Cilegon dan Beban Takhta “Dolar” yang Timpang: Catatan Firdaus
SEMANGATNEWS.COM. Menaruh harapan pada pundak pasangan Robinsar dan Fajar Hadi Prabowo bukanlah sekadar menitipkan mandat elektoral, melainkan menyerahkan sebuah paradoks besar. Memimpin Cilegon memang nampak ringkas secara administratif—luasnya hanya sekitar 175,5 kilometer persegi—namun kompleksitas di dalamnya adalah labirin yang menguras energi.
Cilegon bukan sekadar kota; ia adalah mesin raksasa nasional. Di sini, berdiri ratusan industri manufaktur dan kimia serta belasan Terminal Khusus (Tersus) atau pelabuhan mandiri yang menjadi urat nadi logistik. Secara statistik, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Cilegon seringkali menduduki peringkat teratas di Provinsi Banten, namun, angka mentereng itu hanyalah kosmetik jika kita menilik realitas di gang-gang sempit di balik cerobong pabrik. Ketidakadilan terasa nyata dalam wujud kesenjangan yang tajam. Di tengah kepungan industri berat, angka pengangguran terbuka (TPT) di Cilegon seringkali masih menjadi ironi—bertengger di angka yang cukup tinggi dibandingkan rata-rata nasional, yakni berkisar di angka 7-8%. Ada diskoneksi antara kebutuhan industri dengan serapan tenaga kerja lokal, ditambah dengan penurunan daya beli masyarakat akibat tekanan ekonomi global yang kian menghimpit. Siapapun yang duduk di kursi pimpinan wajib menyadari bahwa tugas utama bukan hanya membangun infrastruktur, melainkan meruntuhkan tembok kesenjangan.
Tantangan globalisasi menuntut pemimpin yang tidak gagap teknologi, namun tetap membumi dalam kebijakan proteksi ekonomi kerakyatan.
Kita patut optimis. Di tangan pemimpin muda, ada harapan akan lahirnya solusi futuristik yang segar.
Anak muda biasanya memiliki kecepatan dalam mengeksekusi inovasi. Namun, ada satu jebakan yang harus dihindari: arogansi masa muda.
Agar kesinambungan budaya dan historis tetap terjaga, duet pemimpin ini tidak boleh alergi terhadap kritik. Mendengar suara dari para sesepuh, aktivis, hingga buruh pabrik bukanlah tanda kelemahan, melainkan navigasi agar kebijakan tidak keluar dari rel kearifan lokal.
Teruslah bergerak, anak muda. Di pundak kalian, masa depan kota industri ini dipertaruhkan. Jangan biarkan Cilegon hanya menjadi saksi kemakmuran para pemodal, sementara warganya hanya mendapat bagian debu dan sisa polusi.( Ketum SMSIPusat)
(Selamat Ulang Tahun Ke-27, Kota Cilegon, Kami Akan Terus Mencintaimu)

