BI Rate Tetap 5,75 Persen, Rupiah Perkasa di Pembukaan Perdagangan Kamis

by

Jakarta, Semangatnews.com – Rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada awal perdagangan Kamis (20/8/2026). Penguatan tersebut terjadi setelah Bank Indonesia kembali menahan suku bunga acuan pada level 5,75 persen dalam keputusan kebijakan moneter terbarunya.

Mengacu pada data perdagangan, rupiah dibuka di kisaran Rp17.804 per dolar AS. Mata uang Indonesia tersebut menguat 36 poin atau sekitar 0,20 persen dari posisi perdagangan sebelumnya.

Penguatan rupiah melanjutkan tren positif yang terlihat pada perdagangan sehari sebelumnya. Pada Rabu (19/8), rupiah ditutup pada level Rp17.840 per dolar AS, membaik 22 poin atau 0,12 persen dari posisi sebelumnya.

Sentimen pasar turut dipengaruhi keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate. Keputusan tersebut diambil dalam RDG yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026 dengan mempertimbangkan kondisi nilai tukar, inflasi, serta dinamika ekonomi global.

Pjs. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa BI-Rate tetap berada di level 5,75 persen. Suku bunga Deposit Facility juga dipertahankan pada 4,75 persen, sedangkan Lending Facility tetap sebesar 6,50 persen.

Kebijakan menahan suku bunga dinilai tidak mengejutkan pasar. Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga acuan secara bertahap hingga 5,75 persen pada Mei dan Juni 2026, kemudian memilih menahannya pada Juli dan Agustus.

Langkah tersebut memberikan waktu bagi kebijakan kenaikan suku bunga sebelumnya untuk bekerja terhadap stabilitas nilai tukar dan inflasi. Di sisi lain, BI masih dapat menggunakan instrumen non-suku bunga apabila tekanan terhadap rupiah kembali meningkat.

Salah satu instrumen yang diperkuat adalah kebijakan foreign exchange swap hedging. BI memperluas insentif premi hingga mencakup pinjaman luar negeri perbankan dan investasi asing langsung mulai September 2026, dengan fleksibilitas rollover selama sisa periode kontrak hingga tiga tahun.

Dari sisi inflasi, kondisi domestik juga menjadi pertimbangan penting dalam menentukan arah kebijakan moneter. Inflasi tahunan Indonesia tercatat 2,28 persen hingga Juli 2026, masih berada dalam kisaran sasaran yang ditetapkan bank sentral.

Namun, penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan belum serta-merta menghilangkan risiko volatilitas. Tekanan dari pasar keuangan global dan perkembangan geopolitik masih berpotensi memengaruhi arus modal serta permintaan terhadap dolar AS.

Dengan kondisi tersebut, arah rupiah sepanjang perdagangan Kamis akan menjadi perhatian investor. Jika sentimen positif terhadap kebijakan BI bertahan dan tekanan eksternal relatif mereda, rupiah berpeluang mempertahankan penguatannya, meski pasar tetap perlu mewaspadai perubahan sentimen secara cepat.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.