Buntut Penganiayaan 3 Bintara di Padang Pariaman Sumbar Dikecam IPW

oleh -
Buntut Penganiayaan 3 Bintara di Padang Pariaman Sumbar Dikecam IPW Semangatnews, Jkt- Ketua Presidium Indonesia Police Watch atau IPW, Neta S Pane mengecam keras kejadian penganiayaan terhada 3 bintara di Polres Padang Pariaman,Sumatera Barat. Seperti diberitakan dan videonya viral di medsos seorang perwira tega menghajar yuniornya sehingga satu orang pingsan dan kini dirawat di rumah sakit. Apapun alasannya menurut Neta tindakan penyiksaan tidak boleh dilakukan oleh anggota polri kepada bawahannya, apalagi secara terbuka di lapangan yang bisa disaksikan semua orang. “Indonesia Police Watch (IPW) mengecam keras tindakan sadis yang dilakukan perwira pertama Polri Akpol lulusan 2019 tersebut. Ironisnya tindakan sadis itu terbiarkan cukup lama, padahal semua anggota Polres Pariaman bisa menyaksikannya. IPW berterimakasih kepada pihak yang sudah merekam dan memviralkan peristiwa yang sangat memalukan institusi kepolisian ini,” kata Neta dalam keterangan tertulisnya. Kamis (26/3/2020). IPW mengingatkan, Polri adalah lembaga dan aparatur penegak hukum, jika seorang bawahan melakukan kesalahan sefatal apapun kesalahan itu, atasan harus menghukumnya dalam koridor hukum, bukan melakukan penyiksaan. “Yang sangat disayangkan penyiksaan ini dilakukan atas nama pembinaan. Ini sebuah kesalahan fatal dan persepsi yang ngawur tentang pembinaan. Tindakan sadis tersebut mengabaikan fungsi polri sbg pelayan, pelindung, pengayom dan pelaku penegakan hukum yang promoter,” terang Neta. “Bagaimana yang bersangkutan bisa menjadi polisi yang promoter dalam melayani masyarakat wong kepada sesama anggota polri sendiri saja bisa bersikap sadis, bengis dan tega melakukan penyiksaan,” tambahnya. Untuk itu sesuai dengan Undang-undang, Neta meminta pelaku harus diproses secara hukum dengan pasal berlapis yang antara lain pasal yang mengatur tentang penyiksaan. “Sikap pelaku yang sadis dan bengis menjadi bukti nyata ybs tidak pantas lagi menjadi anggota polri dan institusi polri harus segera memecatnya. Begitu juga Kapolres yang menjadi atasan pelaku harus segera dicopot karena membiarkan pelaku berbuat sadis, bengis dan semena-mena di halaman polres,” tegas Neta. Bagaimanapun, lanjut Neta kasus seperti ini dimana anggota polri bertindak sadis dan bengis melakukan penyiksaan, terutama di lapangan terbuka tidak boleh terulang lagi. “Tindakan sadis itu hanya akan menunjukkan bahwa polri yang promoter hanya sebuah isapan jempol belaka,” pungkas Neta.(smngtnews/monitor.coid)