Jakarta, Semangatnews.com – Pemerintah Afghanistan resmi melayangkan tawaran penyelesaian konflik kepada Pakistan lewat jalur damai, di tengah bentrokan militer yang terus memanas di perbatasan kedua negara. Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara pemerintah Taliban, Zabihullah Mujahid, dalam sebuah konferensi pers di Kandahar, menegaskan komitmen Kabul untuk menyudahi perseteruan melalui dialog dan bukan kekerasan.
Mujahid mengatakan bahwa Afghanistan telah “berulang kali menekankan solusi damai” dan secara tegas masih menginginkan permasalahan yang membara itu diselesaikan melalui musyawarah. Ia mengungkapkan keprihatinan atas kondisi di kawasan dan menilai bahwa perdamaian merupakan satu-satunya jalan keluar yang berkelanjutan bagi kedua bangsa yang bertetangga ini.
Namun pernyataan damai itu muncul di tengah serangan militer yang terus berlangsung. Menurut laporan, pesawat-pesawat militer Pakistan masih mengudara di wilayah Afghanistan beberapa jam setelah Islamabad melancarkan serangan udara terhadap ibu kota Kabul, serta kota besar lainnya seperti Kandahar dan Paktia.
Data awal dari konflik ini menunjukkan sedikitnya 13 tentara Afghanistan tewas dan 22 lainnya mengalami luka-luka akibat bentrokan dengan pasukan Pakistan. Sementara itu, puluhan warga sipil juga dilaporkan mengalami cedera di sejumlah titik pertempuran sepanjang perbatasan yang panjang dan sering diperebutkan.
Dalam pernyataannya, Mujahid menyatakan kekecewaannya karena menurutnya Pakistan belum menunjukkan kemauan serius untuk menyelesaikan masalah melalui dialog. Ia bahkan mengklaim bahwa puluhan tentara Pakistan telah tewas dan banyak lainnya terluka dalam bentrokan perbatasan, serta sejumlah pos militer hancur dalam serangkaian bentrokan sengit tersebut.
Afghanistan juga membantah tuduhan Pakistan yang menyatakan bahwa wilayah Afghanistan digunakan sebagai markas kelompok Taliban Pakistan untuk melancarkan serangan di wilayah Pakistan. Kabul menegaskan tidak ada dukungan resmi terhadap kelompok bersenjata tersebut, dan mengingatkan Islamabad bahwa konflik yang berlangsung bukan sekadar masalah teritorial semata.
Konflik di perbatasan kedua negara itu dimulai pada Kamis (26/2) malam, ketika pasukan Afghanistan melancarkan operasi besar terhadap target militer Pakistan sebagai bentuk balasan atas serangan udara yang dilancarkan Islamabad beberapa jam sebelumnya. Eskalasi ini berlangsung cepat dan penuh dengan tuduhan timbal balik dari kedua pihak.
Sikap Afghanistan yang terbuka untuk berdialog ini mendapatkan tanggapan beragam dari komunitas internasional. Beberapa negara, termasuk Rusia, telah menyerukan penyelesaian diplomatik atas konflik tersebut, bahkan menawarkan diri untuk menjadi mediator jika kedua belah pihak bersedia berdiskusi.
Di sisi lain, negara-negara lain seperti Indonesia juga mendorong upaya perdamaian, menyerukan deeskalasi dan dilanjutkannya percakapan demi mengakhiri siklus kekerasan yang membawa dampak luas bagi warga sipil di kedua negeri. Seruan ini menegaskan bahwa banyak pihak internasional melihat dialog sebagai kunci untuk meredakan ketegangan yang terus meningkat.
Meski terdapat dorongan untuk perdamaian, realitas di lapangan masih diperparah oleh aksi militer yang terus berlanjut, termasuk klaim penembakan jatuhnya jet tempur Pakistan di wilayah Jalalabad dan penangkapan pilotnya oleh otoritas Afghanistan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tawaran dialog telah dilontarkan, risiko konflik berskala lebih luas masih menghantui kawasan tersebut.
Krisis ini semakin kompleks karena keterlibatan negara lain dalam panggung diplomasi, yang menunjukkan bahwa stabilitas di wilayah perbatasan Afghanistan-Pakistan memiliki implikasi keamanan yang lebih luas bagi kawasan Asia Selatan dan komunitas global. Pemerintah kedua negara kini dihadapkan pada pilihan sulit: melanjutkan eskalasi perang atau mengambil langkah berani menuju perdamaian melalui meja dialog.(*)

