Jakarta, Semangatnews.com – Sebanyak 12 jet tempur siluman F-22 Raptor buatan Amerika Serikat (AS) mendarat di salah satu pangkalan Angkatan Udara Israel pada Selasa (24/2/2026), sebagai bagian dari pengerahan militer AS di kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Kedatangan pesawat-pesawat tempur paling canggih di dunia ini dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat pertahanan sekutu dan memberi sinyal kepada Tehran bahwa Washington siap menghadapi berbagai kemungkinan dalam konflik yang terus memanas.
Menurut laporan penyiar publik Israel KAN, jet-jet F-22 tersebut tiba di pangkalan udara di selatan Israel pada sore hari waktu setempat dan langsung menjadi sorotan luas media internasional karena jenis pesawatnya merupakan salah satu yang paling mutakhir di dunia dan hanya dioperasikan oleh militer AS.
F-22 Raptor dikenal karena kemampuan silumnya yang sangat tinggi, kecepatan supercruise tanpa penggunaan afterburner, serta kemampuan untuk menembus wilayah pertahanan udara musuh dan melumpuhkan sistem radar serta pertahanan udara lawan. Pesawat ini dirancang untuk memenangkan dominasi udara bahkan di lingkungan yang sangat berbahaya sekalipun.
Pengerahan jet-jet tempur ini terjadi di tengah eskalasi militer yang lebih luas oleh AS di kawasan, termasuk penempatan kapal induk dan pesawat militer lainnya. Analisis intelijen menunjukkan bahwa langkah ini adalah bagian dari peningkatan kesiapan militer AS menjelang potensi konflik yang lebih luas dengan Iran, terutama jika perundingan nuklir yang sedang berjalan gagal mencapai kesepakatan.
Sementara itu, pangkalan udara Israel dipilih sebagai titik pengerahan karena letaknya yang strategis di selatan negara itu, dekat dengan wilayah udara terbuka yang memungkinkan jet-jet tempur AS beroperasi dengan jangkauan luas dalam konteks regional yang kompleks.
Kehadiran kekuatan udara AS di Israel juga dimaknai oleh sebagian pengamat sebagai bentuk solidaritas yang kuat antara Washington dan Tel Aviv. Hubungan pertahanan kedua negara telah lama menjadi pilar stabilitas sekutu tradisional AS di Timur Tengah, terutama menghadapi ancaman dari aktor negara lain seperti Iran dan proksi militernya di kawasan.
Ketegangan antara AS dan Iran semakin meningkat setelah putaran negosiasi nuklir yang tidak mencapai hasil memuaskan, serta ultimatum terbuka dari pejabat Washington yang menyatakan kemungkinan tindakan militer jika Iran tidak membatasi program nuklirnya.
Respons Tehran atas pengerahan jet tempur tersebut terus dipantau secara intens. Iran sendiri telah berulang kali menyatakan bahwa program militernya bersifat defensif, tetapi semua langkah militer AS di kawasan sering kali dipandang sebagai tekanan langsung terhadap keamanan dan kedaulatan Iran oleh otoritasnya.
Di Israel, publik dan analis militer melihat kedatangan jet F-22 sebagai langkah preventif yang bertujuan menjaga stabilitas negara di tengah ancaman yang dipersepsikan datang dari timur. Israel telah memperbarui pedoman kesiapsiagaan nasionalnya sejak konflik musim panas lalu dengan kelompok militan dan negara-negara tetangga.
Namun, langkah militer besar semacam ini juga memicu kekhawatiran tentang kemungkinan eskalasi yang lebih luas. Banyak pihak, termasuk beberapa pemimpin dunia, menyerukan agar kedua pihak menahan diri dan mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi guna menghindari konflik yang bisa menyeret negara lain di kawasan.
Sementara itu, Israel juga terus meningkatkan kesiapan domestiknya, menyusun strategi pertahanan untuk sektor-sektor vital seperti energi, komunikasi, dan infrastruktur penting jika keadaan darurat nasional diumumkan. Hal ini dilakukan di tengah ketidakpastian keamanan dan ancaman rudal serta drone dari lawan regional.
Kedatangan 12 jet tempur F-22 di pangkalan udara Israel menjadi sorotan global bukan hanya karena intimidasinya sebagai kekuatan militer mutakhir, tetapi juga sebagai indikator dari dinamika geopolitik yang sangat sensitif di Timur Tengah, di mana keseimbangan kekuatan dan jalur diplomasi terus diuji.(*)
