Jakarta, Semangatnews.com – Setelah lebih dari satu dekade menjalankan operasi melawan ISIS, Amerika Serikat akhirnya menarik seluruh pasukannya dari Irak. Kepergian pasukan terakhir pada Rabu (30/9/2026) menandai berakhirnya Operation Inherent Resolve di negara tersebut.
Misi tersebut dimulai pada 2014 ketika ISIS menguasai wilayah luas di Irak dan Suriah. Kelompok tersebut sempat merebut sejumlah kota besar, termasuk Mosul, dan menguasai sebagian besar wilayah Irak sebelum kemudian didorong mundur oleh pasukan Irak bersama koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat.
Keluarnya pasukan AS kali ini merupakan hasil kesepakatan Washington dan Baghdad yang telah disusun sejak 2024. Sebagian besar pasukan Amerika sebelumnya telah meninggalkan sejumlah pangkalan di Irak, sedangkan pasukan terakhir bertahan di wilayah Kurdistan hingga tahap akhir penarikan.
Pentagon menyebut keberangkatan pasukan dari Erbil berlangsung secara teratur. Penarikan tersebut sekaligus menjadi tanda perubahan dari misi koalisi dalam situasi perang menuju hubungan keamanan bilateral antara Amerika Serikat dan Irak.
Presiden Donald Trump kemudian menyambut berakhirnya misi tersebut dengan menyebutnya sebagai kemenangan dalam perang melawan ISIS. Trump juga mengatakan tidak ada lagi kekhalifahan ISIS sehingga pasukan Amerika dapat kembali ke negaranya.
Pernyataan tersebut merujuk pada kondisi ISIS yang kini jauh berbeda dibandingkan ketika kelompok tersebut menguasai wilayah luas di Irak. Meski kekuatan teritorialnya telah hilang, jaringan dan sel-sel ISIS masih menjadi perhatian aparat keamanan Irak.
Pemerintah Irak menegaskan bahwa berakhirnya misi koalisi bukan berarti perjuangan melawan terorisme selesai. Baghdad menyatakan pasukan keamanan Irak kini akan mengambil tanggung jawab penuh untuk menjaga keamanan nasional dan menghadapi ancaman yang masih tersisa.
Kerja sama dengan Amerika Serikat juga tetap berlanjut dalam bentuk berbeda. Washington masih menyediakan pelatihan, pertukaran informasi intelijen, serta dukungan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan Irak.
Di sisi lain, penarikan pasukan Amerika memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan perubahan keseimbangan kekuatan di Irak. Sejumlah pejabat dan analis keamanan memperingatkan bahwa berkurangnya kehadiran AS dapat memberikan ruang lebih besar bagi kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan Iran.
Persoalan kelompok bersenjata menjadi salah satu tantangan bagi pemerintahan Baghdad setelah kepergian pasukan AS. Pemerintah sebelumnya menargetkan agar kelompok-kelompok bersenjata menyerahkan senjata di bawah kendali negara, tetapi sejumlah faksi kuat menolak atau meminta persyaratan tertentu.
Dengan berakhirnya operasi militer AS, Irak kini memasuki fase baru dalam menjaga stabilitas negaranya. Pemerintah Baghdad harus mengandalkan kemampuan pasukan nasional sembari mempertahankan kerja sama keamanan dengan negara-negara mitra untuk menghadapi ancaman ISIS dan dinamika kelompok bersenjata di dalam negeri.(*)

