Jakarta, Semangatnews.com – Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus besar pada Agustus 2026. Capaian tersebut menjadi salah satu perkembangan penting bagi perekonomian nasional, tetapi sejumlah ekonom mengingatkan bahwa penguatan tersebut masih perlu dilihat lebih jauh karena terdapat faktor impor yang turut memengaruhinya.
Berdasarkan data resmi yang dirilis pada Kamis (1/10/2026), surplus perdagangan Indonesia mencapai US$3,55 miliar pada Agustus. Nilai tersebut jauh melampaui perkiraan pasar yang sebelumnya hanya berada di sekitar US$630 juta.
Surplus tersebut menjadi yang terbesar sejak September 2025. Kinerja ini juga berpotensi memberikan tambahan bantalan bagi posisi eksternal Indonesia setelah neraca transaksi berjalan sempat mencatat defisit terbesar sejak 2018 pada kuartal II 2026.
Dari sisi ekspor, Indonesia mencatat pertumbuhan yang cukup kuat. Nilai ekspor pada Agustus mencapai US$26,61 miliar atau meningkat 6,72% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut juga lebih tinggi dibandingkan proyeksi survei ekonom yang berada di level 4,30%.
Peningkatan ekspor terutama ditopang oleh pengiriman sejumlah komoditas dan produk industri, termasuk produk logam dasar nonbesi, nikel, aluminium, tembaga, serta bahan kimia dasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa sejumlah sektor ekspor Indonesia masih mampu memberikan kontribusi terhadap kinerja perdagangan nasional.
Sementara itu, impor Indonesia pada Agustus mencapai US$23,06 miliar. Nilainya meningkat 19,09% secara tahunan, tetapi pertumbuhannya masih jauh di bawah perkiraan pasar sebesar 31,14%. Selisih tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat surplus perdagangan jauh lebih besar dari proyeksi awal.
Ekonom Bank Danamon Irman Faiz menilai surplus tersebut dapat memberikan penyangga terhadap kebutuhan valuta asing dalam jangka pendek. Namun, ia menyebut perbaikan posisi perdagangan tersebut masih bersifat rentan karena ditopang oleh impor yang lebih rendah dari perkiraan dan belum menunjukkan perubahan struktural yang kuat.
Pandangan serupa juga muncul dari ekonom Bank Permata Faisal Rachman. Ia memperkirakan pertumbuhan impor masih akan bertahan seiring membaiknya aktivitas manufaktur, sementara ekspor berpotensi menghadapi tekanan apabila permintaan global melemah.
Perkembangan tersebut menjadi semakin penting bagi rupiah yang sepanjang September menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi AS. Bank Indonesia sendiri terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar sekaligus menjaga inflasi dalam sasaran 2,5% plus-minus 1%.
Di sisi lain, kabar dari AS memberikan sedikit ruang bagi pasar global. Inflasi PCE AS pada Agustus tercatat lebih rendah dari perkiraan, sehingga ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober ikut berkurang. Meski demikian, inflasi AS masih berada di atas target bank sentral dan konsumsi masyarakat tetap kuat.
Bagi pasar Indonesia, kombinasi surplus perdagangan yang besar dan inflasi domestik yang tetap terkendali menjadi perkembangan yang akan terus dicermati. Namun, keberlanjutan surplus, arah impor, kondisi rupiah, serta kebijakan suku bunga global tetap menjadi faktor penting yang dapat menentukan ketahanan ekonomi Indonesia menghadapi tekanan eksternal dalam beberapa bulan mendatang.(*)

