Jakarta, Semangatnews.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengeluarkan proyeksi terbaru tentang pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menunjukkan tren pelemahan masih berlanjut hingga 2026. Peneliti dari Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan BRIN menyampaikan bahwa rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang yang lebih lemah dibandingkan prediksi sebelumnya.
Menurut BRIN, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada 2026 diproyeksikan berada di kisaran antara Rp16.678 hingga Rp17.098 per dolar AS, sebuah rentang yang mencerminkan tekanan terhadap mata uang domestik. Proyeksi ini meningkat dibandingkan ramalan kurs rupiah untuk tahun berjalan yang sebelumnya diperkirakan lebih kuat.
BRIN mengaitkan pelemahan ini dengan meningkatnya ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik yang tidak kunjung mereda. Kondisi pasar keuangan dunia yang terus bergejolak ikut memberikan tekanan pada aset berdenominasi mata uang negara berkembang seperti Indonesia.
Selain faktor eksternal, BRIN juga menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang diperkirakan bisa mendekati 40 persen. Rasio yang meningkat dapat menimbulkan kekhawatiran investor asing dan mendorong modal keluar dari pasar keuangan domestik.
Fenomena capital outflow atau aliran modal yang keluar ini dipandang sebagai salah satu pemicu depresiasi rupiah karena berkurangnya permintaan terhadap aset dalam negeri, termasuk mata uang rupiah. BRIN pun mengingatkan potensi volatilitas tinggi di pasar valas jika sentimen global tetap negatif.
Kondisi ini kontras dengan proyeksi dari Bank Indonesia yang memperkirakan rata-rata kurs rupiah terhadap dolar AS pada 2026 berada di dekat Rp16.430 per dolar AS, level yang sedikit lebih stabil dibandingkan proyeksi BRIN namun tetap mencerminkan tekanan pada mata uang domestik.
Pemerintah sendiri dalam penyusunan asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menetapkan angka asumsi nilai tukar rupiah pada sekitar Rp16.500 per dolar AS. Angka ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk menjaga stabilitas kurs di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi berdampak pada berbagai sektor, termasuk biaya impor yang menjadi lebih mahal dan tekanan terhadap harga barang konsumsi. Hal ini bisa memengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat.
Ekspektasi terhadap dolar AS yang tetap kuat juga menjadi faktor eksternal yang memperberat tekanan pada rupiah. Penguatan dolar sering terjadi ketika investor global mencari aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Di sisi lain, rupiah yang lebih lemah bisa memberi keuntungan bagi sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Namun keuntungan ini harus diimbangi dengan stabilitas makro agar tak menimbulkan risiko jangka panjang.
BRIN menyarankan agar kebijakan fiskal dan moneter diarahkan untuk meredam volatilitas nilai tukar, termasuk melalui intervensi pasar jika dibutuhkan dan langkah-langkah yang mampu menjaga kepercayaan investor serta memperkuat fundamental ekonomi dalam negeri.
Analis pasar menilai bahwa tren pelemahan rupiah ini bisa menjadi tantangan sekaligus momentum bagi pembuat kebijakan untuk lebih proaktif dalam merumuskan strategi mengantisipasi fluktuasi kurs, khususnya di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.(*)
