CARA SEISUK… (1)

by -

Oleh Tan Ambo

1.Cerita ini tentang masa 60 – 70 tahun lalu. Zaman seisuk. Sangkat itu Tek Baya belum dikenal. Karena Tek Baya saat ini digambarkan sebagai pedusi berumur 40-50an tahun.
Tua benar alun, muda alah terlampau. Dan kalaupun masih ada pedusi sangkat dulu itu nan masih hidup saat ini, pantasnya diimbau Andung Baya lagi.

2.Zaman itu masa sebelum terjadinya PRRI, orang dikampung menyebutnya sebelum zaman bergolak. Pergolakan itu sendiri terjadi diakhir tahun 1955. Semasa itu kehidupan di masyarakat sangat tenang,damai. Saya sering diajak ranggaek ikut dengannya menggalas pasar ke pasar. Ada beberapa pasar yg bergilir dikunjungi.

Hari Minggu ke Pasar Tandikat, Senin ke Sicincin, Rabu di Sungai Sarik, Kamis ke Pakandangan, Jum’at ke Koto Mambang dan Sabtu ke Ampalu. Sedang saya sendiri tinggal di Korong Buluh Kasok negari Sugai Sarik VII KOTO Pariaman.

3.Pasar itu ada disetiap negari. Penduduk di negari itu belanja keperluannya cuma sekali seminggu,ketika hari pasar itu. Membeli nan kedisambal lauk kering, kentang ,lado, bawang, garam dsb. Termasuk juga gula,kopi dan teh. Tempe jo tahu belum dikenal sangkat itu. Karena belanja sekali dalam seminggu pasar sangat ramainya , puncaknya antara pukul 10.00 sampai 13.00.

4.Berjual beli di pasar di zaman seisuk itu tidak seperti sekarang, terutama menyangkut etongan takarannya. Penjual dagangan seperti bawang, lado, kentang mengakar galasnya dihamparan plastik. Dijual dalam ukuran onggok (ungguk).Ada nan onggok besar jo onggok kecil. Barang nan dijual dibungkus jo daun kerisik. Garam halus belum ada, baru ada garam keras dalm cetakan. Dijual per petak.


Kalau padi dijual jo ukuran sukat, beras dijual per gantang. Untuk penjualan banyak etongannya sumpik. Kain dijual dlm ukuran yard (90 cm) dan heto (hasta). Ada lagi nama ukuran mato jo takik. Walau saat itu kilo jo liter sudah dikenal, untuk barang nan ditimbang ada etongan per mato (=ons). Sedang minyak goreng dietong pertakik(?).

Sayuran berupa bawang perai, serai, jo seledri dijual per kebat (ikat).
Orang menggalas atau pedagang saat itu lebih jujur dalam berjual beli, karena tidak ada mempermainkan timbangan seperti nan mungkin saja bisa terjadi saat ini…

5.Dalam rumah tangga ada juga etongan sendiri. Misalnya bertanak nasi banyaknya 5 tekong. Nan dijadikan tekong umumnya bekas kaleng susu. Jadi indak menyebut liter. Ada pula sebutan sepinjik untuk benda yg halus dan berupa bubuk seperti untuk lado giling, merica, vanili jo garam nan lah digiling halus.
Takah tu lah dulu..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.