Jakarta, Semangatnews.com – Setahun sudah kepergian sang ibu, Marissa Haque, meninggalkan ruang hati Chiki Fawzi dalam kesunyian yang mendalam. Kini, di tengah keinginan kuat ikut misi kemanusiaan ke Gaza, Chiki memperjuangkan restu sekaligus menimbang faktor keluarga dan takdir.
Dalam wawancara eksklusif, Chiki mengungkapkan bahwa 1–2 Oktober memiliki makna besar: di hari yang sama setahun lalu ibunya wafat, rekan-reknya dalam misi Global Sumud Flotilla kini ditawan Israel. Kondisi itu membuatnya berpikir ulang untuk ikut berlayar.
“Bayangkan jika di tanggal dan jam yang sama, aku ditangkap, bagaimana perasaan ayah?” ujar Chiki dengan suara lirih. Ia memilih untuk mundur bukan karena takut, melainkan karena empati terhadap hati sang ayah yang baru kehilangan istri tercinta.
Meski batal berlayar, Chiki menegaskan bahwa perjuangan belum berhenti. Ia membuka peluang untuk ikut lagi jika situasi memungkinkan—selama keluarga, terutama sang ayah, bisa turut memahami dan mendukung tanpa beban psikologis.
Perjalanan untuk mendapatkan restu ayah, Ikang Fawzi, tak mudah. Ketika Chiki mengungkap niatan ke Gaza, ayahnya sempat berkata “kamu gila ya”, namun Chiki kemudian memberi penjelasan dan berdialog secara perlahan. Pada akhirnya, restu diberikan dalam suasana harap dan doa.
Chiki juga menyempatkan diri menziarahi makam ibunya sebelum memutuskan misi. Momen itu menjadi titik hening, tempat ia mohon izin hati untuk melanjutkan cita-cita kemanusiaannya. Baginya, restu spiritual sama pentingnya dengan restu ayah.
Dalam ekspresinya terhadap isu Palestina, Chiki melihat misi kemanusiaan sebagai jalan spiritual sekaligus tanggung jawab moral. Baginya, pembelaan terhadap Gaza bukan sekadar aksi politik, melainkan panggilan hati yang bersambung dari sejarah ke masa kini.
Kekecewaannya tak bisa disembunyikan ketika rombongan mulai berangkat tanpa dirinya. Ia mengaku sudah menjalani pelatihan intensif dan menyiapkan mental, namun keputusan akhir harus menghormati kondisi keluarga dan dinamika misi.
Meskipun gagal ikut pada kesempatan ini, Chiki memilih tidak berhenti. Ia berencana menggerakkan misi dari Indonesia sendiri atau bergabung dengan upaya lain di masa mendatang. Semangatnya tetap menyala meski harus menahan rasa.
Kisah Chiki Fawzi menunjukkan bahwa idealisme tidak selalu harus ditumpahkan secara langsung; kadang perlu dijaga agar tidak melukai hati yang mencintai kita. Antara duka, keyakinan, dan keputusan — itulah kisah di balik nama Chiki hari ini.(*)
