita tentu berharap langkah ini tidak berhenti pada satu festival. Sebab kebudayaan memerlukan kesinambungan. Ia membutuhkan pendidikan, dokumentasi, regenerasi, ruang pertunjukan, penelitian, dan dukungan kebijakan yang berkelanjutan. Festival hanyalah pintu; perjalanan sesungguhnya masih panjang.
Sudah saatnya lebih banyak pemangku kepentingan memandang seni sebagai kebutuhan masyarakat, bukan sekadar pelengkap acara resmi. Sebab seni adalah bahasa yang mampu menjembatani generasi, merawat persaudaraan, dan menguatkan jati diri.
Festival Gamad se-Kota Padang pada 25–26 Juni 2026 telah memperlihatkan bahwa masyarakat masih memiliki cinta yang besar kepada warisan budayanya. Antusiasme para penonton menjadi bukti bahwa gamad belum kehilangan rumah di hati warganya.
Kini tinggal bagaimana rumah itu terus dirawat. Sebab sebuah lagu akan tetap bernyanyi selama masih ada telinga yang mau mendengar. Sebuah budaya akan tetap hidup selama masih ada tangan yang rela menjaganya.
Semoga ikhtiar yang telah dilakukan menjadi inspirasi bagi banyak pihak. Sebab ketika politik bersedia bergandengan tangan dengan kebudayaan, yang lahir bukan sekadar sebuah festival, melainkan harapan bahwa akar-akar peradaban tidak akan tercerabut dari tanah tempat ia bertumbuh.
Dan kelak, ketika anak-anak Kota Padang memainkan kembali lagu-lagu gamad di masa depan, mungkin mereka tidak lagi mengingat siapa yang pertama kali menyediakan panggung itu. Namun sejarah akan tetap mencatat bahwa pernah ada orang-orang yang memilih menjaga nyala tradisi ketika banyak yang sibuk mengejar gemerlap zaman.
Karena pada akhirnya, kebudayaan tidak pernah meminta tepuk tangan. Ia hanya meminta agar tidak ditinggalkan.
Dan selama masih ada hati yang percaya bahwa gamad adalah napas Kota Padang, selama itu pula musik tua itu akan terus mengalun—menjadi suara ombak yang tak pernah lelah mengajarkan kepada setiap generasi bahwa sebuah kota bukan hanya dibangun oleh batu dan baja, melainkan oleh lagu-lagu yang diwariskan dengan cinta.

