Oleh : Andi Muhammad Thoreq
YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Musik kontemporer hari ini tidak lagi sebatas urusan estetika bunyi, melainkan sebuah ruang diskursus tempat tradisi diinterogasi, diwacanakan, dan dihidupkan kembali. Di tengah arus modernitas, tantangan terbesar bagi komposer akademis adalah bagaimana merawat memori kolektif masa lalu tanpa terjebak dalam romantisme yang usang.
Penciptaan musik “EDGE” karya dari Andi Muhammad Thoreq sebuah karya Tugas Akhir Penciptaan Seni Musik Pascasarjana ISI Surakarta, hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Melalui pendekatan hibriditas, hal ini menyoroti bagaimana sebuah falsafah moral Tallu Cappa suku Bugis-Makassar tidak hanya dijadikan subjek luar, melainkan bertransformasi menjadi metodologi penciptaan musik melalui eksperimentasi instrumen Kecapi Makassar.
Falsafah Tallu Cappa’ salah satu nilai fundamental dalam budaya Bugis dan Makassar yang diwariskan secara turun-temurun. Berfungsi sebagai pedoman moral, etika, serta identitas kolektif masyarakat, istilah Tallu Cappa’ dalam bahasa Makassar secara harfiah berarti “tiga ujung”.

Konsep ini mencakup cappa’ lila (ujung lidah), cappa’ badi’ (ujung badik/ketegasan dan harga diri), dan cappa’ laso (ujung kelamin). Dalam konteks kultural, ketiganya merupakan simbol pengendalian diri yang meliputi kejujuran dalam berbicara, keteguhan dalam bertindak, serta kesetiaan dalam menjaga kehormatan pribadi dan keluarga.
Dalam ranah musikal, “EDGE” menerjemahkan ketajaman filosofis tersebut menjadi sebuah revolusi bentuk adaptasi Kecapi Makassar. Karya ini menjadi refleksi atas eksplorasi mendalam yang dilakukan oleh Andi Muhammad Thoreq selama menempuh studi pascasarjana. Di sini, Edge tidak hanya dimaknai sebagai “ujung” atau titik akhir, melainkan sebuah ruang (liminal) yang membuka kemungkinan-kemungkinan baru.
Karya ini berangkat dari transformasi fisik dan bunyi Kecapi Makassar melalui proses hibridisasi antara tradisi dan teknologi. Komposer tidak lagi memperlakukan kecapi secara konvensional. Perpaduan antara teknik permainan tradisional yang sarat akan sosiologis budaya asal, berinteraksi langsung dengan pendekatan teknologi audio masa kini.
Interaksi ini menghadirkan spektrum warna suara (timbre), tekstur, dan karakter musikal baru yang melampaui batas-batas praktis instrumental klasiknya. “EDGE” menjadi ruang negosiasi visual dan auditori, di mana tradisi tidak mati, melainkan diperluas jangkauan estetikanya melampaui kebiasaan-kebiasaan lama.
“EDGE” membuktikan bahwa penciptaan musik baru dalam dunia akademisi memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi jembatan epistemologi antara masa lalu dan masa depan. Melalui hibridisasi Kecapi Makassar dan dekonstruksi falsafah Tallu Cappa’, penciptaan ini menegaskan bahwa tradisi adalah sesuatu yang cair dan organik.
Ujung (edge) dari sebuah kebudayaan bukanlah jurang kepunahan, melainkan sebuah tempat inovasi, perspektif baru, dan kemungkinan musikal yang tak terbatas dilahirkan. Karya ini membuktikan bahwa untuk tetap relevan, tradisi harus berani melangkah ke ranah eksperimentasi tanpa kehilangan akar filosofisnya. (*)
Catatan Redaksi
Andi Muhammad Thoreq, Mahasiswa Pascasarjana, ISI Yogyakarta

