Jakarta, Semangatnews.com – Kehidupan di luar negeri memberikan pengalaman tersendiri bagi Cut Memey dan keluarganya. Setelah belasan tahun menetap di Kanada bersama sang suami, Paul Rowland, ia mengungkapkan bahwa proses penyesuaian diri anak-anaknya ternyata berjalan lebih mudah dari yang dibayangkan.
Cut Memey mengaku bersyukur kedua anaknya tidak mengalami culture shock setelah meninggalkan Indonesia. Menurutnya, usia anak-anak ketika keluarga mereka pindah menjadi salah satu alasan mereka bisa menerima perubahan lingkungan dengan relatif cepat.
Saat pertama kali menetap di Kanada, kedua anak Cut Memey masih berusia 12 tahun dan tujuh tahun. Pada usia tersebut, mereka dinilai masih cukup mudah menyesuaikan diri dengan rutinitas baru, lingkungan tempat tinggal, serta kebiasaan masyarakat setempat.
Kendati demikian, adaptasi keluarga tersebut sempat menghadapi tantangan ketika pandemi COVID-19 terjadi. Pandemi melanda sekitar enam bulan setelah mereka pindah, sehingga aktivitas sehari-hari yang seharusnya membantu proses penyesuaian justru menjadi terbatas.
Selama masa pembatasan aktivitas, Cut Memey dan keluarganya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Anak-anaknya juga harus mengikuti pembelajaran daring karena kegiatan sekolah belum dapat berlangsung secara normal seperti sebelumnya.
Perubahan metode belajar tersebut membuat keseharian keluarga mengalami penyesuaian. Anak-anak harus mengikuti pelajaran dari rumah, sementara kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan teman sebaya menjadi lebih terbatas selama pandemi.
Setelah kurang lebih satu hingga dua tahun, kegiatan sekolah kembali berlangsung secara langsung. Cut Memey pun merasa lega karena anak-anaknya mampu kembali mengikuti rutinitas pendidikan dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah tanpa hambatan berarti.
Selain kemampuan beradaptasi, Cut Memey bersyukur anak-anaknya tidak terlalu mengalami homesick. Tinggal jauh dari negara asal tidak membuat mereka terus-menerus merasa rindu untuk kembali ke Indonesia, meskipun beberapa hal dari Tanah Air masih sesekali mereka inginkan.
Salah satu yang paling dirindukan adalah makanan khas Indonesia. Bagi keluarga Cut Memey, makanan bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, tetapi juga cara untuk mempertahankan kebiasaan dan kedekatan dengan budaya asal meski tinggal ribuan kilometer dari Tanah Air.
Cut Memey berusaha memenuhi permintaan anak-anaknya dengan memasak sendiri hidangan Indonesia. Ia akan mencari bahan dan bumbu yang dibutuhkan agar makanan yang mereka inginkan tetap bisa dinikmati di Kanada.
Pengalaman Cut Memey memperlihatkan bahwa membangun kehidupan di negara baru tidak hanya berkaitan dengan penyesuaian tempat tinggal, tetapi juga bagaimana keluarga mempertahankan kebiasaan yang membuat mereka merasa nyaman. Dukungan keluarga, kemampuan beradaptasi, dan kehadiran hal-hal yang akrab seperti makanan Indonesia menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka menetap di Kanada.(*)

