Cerita Puan Maharani, Dari Dikritik Saat Pilkada Sumbar Karena Ucapan Hingga Dipuji Kenakan Pakaian Bundo Kanduang

by -
Ketua DPR RI, Puan Maharani. (Foto: Dok. DPR RI)
Ketua DPR RI, Puan Maharani. (Foto: Dok. DPR RI)

SEMANGATNEWS.COM – Ketua DPR RI, Puan Maharani mengenakan pakaian kebesaran khas Minangkabau, Tingkuluak Balenggek dalam peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-76 di Istana Merdeka, Jakarta. Hubungan panas dinginnya dengan Sumatera Barat (Sumbar) pun kembali diungkap.

Tingkuluak Balenggek merupakan pakaian khas adat dari Lintau, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Biasanya, kostum ini dipakai dalam acara adat dan pengukuhan gelar datuak kepada seorang tokoh.

Selain pakaian Tingkuluak Balenggek yang digunakan Puan, tersimpan juga cerita lain dari cucu proklamator, Ir Soekarno tersebut.

Jauh sebelum ini, Puan sempat menimbulkan pro-kontra lantaran pernyataannya yang menyampaikan harapannya agar Sumatera Barat (Sumbar) bisa menjadi daerah yang mendukung Pancasila.

Hal tersebut ia sampaikan saat mengumumkan cagub-cawagub dalam Pilkada Sumbar tahun 2020 silam.

Pada waktu itu, Puan yang merupakan Ketua Bidang Politik dan Keamanan PDIP merekomendasikan pasangan Mulyadi dan Ali Mukhni untuk maju dalam Pilgub Sumbar.

Dalam sambutannya tersebut, puan mengucapkan agar Sumbar bisa menjadi provinsi yang memang mendukung negara Pancasila.

Sejumlah reaksi pun bermunculan, terutama dari Anggota DPD RI asal Sumbar, Alirman Sori yang mempertanyakan maksud dari Puan berkata demikian.

Dilansir dari dw.com, ideologi Pancasila sudah final dan tak bisa dipertanyakan lagi, apalagi sampai melibatkan suatu daerah.

“Apa maksudnya semoga Sumbar menjadi pendukung Pancasila?,” tanya Alirman.

 

Ketua DPR RI, Puan Maharani kenakan pakaian Bundo Kanduang, Tingkuluak Balenggek asal Lintau, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar) dalam upacara kemerdekaan RI ke-76. (Foto: Dok. Istimewa)
Ketua DPR RI, Puan Maharani kenakan pakaian Bundo Kanduang, Tingkuluak Balenggek asal Lintau, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar) dalam upacara kemerdekaan RI ke-76. (Foto: Dok. Istimewa)

Sementara, Anggota DPR RI Komisi II dari daerah pemilihan (dapil) Sumatera Barat (Sumbar) II, Guspardi Gaus kecewa dan mengimbau Puan meminta maaf atas pernyataan tersebut.

“Jadi saya merasa prihatin kecewa terhadap statement yang dikeluarkan oleh Ibu Puan Maharani yang notebenenya beliau adalah pejabat negara. Tidak hanya pejabat negara, tapi juga Ketua DPR RI dan petinggi partai,” kata Guspardi di kompleks parlemen pada Kamis (3/9).

Putra daerah asal Sumbar ini meminta Puan untuk lebih berhati-hati dalam memberikan pernyataan ke publik. Jangan sampai sebuah pernyataan menimbulkan kegaduhan publik.

Usai gaduh dengan pernyataannya tersebut, perempuan yang bernama lengkap Puan Maharani Nakshatra Kusyala Devi berusia 47 tahun tersebut kembali tampil dengan melibatkan Minangkabau.

Namun, kali ini dia tidak mengeluarkan pernyataan kontroversial lagi. Melainkan menggunakan pakaian adat khas Ranah Minang, yakni Tingkuluak Balenggek yang merupakan pakaian kebesaran Bundo Kanduang.

Busana yang berasal dari Lintau, Kabupaten Tanah Datar itu dipakai Puan pada saat peringatan kemerdekaan RI yang ke-76 di Istana Merdeka, Jakarta pada Selasa (17/8/2021). Puan juga didapuk untuk membacakan naskah teks Proklamasi.

Diapresiasi Bupati

Pakaian yang dikenakan oleh Puan juga mendapat apresiasi dari Bupati Tanah Datar, Eka Putra.

Eka Putra mengatakan bahwa tutup kepala yang dipakai Ketua DPR Puan Maharani ketika membacakan teks proklamasi merupakan salah satu pakaian adat di Kabupaten Tanah Datar.

“Khusus tutup kepala itu adalah tingkuluak balenggek, khas Lintau, Tanah Datar,” ujarnya.

Ketua DPR RI, Puan Maharani. (Foto: Dok. Sekretariat Presiden)
Ketua DPR RI, Puan Maharani. (Foto: Dok. Sekretariat Presiden)

Eka Putra mengapresiasi Puan Maharani yang telah memakai pakaian adat Tanah Datar.

“Mbak Puan itu berdarah Minang, ayahnya berasal dari Nagari Sabu, Tanah Datar. Bisa jadi, itu adalah bentuk ikatan emosional beliau dengan Tanah Datar. Wajar beliau memakai pakaian Tanah Datar,” kata Eka Putra.

Di sisi lain, menurut Eka, dipakainya tingkuluak balenggek oleh Puan Maharani telah membantu mempromosikan pakaian adat Tanah Datar.

“Terimakasih dan semoga hal ini membuat pakaian adat yang ada di Tanah Datar bisa dilestarikan dan semakin dikenal,” imbuhnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.