Oleh : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Hampir tiga dekade silam, Kustiyah seniman yang juga isteri maestro pematung Indonesia Edhi Sunarso yang saya temui di kediamannya Jalan Kaliurang Km 5,5 Sleman, Yogyakarta pernah bercerita tentang Arby Samah, teman seangkatannya semasa di ASRI Yogyakarta.
Kustiyah menyebut ; orang Padang yang satu ini (Arby Samah-pen), terkenal gigih, ulet dan terampil berkarya. Tak ada istilah waktu luang baginya untuk tetap berkarya dan berkarya lagi. Kegigihan, keuletan dan keterampilan membuat patung semasa kuliah berbahan lempung (tanah liat), dibuktikan Arby dengan membuat patung potret realis Kustiyah dan hasilnya sangat bagus. Padahal Arby tak berhadapan langsung dengan obyek,” ujar Kustiyah.

“Kus, patung model wajah kamu sudah siap saya kerjakan. Nich untuk kamu simpan, ujar Kustiyah menirukan gurauan Arby mengenang hasil patung potret realis dirinya dibuat Arby secara sebagai kenang kenangan saat itu”. Menariknya, selain mematung realis figuratif, Arby saat kuliah tetap konsekwen mengeksplorasi patung abstrak yang sulit diamati dengan mata telanjang. Hingga karya karyanya bukan hanya dikenal di kampus tapi juga dalam berbagai kesempatan pameran,” ujar Kustiyah salah seorang teman dekat Arby Samah.
Arby Samah membuat patung patung abstrak tetap berkelanjutan sejak menempuh pendidikan di ASRI Yogyakarya (1953 1957) hingga mengantar Arby Samah sebagai pelopor patung abstrak bukan hanya di kampus tetapi juga di Indonesia.
***

Ilustrasi di atas dimaksudkan, karena banyak anggapan pematung abstrak sebagian diantaranya dianggap tidak mampu membuat karya realis. Anggapan ini ditepis Arby Samah. Karena proses Arby didahului kemampuannya membuat karya-karya realis. Kemudian baru memasuki patung abstrak secara sungguh-sungguh dan tetap konsekwen di ranah abstrak.
Disimak dalam kecendrungan abstrak, karya Arby Samah sebenarnya lebih tertuju kepada elemen-elemen garis, bentuk, ruang, volume, tekstur, bahkan warna pada bahan karya. Ia pun tidak mencoba, meniru atau menggambarkan apa pun di alam atau di dunia nyata. Baginya bentuk karya lebih murni sebagai eksplorasi artistik.

Meski tidak menggambarkan objek nyata, patung Arby Samah memanfaatkan material kayu, batu dan bahan lain yang mudah diperoleh merefsentasikan emosi, ide, atau konsep bentuk dinamis melalui tekstur kasar dan pertimbangan komposisi harmonis.
Maknanya tidak tunggal, karena terbuka untuk interpretasi pribadi. Publik bisa menafsirkan dengan cara berbeda berdasarkan pengalaman masing masing. Arby bukan meniru realitas, melainkan mengeksplorasi ide-ide, emosi, atau konsep bahasa visual yang unik dan menarik.

Disinilah letak kekuatan Karya Arby Samah yang sebagian besar mengabstrasikan obyek wanita sebagai “bahasa utama” dan bahan elemennya yang secara tematik menyoal tentang kasih sayang, cumbu rayu, keakraban, pertumbuhan dan kehidupan lainnya.
Bentuk, kedinamisan gerak, ritme, komposisi dan unsur unsur menyertainya dijadikan titik awal mematung. Arby Samah pernah mengakui; transformasi pengabtraksian kebentukanya menjadi hal dominan yang mengundang interpretasi beragam bagi orang yang mengamatinya. Kebebasan interpretasi ini menjadi salah satu daya tarik karya Arby Samah.
***

Ditelusuri gerakan sejarah seni patung abstrak sebenarnya sudah ada sejak awal abad ke-20 sejalan gerakan seni lukis abstrak di dasari perkembangan teknologi, filosofi, dan perubahan sosial. Banyak seniman mencari cara baru berekspresi melampaui representasi visual dunia nyata untuk mengeksplorasi, emosi, dan konsep-konsep yang lebih dalam.
Mengambil contoh karya seniman Constantin Brancusi (Rumania) dianggap sebagai pionir patung abstrak. Karya ikoniknya “Bird in Space” (1923) yang menyederhanakan bentuk hingga esensinya meninggalkan detail-detail figuratif. Karya ini tak menggambarkan burung secara realistis, tetapi esensi gerak terbang dan kebebasan.
Henry Moore (30 Juli 1898 – 31 Agustus 1986) merupakan pematung Inggris yang terkenal dengan patung-patung abstrak organiknya di abad ke 20, seringkali terinspirasi oleh bentuk-bentuk alam, seperti batu, tulang, dan lanskap. Meskipun abstrak, patung-patung Moore seringkali memiliki kualitas humanistik dan emosional yang kuat. Ia mengeksplorasi tema-tema seperti keluarga, ibu dan anak, serta hubungan manusia dengan alam.
Barbara Hepworth (1903-1975) pematung Inggris dikenal dengan bentuk-bentuk abstraknya yang elegan dan halus juga terinspirasi oleh alam, karyanya cenderung lebih geometris dan terstruktur denganenggunakan bentuk-bentuk dasar lingkaran, elips, dan bola, yang dipadukan dengan lubang dan rongga untuk menciptakan komposisi harmonis dan dinamis.
Kita bukan hendak membandingkan antara pematung dunia dan Indonesia. Seni patung abstrak muncul pertama kali ditandai kehadiran Arby Samah tahun 1950 an.
Membuat patung abstrak bagi suami dari Murtina dan bapak lima anak ini merupakan tantangan eksplorasi kreatif baginya. Arby menemukan bahasa visualnya sendiri mengingat keberaniannya bereksprimen dengan beragam bentuk material dan teknik melibatkan intuisi dan penemuan penemuan ide/ konsep hingga hasilnya menempatkannya sebagai pelopor patung abstrak di Indonesia.
Konsep dimana bumi dipijak disana langit dijunjung, memang bagian yang tak terpisahkan dalam persoalan Arby Samah sebelumnya do Yogyakarta. Karena bagaimana pun seni – termasuk seni patung di dalamnya – merupakan manifestasi budaya yang pada dasarnya terdiri dari pola-pola perilaku manusia yang diwujudkan sebagai sebuah jawaban terhadap kondisi lingkungan serta tuntutan zaman.
Sumatera Barat yang sejak lama dikenal dalam peta seni rupa Indonesia ternyata tidak memiliki tradisi seni patung di tengah hingar bingarnya persoalan seni dan budaya di daerahnya.
Tidak seperti dunia seni lukis yang dijadikan icon seni rupa di tanah air sejak era Wakidi bahkan hingga kini, pada dunia seni patung faktor dominan yang turut mempengaruhinya selain diikat adat istiadat diback up adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah dengan perkuatan unsur religi karena penduduknya mayoritas beragama Islam, maka tradisi membuat karya seni patung tidak dikenal di tengah-tengah masyarakatnya seperti yang terjadi di Bali dan pulau Jawa. Hal ini pulalah yang mengikat Arby Samah sekaligus memperkuat jati dirinya menjadi sosok pematung abstrak, bukan hanya di Sumatera Barat tapi juga Indonesia.
Prihal kondisi sosial dan tuntutan zaman, Arby Samah sama seperti seniman seni rupa lainnya, keberadaannya di seni patung abstrak di tanah air tentulah untuk mengabdi pada kehidupan manusia dimana yang berkat karya karyanya mengantar dirinya menjadi tokoh dan pelopor patung abstrak pertama di Indonesia.
Patung-patung abstrak Arby Samah yang berada dalam hiruk pikuk dunia seni yang kaya dan menantang tersebut, ternyata menawarkan kebebasan ekspresi tanpa batas, syarat pengalaman dan interpretasi yang terbuka bagi penikmat seni. Walau tidak menggambarkan objek atau sosok yang dikenali, patung abstrak Arby Samah mampu menyampaikan emosi, ide, dan konsep melalui bahasa visual yang unik bahkan menarik. Hal tersebut terlihat dari keindahan karya-karya patung abstraknya selama ini lahir di ranah kreativitasnya.
Keunikan karya Arby sebenarnya terletak pada ketidakpastian bentuk dan kebebasan hingga melahirkan interpretasi dan persepsi beragam orang yang melihat, mengamati dan mengapresiasinya. Mengingat tak ada jawaban tunggal makna karya-karyanya.
Dari sini kita melalui karya karyanya, Arby Samah ternyata ikut mendorong kita selalu berpikir kreatif, merasakan emosi, kemudian membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan baru dalam memahami dunia dan alam sekitar kita yang juga sangat abstrak.
Tambo, Muharyadi, Penggiat Seni Ruoa, Kurator dan Jurnalis. (***)
