Jakarta, Semangatnews.com – Pemerintah Amerika Serikat kembali menekan Iran untuk membuka Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah yang berdampak pada ekonomi global.
Melalui pernyataan resmi, Gedung Putih menegaskan bahwa penutupan jalur strategis tersebut tidak akan sepenuhnya diterima oleh komunitas internasional.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur sempit tersebut setiap harinya.
Ketegangan terbaru dipicu oleh konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang berujung pada gangguan lalu lintas kapal di kawasan tersebut.
Meskipun sempat muncul kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran, situasi di lapangan masih belum sepenuhnya stabil. Iran bahkan disebut sempat menghentikan aktivitas pelayaran akibat eskalasi konflik lanjutan.
Gedung Putih menilai tindakan penutupan jalur ini dapat mengganggu stabilitas global, terutama dalam sektor energi dan perdagangan internasional.
Pihak AS juga menegaskan bahwa kebebasan navigasi di Selat Hormuz harus dijaga, mengingat peran strategisnya bagi banyak negara, termasuk di kawasan Asia.
Sejumlah negara sekutu bahkan mulai didorong untuk ikut terlibat dalam menjaga keamanan jalur tersebut. Upaya ini dilakukan untuk memastikan distribusi energi tetap berjalan lancar.
Sementara itu, Iran bersikukuh bahwa kendali atas Selat Hormuz merupakan bagian dari kepentingan nasional mereka. Negara tersebut juga menegaskan haknya dalam mengatur akses di wilayah tersebut.
Situasi ini menciptakan ketegangan baru di tengah upaya diplomasi yang sedang berlangsung. Kedua pihak masih memiliki perbedaan pandangan terkait pengelolaan jalur strategis tersebut.
Dampak dari konflik ini sudah mulai terasa di pasar global, terutama dengan naiknya harga minyak dan meningkatnya biaya logistik internasional.
Dengan kondisi yang masih belum pasti, dunia kini menaruh perhatian besar terhadap perkembangan di Selat Hormuz, yang berpotensi menjadi titik krusial dalam stabilitas ekonomi dan keamanan global.(*)

