Jakarta, Semangatnews.com – Gangguan irama jantung atau aritmia kini menjadi sorotan baru dalam dunia kesehatan karena tidak lagi eksklusif menyerang usia lanjut. Dokter spesialis jantung menyampaikan bahwa kasus aritmia makin banyak ditemukan pada usia muda dan perlu deteksi dini agar risiko komplikasi berat dapat ditekan.
Pada sebuah konferensi media, dr. Agung Fabian Chandranegara menjelaskan bahwa aritmia merupakan kondisi di mana detak jantung bisa terlalu cepat, terlalu lambat atau tidak beraturan, yang pada akhirnya dapat menyebabkan gagal jantung ataupun kematian mendadak.
Meskipun dahulu aritmia sering dikaitkan dengan lansia atau pasien jantung kronis, kini gaya hidup modern — seperti stres tinggi, kurang tidur dan konsumsi kafein berlebih — menjadi pemicu yang makin umum di kalangan muda.
Dokter Agung menyebut bahwa sekitar 10‑15 % dari seluruh kematian global disebabkan oleh henti jantung mendadak, dan sekitar 63 % di antaranya disebabkan oleh gangguan irama jantung. Fakta tersebut menjadikan aritmia sebagai masalah yang “tidak boleh dianggap enteng.”
Data menunjukkan bahwa tren kematian akibat henti jantung mendadak yang sebelumnya menurun, kini kembali meningkat sejak 2018 dengan pertumbuhan tahunan sekitar 7 %. Kelompok pria memiliki risiko dua kali lipat dibanding wanita untuk mengalami kondisi ini.
Dalam hal deteksi, dokter menekankan bahwa masyarakat dapat melakukan pemeriksaan sederhana sendiri — seperti memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan atau leher untuk melihat apakah iramanya stabil atau tidak. Jika terasa tidak teratur maka sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter jantung.
Selain itu, kini tersedia teknologi seperti smartwatch atau alat pemantau irama jantung digital yang dapat memberi peringatan dini jika terjadi kelainan. Perangkat ini dianggap membantu menjangkau masyarakat lebih luas.
Dokter Agung juga menegaskan bahwa meskipun kopi tidak secara langsung menyebabkan aritmia, konsumsi kafein berlebih bisa memicu serangan pada orang yang sudah punya gangguan irama jantung. Maka gaya hidup tetap menjadi kunci penting.
Pencegahan dini meliputi pola hidup sehat: cukup tidur, olahraga teratur, hindari rokok dan alkohol, serta kontrol tekanan darah, kolesterol dan gula darah. Jika faktor risiko dikendalikan, peluang terjadinya aritmia dapat ditekan.
Akhirnya, kesadaran bahwa aritmia bukan hanya penyakit “orang tua” menjadi penting. Baik usia muda maupun dewasa sebaiknya mulai memperhatikan frekuensi dan irama detak jantungnya — karena deteksi dini bisa menjadi perbedaan antara risiko ringan dan komplikasi serius.(*)
