Jakarta, Semangatnews.com – Nasib tragis harus diterima Leicester City setelah dipastikan terdegradasi ke kasta ketiga sepak bola Inggris. Hasil imbang 2-2 melawan Hull City menjadi penutup harapan mereka bertahan di Championship musim ini.
Kepastian degradasi ini terasa semakin menyakitkan karena terjadi tepat satu dekade setelah klub tersebut mencetak sejarah sebagai juara Premier League 2015/2016. Kisah dongeng yang dulu menginspirasi dunia kini berubah menjadi tragedi besar.
Hasil imbang tersebut membuat Leicester tak lagi mampu mengejar zona aman klasemen. Dengan hanya dua pertandingan tersisa, selisih poin menjadi mustahil untuk dikejar.
Degradasi ini juga diperparah oleh sanksi pengurangan enam poin akibat pelanggaran aturan keuangan. Hukuman tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat kejatuhan tim berjuluk The Foxes.
Secara performa, Leicester memang tampil buruk sepanjang musim. Mereka hanya meraih satu kemenangan dalam rentang panjang pertandingan, menunjukkan krisis konsistensi yang serius.
Padahal, dalam satu dekade terakhir, klub ini sempat merasakan masa keemasan. Selain juara liga, mereka juga pernah menembus perempat final Liga Champions dan memenangkan Piala FA pada 2021.
Namun, penurunan performa terjadi secara bertahap sejak beberapa musim terakhir. Pergantian pelatih yang berulang serta kebijakan manajemen yang tidak stabil turut memperburuk situasi.
Tak hanya di dalam lapangan, masalah finansial juga menghantui klub. Pelanggaran aturan keuangan serta beban gaji pemain yang tinggi membuat kondisi semakin sulit.
Reaksi suporter pun tak terelakkan. Banyak fans yang meluapkan kekecewaan mereka terhadap manajemen klub yang dinilai gagal mempertahankan stabilitas tim.
Kini, Leicester harus bersiap menghadapi realitas baru di EFL League One musim depan. Ini menjadi salah satu kejatuhan paling drastis dalam sejarah sepak bola Inggris modern.
Kisah Leicester menjadi pengingat bahwa kejayaan di sepak bola tidak selalu abadi. Dari puncak tertinggi, mereka kini harus memulai kembali dari bawah untuk bangkit.(*)

