Asing Terciduk ‘Lego’ 10 Saham Saat IHSG Ambruk, Apa Maknanya bagi Pasar Modal Indonesia?

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Selasa (24/2/2026), aneka indikator pasar menunjukkan koreksi tajam, sementara aksi investor asing juga mencuri perhatian pelaku pasar. Perdagangan bursa ditutup melemah setelah IHSG turun sekitar 1,37 persen atau ambruk 115 poin ke level 8.280,83, seiring mayoritas saham berada di zona merah dan sentimen global yang membayangi.

Di tengah tekanan indeks tersebut, data perdagangan menunjukkan bahwa investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 1,38 triliun, namun pada saat bersamaan sejumlah saham tertentu justru dilepas (net foreign sell) secara kompak oleh pelaku pasar global sehingga menimbulkan sorotan baru.

Sepuluh saham yang tercatat sebagai paling banyak dilepas oleh investor asing saat IHSG melemah kemarin dipimpin oleh PT Impack Pratama Industri Tbk dengan net sell mencapai sekitar Rp 141,2 miliar. Saham ini menjadi yang paling tertekan di antara emiten yang dilepas asing ketika indeks jatuh.

Disusul oleh PT Bumi Resources Tbk, yang tercatat dibebaskan investor asing senilai lebih dari Rp 102 miliar, mencerminkan bahwa sektor komoditas juga mengalami tekanan ketika pasar secara umum menghadapi koreksi tajam.

Selain itu, sejumlah emiten lain seperti PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk juga berada dalam daftar saham yang dilepas oleh investor asing, dengan masing-masing posisi net sell mencapai puluhan miliar rupiah.

Aksi “kompak lego” atau pelepasan saham ini terjadi meskipun secara total investor asing masih membukukan net buy di seluruh pasar, yang menunjukkan dinamika kompleks transaksi modal global dan domestik.

Anjloknya IHSG sendiri dipengaruhi oleh sentimen global dan lokal, termasuk ketidakpastian ekonomi serta reaksi pasar terhadap kabar kebijakan tarif dari Amerika Serikat yang dinilai membawa tekanan pada aset berisiko seperti saham.

Dalam kondisi pasar yang melemah, nilai transaksi juga tinggi, dengan nilai perdagangan mencapai puluhan triliun rupiah dan volume transaksi miliaran saham mencerminkan partisipasi tinggi dari pelaku pasar meskipun mayoritas bergerak ke arah negatif.

Para analis menilai bahwa pelepasan saham tertentu oleh investor asing dalam situasi penurunan IHSG dapat mencerminkan preferensi risiko global di mana modal mencari perlindungan di instrumen yang dianggap lebih aman, sementara eksposur terhadap saham tertentu dikurangi.

Selain itu, aksi net buy asing yang masih positif menunjukkan strategi rotasi portofolio, di mana pelaku pasar global justru memanfaatkan koreksi indeks untuk masuk ke saham blue chip tertentu yang dipandang masih memiliki prospek jangka panjang.

Saham perbankan dan sektor telekomunikasi, seperti saham bank besar dan perusahaan telekomunikasi utama, menjadi beberapa target favorit asing yang mencatat pembelian bersih meskipun pasar sedang tertekan, menunjukkan adanya keyakinan pada fundamental sektor tertentu.

Kondisi volatilitas seperti ini sering diikuti dengan strategi jangka panjang para investor institusional yang cermat menilai valuasi saham unggulan serta memperhatikan perkembangan ekonomi makro global dalam menentukan arah alokasi modal, sehingga pelaku pasar dalam negeri kini menunggu arah gerak indeks selanjutnya dengan penuh kewaspadaan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.