Jakarta, Semangatnews.com – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, berubah menjadi peristiwa memilukan setelah lima orang yang terlibat dalam penanganan api meninggal dunia. Korban terbaru, Munawi, mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif akibat luka bakar dan gangguan pernapasan.
Munawi adalah warga Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, yang tergabung dalam Masyarakat Mitra Polhut. Ia sebelumnya mendapat perawatan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya setelah mengalami luka bakar serius saat terjebak dalam kebakaran di kawasan Bromo.
Kabar meninggalnya Munawi menambah panjang daftar korban dalam insiden yang terjadi pada Kamis, 15 Oktober 2026. Sebelumnya, empat orang telah dinyatakan meninggal dunia, baik di lokasi kejadian maupun setelah mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Direktur RSUD Tongas Kabupaten Probolinggo, dr. Catur Prangga Wadana, menjelaskan bahwa Munawi sempat dilaporkan mengalami kondisi yang stabil. Namun, kondisinya kemudian memburuk dan ia meninggal dunia pada Senin, 19 Oktober 2026, sekitar pukul 15.00 WIB.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, kebakaran terjadi di sekitar Bukit Kembang Puncak Sari dan Pusung Lingker, wilayah Sukapura. Lokasi tersebut menjadi titik penanganan petugas dan relawan yang berusaha membatasi penyebaran api di tengah kondisi lapangan yang berisiko.
Kronologi yang disampaikan BPBD Kabupaten Probolinggo menyebutkan bahwa titik api terlihat pada Kamis pagi. Personel gabungan dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru bersama relawan kemudian bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemadaman.
Namun, kondisi berubah ketika kobaran api membesar sekitar pukul 13.30 WIB. Tiupan angin kencang membuat api bergerak semakin cepat dan menjebak sejumlah personel yang sedang berupaya mengendalikan kebakaran. Asap pekat turut menyulitkan pergerakan dan proses penyelamatan.
Enam orang dilaporkan terjebak dalam situasi tersebut. Tiga orang ditemukan meninggal dunia di lokasi, sedangkan korban lain mengalami luka bakar dan segera dievakuasi untuk memperoleh pertolongan. Sebagian korban kemudian dirujuk ke rumah sakit karena memerlukan penanganan yang lebih intensif.
Munawi menjadi korban kelima yang meninggal dunia setelah sebelumnya menjalani perawatan lanjutan di Surabaya. Adapun satu korban lainnya, Suraji, masih mendapatkan perawatan intensif menurut informasi yang diberitakan pada 21 Oktober 2026. Kondisi korban yang selamat tetap menjadi perhatian dalam penanganan pascakejadian.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa kebakaran di kawasan hutan dan pegunungan dapat berubah menjadi keadaan darurat dalam waktu singkat. Angin yang mengubah arah rambatan api, medan yang sulit dijangkau, serta asap tebal dapat menghambat langkah petugas ketika melakukan pemadaman dan evakuasi.
Tragedi Bromo menjadi momentum untuk memperkuat langkah pencegahan dan keselamatan dalam penanganan karhutla. Selain kesiapan peralatan dan koordinasi tim, penilaian risiko sebelum memasuki area kebakaran, pemantauan cuaca, serta jalur evakuasi yang jelas perlu menjadi bagian penting dari setiap operasi agar pengabdian petugas dan relawan tidak kembali berujung pada kehilangan nyawa.(*)

